Minggu, 31 Juli 2011

O’ CHILDREN OF ISRAEL


“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.”
( QS. Al-Baqarah, 2: 47)

“Barat terlalu berlebih-lebihan demi mengalihkan perhatian dari teror dan kejahatan para petinggi Israel terhadap bangsa Palestina yang terjadi secara terencana dan terukur.”
—Edward W. Said

 O’ CHILDREN OF ISRAEL  

06 June 2010—Anti-Yahudi, Anti-jewish! Ah, terdengar terlalu rasialistis. Bagaimana kalau Anti-Zionist saja? Lho, bukannya penganut Zionisme itu orang-orang Yahudi? Ya, tapi tidak semua orang Yahudi menganut paham sialan itu. Noam Chomsky, Godspeed you! Black Emperor, Black Ox Orkestar, mereka berdarah Yahudi tetapi dengan tegas mengharamkan paham Zionisme. Hahaha, mengharamkan, kaya MUI saja. Ada juga Rabbi-Rabbi Yahudi yang menentang paham Zionisme, dan mengharamkan juga pendirian Negara Israel di palestina. Ya, tapi hanya sebagian kecil sajakan? Dan sebagian besarnya? Lihat saja di peta, wilayah Palestina semakin menyusut!

“Orang Yahudi sialan itu melihat wanita seperti Tanah Yang Dijanjikan…” Tulis Ernest Hemmingway’s dalam The Sun Also Rises. Ada sebuah tradisi yang mengakar kuat; sebuah kontra-humanisme yang bersifat rasialis. Sebagian besar Negara Eropa Timur menganggap Bangsa Yahudi sebagai musuh bersama. Borat dan kawannya yang tak kalah tololnya itu ketakutan setengah mati ketika mengetahui tuan rumahnya adalah seorang Yahudi tulen. Lalu Hitler di-mitos-kan dengan legenda Genocida, dan Ataturk pun membumi-hanguskan kerajaan Ottoman; Kerajaan Inggris dengan dinasti Hanover binaan agen-agen Yahudi berhasil menundukan Tanah Palestina. Christopher Columbus dengan salib merahnya berhasil menemukan kembali benua Amerika; lalu George W. Bush meruntuhkan menara kembar demi pemenuhan ritual Masonic di ujung millennia Pisces—The New World Order pun bukan retrorika belaka.

Adalah Abraham atau Ibrahim, yang hijrah dari tanah pagan Babylonia ke arah timur. Mencari kedamaian dan penerimaan akan kalam Illahiah yang sepenuhnya tanpa ilah-ilah ritual paganisme. Ibrani, adalah sebutan pertama bagi Nabi Ibrahim dan para pengikutnya. The Father of Monotheism wafat di tanah Kana’an—Jerusalem. Nabi Ishak meneruskan kepemimpinannya hingga ia pun wafat, dan Nabi Yakub pun mewarisi mahkota kenabian dari pendahulunya.

Ketaatan dan kesabaran yang luar biasa dari Nabi Yakub melahirkan sebuah gelar: Israel. Yang berarti, Dia Yang Dekat Dengan Tuhan, atau Hamba Yang Tuhan Cintai. Mereka kemudian dikenal sebagai bangsa  Israel, yang artinya anak-cucu Israel (Yakub). Hingga beberapa tahun kemudian, Yahuda, salah seorang anak Yakub mempunyai keturunan yang paling banyak di antara saudara-saudaranya. Sehingga anak-cucu Yakub sepakat untuk  meleburkan diri ke dalam keluarga/marga Yahuda. Dan sejak saat itu, bangsa Ibrani, Bangsa Israel dikenal juga dengan sebutan bangsa YAHUDI.

Yakub dan ke-12 anaknya atas anjuran Nabi Yusuf—yang merupakan anaknya sendiri—kemudian hijrah dari tanah kana’an ke negeri Mesir. Beberapa generasi selanjutnya bangsa Yahudi hidup sejahtera di tanah Mesir hingga rotasi Pharaoh berhenti pada siklus Pharaoh yang sangat membenci bangsa dan agama Yahudi. Ia menginginkan restorasi total atas agama yang ia anut: paganisme hereditasi  tanpa campur tangan monotheisme modern ala Nabi Ibrahim. Demi terlaksananya agenda tersebut, Pharaoh menindas bangsa Yahudi agar mereka merasa terhina dan tersiksa; dan segera mengeyahkan diri dari tanah Amon Ra, Isis, dan Horus.

Mimpi itu datang dalam tidur sang Pharaoh, seorang anak Yahudi menbunuh dan menghancurkan kerajaannya. Ia tidak tinggal diam setelah Dewan Magi menubuatkan kenyataan dari mimpi tersebut. Semua bayi Yahudi dan non-Yahudi pun ia bunuh. Kecuali satu, Moses atau Musa. Ia berhasil lolos dan menjadi anak angkat Pharaoh sendiri atas keinginan istrinya. Siapa yang bisa menolak keinginan perempuan? Revolusi terjadi. Sang anak membangkang! Dialah Musa, seorang monotheis yang menolak bersujud pada sederet patung-patung tak bernyawa.

Pengusiran terhadap dirinya adalah sebuah illuminasi illahiah, suatu pengalaman transedental yang dirasakan oleh para Darwis sebagai sebuah ekstase. Menyambungkan benang merah dari para pendahulunya. Musa kembali ke negeri Mesir untuk membebaskan kaumnya. Ia berhasil. Laut merah terbelah. Nubuat terpenuhi. Bangsa Yahudi terbebas. Musa menjadi khalifah bagi bangsanya, Yahudi.

Tuhan berkata: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik" (2:58). Selama perjalanan menuju tanah yang dahulu Yakub tinggalkan, mereka banyak mengeluh, meminta banyak hal bahkan mengumpat Tuhan dan berharap untuk kembali ke negeri Mesir.

Penerimaan akan ritus-ritus paganisme telah melebur kedalam sebagian besar spiritualisme bangsa Yahudi. Ketika Musa berkhalawat di puncak Sinai, mereka menyembah anak sapi. Harun tidak dapat berbuat banyak. Musa dengan Sepuluh Perintah Tuhan-nya berada di tapal segala kesabaran. Ia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”(2:54). Musa wafat dengan pemandangan Tanah Yang Dijanjikan. “Seorang Nabi menyerukan, “Kita harus sampai di negeri yang diberkati dan dijanjikan!” Pada saat itu gurun pasir tertawa”. Tulis Goenawan Muhammad.

Yusak, menjadi raja pertama bangsa Yahudi setelah menaklukan Tanah Yang Dijanjikan. Kemudian Saul serupa dengan legenda Arthur menjadi penerus Yusak, dan kejayaan Bangsa Yahudi menjelma setelah Daud memenggal kepala Goliath; Ia menjadi Raja dan lambang kerajaannya dipakai hingga hari ini oleh bangsa Yahudi: THE STAR OF DAVID. Solomon menerima lebih dari sekedar nubuat apokalisptik; ia seorang raja-pendeta yang dianugrahi berbagai macam kelebihan yang melebihi masanya.

Para iblis menemukan tongkat Solomon tak bertuan; mereka, anak-cucu Yakub terpecah ke dalam dua Negara: Israel dan Judea. Anak-cucu Yakub kembali mabuk ritus-ritus paganisme yang dahulu dibungkam oleh para Perisalah. Dan kembali mereka terjajah: janji Tuhan kepada mereka yang berpaling mewujud kepada sebilah pedang Raja Sargon dari Assyria. Nebukhadnezzar melumat bait Allah dan menghancurkan kemurniaan nubuat puncak Sinai. Pedang Namrud pun tidak ingin kalah. Lalu Cyrus dari Persia datang dan membawa harapan akan sebuah restorasi dari keruntuhan Bait-Allah. Bangsa Makedonia merebut tambuk kepemimpinan, dan Bangsa Yahudi kembali terjajah hingga bangsa Romawi Berjaya dan mengotonomisasikan Tanah Yang Dijanjikan. Namun tetap  mereka (bangsa Yahudi) berlabel: bangsa yang terjajah.

Bangsa Yahudi kembali harus berkompromi dengan budaya-paganisme hellenistik yang dibawa oleh bangsa Romawi. Janin Talmud dan risalah Kabbalah kembali terlahir sebagai ajaran baru yang menggusur esensi puncak Sinai. Musa merisalahkan tentang datangnya seorang pembebas setelah dirinya. Seorang Messiah baru yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari keterjajahan. Namun yang terjadi, mereka membunuh para Perisalah yang menyampaikan kembali esensi ajaran Musa; karena bertentangan dengan Talmud dan Kabbalah.

Sebuah konspirasi dilakukan untuk menyalib seorang keturunan Daud yang datang untuk menggenapi ajaran Musa; namun ia yang diberkati Rohul Kudus berhasil meloloskan diri dan melanjutkan risalah Illahiah pada setiap negeri yang ia singgahi. Mega-diaspora terjadi ketika kemurnian ajaran Yesus ter-alegorisasi-kan paganisme bangsa Romawi oleh seorang Yahudi dari Tarsus. Kemudian mereka bertebaran di berbagai negeri sebagai benalu yang kotor hingga berabad lamanya. Mereka kembali terusir dari tanah kana’an, tanah Jerusalem, negeri Palestina, tanah para nabi.

Tanah Yang Dijanjikan berada dalam penguasaan bangsa dari Messiah yang dirisalahkan oleh Musa—jika saja mereka tidak dibutakan oleh kesombongan dan keangkuhan diri mereka sendiri, maka mereka, bangsa Yahudi akan melihat saudara mereka sendiri, seorang keturunan Abraham lainya yang menjadi cahaya bagi semesta: seorang pengganti Musa, Sang Messiah yang mereka tunggu-tunggu berabad lamanya.

Dari sejarah yang panjang dan memilukan itulah, bangsa Yahudi kemudian menjadi bangsa yang mampu bertahan dalam kondisi dan situasi apapun. Mereka memiliki banyak kelebihan. Terutama dalam bidang finansial. Dendam bangsa Yahudi sangat besar. Bayangkan saja, mereka terjajah dan terusir dari negaranya selama berabad-abad; hidup dalam pengasingan yang tidak selalu menerima keberadaan mereka. Atas dasar semua perlakuan yang mereka terima inilah kemudian para elite Yahudi membentuk sebuah dewan yang mengkoordinir agenda-agenda mereka untuk menaklukan dunia dan merampas kembali Tanah Yang Dijanjikan melalui sebuah ideologi yang diutarakan oleh Theodore Hertzl dalam kongres Yahudi di Bassel, Swiss pada tahun 1897: ZIONISME. Dan akhirnya, Pada tahun 1948, bangsa Yahudi berhasil merebut tanah Palestina atas bantuan Kerajaan Inggris yang, memang, telah dikuasai oleh agen-agen Yahudi.

Mereka berada di belakang plot terlaknat di dunia, kata Homicide. Sejarah memang tidak mencacatnya. Tapi kita bisa mencari kebenaran dan bukan pembenaran ala agen-agen Yahudi-Zionist tersebut. Kartel-kartel haram dari para Yahudi-Zionist mewujud kedalam keseharian kita dalam berbagai bentuk: mulai dari organisasi berkedok kemanusiaan, multi-korporatisasi serta liberalisasi-indivudual yang nyata-nyata adalah sebuah omong kosong besar tentang keagungan kebebasan individu! Agenda-agenda Zionisme mulai membentuk tatanan yang sedikit demi sedikit menyempurnakan serpihan-serpihan dari puncak piramida satu dollar. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah jujur kepada diri kita sendiri. Akuilah, bahwa dunia kita sekarang adalah sebuah dunia imaji-illusif yang dikonstruksikan dan dikontrol secara penuh oleh para elite Yahudi-Zionist demi tercapainya agenda mereka: THE NEW WORLD ORDER yang bertahta di kota suci Jerusalem.

Segitiga bermata satu senantiasa mengawasi apapun yang terjadi di dunia ini. Siapapun atau apapun yang menghalangi akan mereka bungkam hingga perut neraka berjejal dengan suara-suara kebenaran. Namun orang-orang seperti Widji Thukul akan selalu ada, suara-suara itu tidak bisa dibungkam! Kematian para martir di tanah Palestina tidak akan menciutkan nyali para pejuang lainya. Kita, manusia berasal dari satu ibu, dan kedamaian akan tercipta jika saja kita mau mengenyahkan prinsip-prinsip biologis Darwinian yang tidak masuk akal itu. Mengimani kembali esensi manusia sebagai sebuah organisme tunggal: menerima manusia lain-nya sebagai saudara dalam arti yang sesungguhnya bukan semata literal post-mortem Nazi, KKK dan Mussolini.

René Girard mengajukan satu teori yang terkenal: “Pada mulanya adalah kelimun, kemudian terjadi korban, dan kekerasan pun diberi dalih. Pembunuhan tampak halal, mitos lahir, dan kebudayaan mulai…” Bagi saya, kejahatan yang dilakukan oleh mereka (Yahudi-Zionist) tidak hanya kejahatan atas sebuah bangsa (Palestina) melainkan kejahatan atas seluruh umat manusia. Bangsa Yahudi mencita-citakan sebuah Negara yang berkebudayaan-Abrahamik,  namun pada kenyataannya bercampur dengan bau amis darah dari saudaranya sendiri.

Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat ” (2:85). Dan ingatlah janji Tuhan-mu, wahai Bani Israel!

Word: Lingga A. Partawijaya

Repertoire:
1.       Dälek – Spiritual healing
2.       Black Ox Orkestar – Az vey dem tatn
3.       Harry Gregson-Williams – To Jerusalem
4.       Adhamh Roland – The Preacher, the Rabbi, and the Slave
5.       Russian Circles  – When The Mountain Comes To Muhammad
6.       Godspeed You! Black Emperor – Providence
7.       Orphaned land – Norra El Norra  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar