KISAH JYOTI DAN PRABU JAYADEVATA
Pilar-pilar bumi bergetar ketika Prabu Jayadevata memimpin ratusan juta balatentara harimaunya melintasi sungai Indus. Derap langkah mereka melahirkan gemuruh yang membelah kesunyian alam semesta. Panji-panji kerajaan membungbung tinggi ke angkasa seakan-akan menantang langit. Umbul-umbul kerajaan bergelombang perlahan bagaikan tarian yang dikendalikan oleh angin. Sang Prabu dengan busana tempurnya yang bercahaya menaiki sebuah kereta kencana yang ditarik oleh sepuluh ekor harimau putih. Konon, harimau-harimau putih itu adalah penjelmaan para dewa yang ditaklukan sang Prabu ketika ia mengkudeta Batara Indera dan membumi hanguskan Swargaloka.
Di atas bukit, di bawah langit senja yang kemerah-merahan. Jyoti seorang pemuda kurus namun memiliki wajah yang cemerlang bak rembulan melihat balatentara Prabu Jayadevata mengalir deras bagaikan lidah-lidah api yang bergumpal ke tepi sungai. Lidah-lidah api yang begitu indah sekaligus mengerikan. Sejenak Jyoti begitu terpesona. Lalu ia ingat akan desanya terletak beberapa puluh meter dari tepi sungai. Jyoti berlari menuruni bukit secepat mungkin untuk memeringati penduduk desa. Namun ia terlambat. Gelombang pertama balatentara harimau Prabu Jayadevata memasuki desanya bagaikan awan hitam kematian. Penduduk desa menjerit ketakutan. Mereka berlarian serupa ngegat yang linglung mencari sumber cahaya. Ada pula diantara mereka yang memilih untuk melawan dengan apa saja yang bisa dijadikan sebagai senjata. Dan alangkah sia-sia saja usaha mereka. Harimau-harimau itu menerkam, mencabik-cabik, mengoyak-ngoyak, dan meraung begitu keras sehingga jerita putus asa para penduduk desa itu tenggelam ke dalam genangan darah mereka sendiri.
Jyoti terperangah melihat pembantaian yang terjadi di desanya. Lalu ia menoleh, jantungnya berdegup keras sementara tubuhnya membeku ketika seekor harimau berlari kearahnya. Sebuah trisula melesat sambil mengeluarkan nyala api dan menghujam tubuh harimau itu ketika Jyoti hendak diterkamnya. Harimau itu tersungkur dan meronta-ronta dalam kobaran api yang memburu sisa-sisa kehidupannya. Jyoti mundur beberapa langkah. Seorang ksatria tua berbusana darwis menarik tangannya ke atas sebuah vimana. Benda yang mirip piring terbang itu melayang-layang di atas desa. Air mata mengalir tanpa isyarat. Lidahnya kelu sekalipun untuk mengkisahkan kesedihannya. Di atas vimana, Jyoti melihat desanya bak pekuburan masal yang tak bentuk rupa. Ksatria tua berbusana darwis itu menepuk-nepuk bahu Jyoti, mengisyaratkan rasa belasungkawa yang teramat dalam. Ribuan balatentara harimau Prabu Jayadevata melaju bagaikan air bah yang menyapu dan membinasakan apa pun yang masih tersisa. Desa itu rata dengan tanah ketika mereka melanjutkan perjalanan yang menebarkan kematian.
Senja mendadak kelabu. Langit begitu muram tertutup mega-mega yang mengandung kesedihan. Guntur menderu dan mengelegar, kilat menyambar dan memermainkan cahaya yang timbul tenggelam. Angin menguncang-guncang pepohonan dan merontokan daun-daun. O, tangisan pun menjelma menjadi butiran-butiran air yang seakan-akan menziarahi bumi dalam bentuk hujan. Vimana itu melesat dengan kecepatan cahaya. Membawa Jyoti dan ksatria tua berbusana darwis itu mengarungi cakarawala. Membelah gumpalan awan yang basah dan muncul di atas kehangatan sang mentari senja. Vimana itu membawa mereka mendekati sebuah negeri. Negeri Syam, Negeri Matahari yang memiliki menara-menara indah yang menjulang tinggi ke angkasa.
Jyoti memandang ksatria tua itu dan berkata, “Terima kasih telah menyelamatkanku. Namun siapakah engkau? Dan di manakah kita berada?” Ksatria tua itu membungkuk dan memerkenalkan dirinya, “Wahai tuan, namaku Hallaj. Aku adalah panglima Kerajaan Syam. Dan engkau berada di atas negeri Syam, negeri milik ayahmu. Karena wasiat ayahmulah aku membawamu pulang untuk memenuhi takdirmu.” Jyoti bingung bukan main, “Aku hanyalah seorang penggembala yatim piatu di sebuah desa kecil. Bagaimana mungkin aku memiliki ayah seorang raja?” Hallaj menggengam tangan Jyoti, “O, tuan, rajah matahari di tanganmu inilah kebenaran ucapanku.” Jyoti melihat tangannya dan ia pun sadar. Telah lama ia mencari asal usul rajah itu. Dan kini semuanya telah terjawab walaupun diluar semua dugaannya.
Benteng dan menara-menara negeri Syam berdiri tegak ratusan meter ke angkasa. Karena senja, bayangan benteng dan menara-menara itu seolah-olah kaki-kaki raksasa yang terpasung di dalam perut bumi. Dari atas terlihat jelas bahwa tata kota kerajaan Syam berbentuk segi lima dengan menara di setiap pojoknya. Pintu gerbang utama kota terbuat dari besi pilhan yang teramat kuat berlapis emas putih berlambangkan matahari. Namun ada kesibukan yang terjadi. Para pemanah bersiap-siap pada setiap pojokan menara. Ratusan pasukan berkuda berbaris dengan tombak-tombak panjangnya yang menghunus ke arah timur di luar pintu gerbang utama. Pasukan infantri membentuk sebuah formasi segitiga yang dipimpin oleh seorang ksatria berbadan tegap. Mereka nampak tegang. Kegelisahan nampak jelas seiring suara gemuruh yang mulai terdengar.
Jyoti melihat pemandangan di bawahnya dan mengerutkan dahinya, “Hallaj, apakah negeri Syam ini bersiap untuk berperang melawan balatentara Prabu Jayadevata yang mengerikan itu? Dan jika semua ucapanmu benar adanya. Lalu apalah gunanya aku ini yang hanya seorang penggembala tanpa ilmu apapun?” Hallaj mengagguk, “Ya, kita akan berperang. Dan engkau akan menjadi juru selamat bagi seluruh penduduk negeri Syam. Engkau sangatlah berguna.” Jyoti mengaruk-garuk kepalanya, “Berguna apanya? Jika saja bukan karena engkau, aku sudah mati dimakan harimau itu. Dan, di manakah sang raja, ayahku?” Hallaj tertunduk lesu, “Tenanglah, jika sudah waktunya engkau akan mengerti. Sang raja telah wafat beberapa hari yang lalu ketika banteng Kujata kiriman Prabu Jayadevata berusaha untuk menghancurkan negeri ini. Ia wafat sebagai martir.”
Jyoti memandang kosong, “Alangkah malangnya nasibku ini. Desaku telah rata dengan tanah dan ayahku wafat sebelum aku pernah mengenalinya. Dan ibuku, Hallaj, di manakah ibuku?” Hallaj semakin tertunduk, “Ibumu, ibumu wafat ketika ia melahirkanmu. Pada waktu itu, karena peperangan antar suku di negeri Syam, engkau dilarikan atas perintah ayahmu ke sebuah desa di tepi sungai Indus, dan atas perintah ayahmu pula, dua puluh tahun setelah engkau dilarikan aku harus membawamu pulang.” Jyoti tak kuasa menahan kesedihan, “Tapi mengapa harus selama ini Hallaj!” Hallaj memenangkannya, “Aku pun tak tahu. Ini semua kehendak ayahmu dan hanya sang Pencipta yang mengetahui alasannya.”
Vimana yang berbentuk oval dengan ukiran-ukiran yang melambangkan kegagahan burung Garuda itu menari-nari di atas awan dengan lembutnya, lalu melesat meninggalkan negeri Syam dan akhirnya berhenti di atas sebuah bukit. Jyoti bingung, “Mengapa kita meninggalkan negeri Syam?” Hallaj tersenyum lalu menggemgam tangan Jyoti, “Inilah saatnya, maka terbukalah wahai kekuatan semesta!” Rajah di tangan Jyoti bersinar, sinar itu menjalar dan menelan tubuhnya dalam cahaya putih yang menyilaukan. Jyoti terlempar ke dalam sebuah ruang yang tak berwaktu. Ia di kelilingi para ksatria yang memberinya berbagai macam astra. Dilatihnya Jyoti untuk bertempur. Setelah itu ia diajari oleh para guru dari berbagai zaman tentang rahasia semesta. Jyoti menelan semua pelajaran itu, menjadikannya seorang ksatria sekaligus seorang yang bijaksana. Waktu terasa berabad lamanya di ruang yang tak berwaktu itu sementara balatentara Prabu Jayadevata semakin mendekat.
Jyoti dibuat berlutut oleh kehadiran seorang darwis yang bercahaya bagaikan ribuan matahari, darwis itu memberkati Jyoti dengan tangannya dan berkata, “Semua ilmu yang telah engkau miliki akan sangat percuma jika engkau belum memahami cinta.” Dan seketika itu juga Jyoti membuka mata. Hallaj nampak tenang ketika Jyoti tersadar, “Ah, selamat datang kembali tuan, engkau kini telah siap untuk menghancurkan kejahatan Jayadevata atas dunia ini.” Jyoti, antara kesadaran dan ketidaksadaran memegang bahu Hallaj dan berkata, “O, Hallaj, semua yang telah aku lalui terlampau nyata untuk sebuah mimpi. Aku seakan terlahir kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Cinta, darwis itu berbicara perihal cinta. Apakah cinta itu wahai Hallaj yang bijak?” Hallaj hanya tersenyum, “Ya, aku telah membuka sumber kekuatan yang diwariskan oleh ayahmu melalui rajah matahari ditanganmu itu. Perihal cinta, engkau harus mencari jawabannya dengan segenap ilmu yang telah engkau miliki.”
Gemuruh terdengar semakin memekakan telinga, bayang-bayang kematian berkelebatan dalam debu-debu yang bertebaran bagaikan badai diakhir zaman. Prabu Jayadevata dan ribuan balatentara harimaunya telah menampakan diri. Derap langkah mereka terdengar seperti terompet kematian. Pasukan negeri Syam nampak gentar. Keheningan melukiskan kecemasan yang nyata pada wajah mereka. Keputusasaan tergambar begitu jelas. Ketika itu sebuah vimana menukik turun dengan kecepatan penuh. Jyoti dan Hallaj turun dari atas vimana dengan kecemerlangan yang membangkitkan semangat juang mereka, “Sang mentari telah menjelma menjadi pemimpin baru kalian. Janganlah kalian merasa putus asa. Sambutlah raja baru kalian, raja Jyoti yang perkasa lagi bijaksana.” Secara serentak, pasukan negeri Syam bersukacita mendengar kabar yang disampaikan oleh Hallaj. Keriuhan yang mengembirakan itu membuat balatentara harimau Jayadevata menghentikan lajunya.
Jyoti memandang pasukannya dan berkata, “Biarlah aku yang menghadapi mereka sendirian.” Hallaj mencoba menghalanginya namun raja baru itu tetap melangkah dengan kepercayaan diri yang tinggi. Balatentara Prabu Jayadevata berbaris dengan tatapan mata yang mengerikan. Panji-panji dan umbul-umbul kerajaan berada dibarisan paling depan. Di atas sebuah kereta kencana sang Prabu meyilangkan tangan, dan berbicara kepada pasukannya, “O, lihatlah pemuda kurus berbusana darwis itu mengantarkan nyawanya sendiri.” Jutaan balatentara harimau meraung, menciutkan keberanian para dewa sekalipun. Jayadevata menghunuskan pedangnya dan ribuan harimau mengalir menyerbu Jyoti secara bergelombang. Jyoti tetap tenang, ia menyentuh busur dan melesatkan ratusan anak panah yang menghujam balatentara harimau itu satu per satu.
Setiap gelombang serangan dapat dipatahkan dengan mudah oleh Jyoti. Dengan panah-panah, dengan lecutan cambuk yang berapi, dengan pedang yang bermata dua, dengan selendang yang bersisik, dengan tombak, tongkat, dan dengan cakra-cakra yang membabat habis serangan demi serangan balatentara Harimau Prabu Jayadevata yang tiada tanding itu. Jutaan harimau meraung-raung kesakitan. Mereka terluka namun masih bernyawa. Sang Prabu mulai merasa cemas. Bagaimana mungkin balatentaranya yang telah menaklukan langit dan bumi begitu mudah dikalahkan oleh seorang pemuda yang tak kesohor. Pasukannya mulai berkurang dan mereka terlihat panik. Barisan balatentaranya mulai tak keruan.
Seluruh pasukan ia tarik. Lalu dikirimnya kesepuluh ekor harimau putih yang penjelmaan dewa itu. Mereka menyerbu Jyoti bagai ombak lautan yang murka, menggempur, menggulung, dan menghempas serupa badai yang bersenjatakan petir-petir milik dewa Zeus. Pasukan negeri Syam terlihat begitu ketakutan. Jyoti tetap tenang lalu ia bersila dan mengeluarkan sebuah jaring berwarna keemasan yang meringkus kesepuluh harimau putih itu. Mereka meraung, meronta-ronta dalam cahaya biru menyelimutinya. Ketika cahaya itu lenyap, kesepuluh ekor harimau putih itu kembali kewujud asal mereka—para dewa Swargaloka, termasuk batara Indera yang tampak kelelahan—Lalu mereka membungkuk di hadapan Jyoti, menghaturkan rasa terimakasih lalu melesat menembus lapisan-lapisan langit. Pasukan negeri Syam bersorak. Harapan akan keselamatan terasa bagaikan mentari pagi yang hangat menyambut kehidupan di muka bumi.
Prabu Jayadevata sadar bahwa pemuda itu bukan sembarang manusia. Ia pun menarik seluruh pasukannya dan dengan kepercayaan diri seorang penguasa yang telah menaklukan langit dan bumi ia melangkah ke medan pertempuran, “Nampaknya engkau bukan sembarang manusia. Siapakah engkau? Karena aku, seorang raja, hanya akan menghadapi seorang raja.” Jyoti bangkit, “Namaku Jyoti, aku anak raja negeri Syam.” Jayadevata tertawa, “Oh, rupanya engkau anak haram si tua Tarbiz, kalau begitu aku tak akan segan-segan lagi untuk mengirimmu menemui ayahmu!” Prabu Jayadevata melesatkan anak panah berwarna hijau yang berubah menjadi seekor naga berkepala Sembilan dan melilit tubuh Jyoti begitu eratnya. Jyoti memejamkan matanya lalu tiba-tiba tubuhnya diselimuti api dan membakar naga yang melilit tubuhnya hingga bertebaran menjadi abu.
Prabu Jayadevata terpana, lalu ia melesatkan cakra emas pemberian dewa Shiva ke angkasa. Kegelapan pun tercipta. Banteng Kujata muncul dari balik awan hitam, melesat cepat menyerang Jyoti. Api di tubuh Jyoti telah padam, ia mengulurkan tangan dan menahan serangan banteng yang telah membunuh ayahnya itu, dan banteng yang memiliki empat ribu tanduk, mata, telinga, cuping hidung, mulut, lidah, dan kaki itu pun tersungkur puluhan kilo meter. Jayadevata semakin terbakar amarah, ia mengumpulkan segenap kesaktiannya, menciptakan bola api raksasa dan melesatkannya. Di dalam bola api raksasa itu terdapat ribuan astra yang telah diberkati. Konon, bola api raksasa itu itu mampu untuk membunuh Batara Yamadipati, sang kematian itu sendiri.
Jyoti melompat, ia menunggani bola api raksasa itu. Meletakan tangannya dan mulai menari dengan segala gerak keindahan. Kelenturan tubuh dan kecepatan geraknya membuat lengan dan kakinya berjumlah puluhan bagi siapa saja yang melihatnya. Hallaj sempat cemas namun kini ia tersenyum lega. Perlahan-lahan bola api itu mengecil, lalu menghilang di tangan Jyoti. Pasukan negeri Syam kembali bersorak sementara Prabu Jayadevata terbelangak tiada bisa percaya akan apa yang dilihatnya. Jyoti tersenyum, dan menunjuk Prabu Jayadevata, “Sekarang terimalah hukumanmu!” Sang Prabu bersiap menerima serangan, namun Jyoti malah terdiam, “Ayo seranglah aku wahai Jyoti putera Tarbiz!” Ia masih terdiam lalu secepat kilat berada dihadapan Sang Prabu, “Apakah karena cinta engkau melakukan pembantaian di seluruh langit dan bumi?” Sang Prabu dibuatnya kaget sekaligus bingung, “Omong kosong apa ini?”
Dua puluh tahun yang lalu, ketika Prabu Jayadevata masih belia, seorang perempuan cantik jelita sungguh cemerlang tiada terkira merebut hatinya. Sang Prabu dibuatnya mabuk asmara siang dan malam. Perempuan itu pun begitu mencintai sang Prabu karena ketampanan dan kebijaksanaannya. Mereka hidup bahagia selama bertahun-tahun. Ketika perempuan itu tengah mengandung benih cinta sang Prabu, perempuan yang ternyata dewi itu direbut paksa oleh para penghuni surga dan menghukumnya menjadi pasak di dalam lautan yang paling dalam karena ia telah melanggar aturan Swargaloka yakni menikahi Prabu Jayadevata yang seorang manusia. Sejak saat itu, sang Prabu bersumpah akan menaklukan langit dan bumi. Ia pun berkelana menembus dimensi-dimensi semesta, bertapa dan berlatih keras sehingga kekuatanya melebihi kesaktian seribu Rahvana.
Jyoti memandang sang Prabu dengan penuh kelembutan, “Setelah aku mendapatkan segenap kesaktianku. Seorang darwis yang bercahaya bagaikan ribuan matahari berkata bahwa semua kesaktianku akan percuma jikalau aku belum mengerti cinta. Dalam perjalananku di atas vimana, aku memandang semesta, lalu aku meleburkan diri ke dalamnya. Hakikat cinta adalah semesta itu sendiri. Napasmu, napasku, dan napas seluruh penghuni semesta adalah benih-benih cinta yang maujud dari sang Cinta. Kehidupan ini tercipta karena cinta. Kita tenggelam dalam lautan cintaNya serupa butir-butir zarah di lautan yang mahaluas dan tidak terbatas. Maka jika cinta itu telah meragasukma, tiada lagi kegelisahan atas berbagai kekejaman di atas dunia ini. Karena cinta akan mencintai setiap pencintanya. Aku tahu engkau begitu meradang dendam kesumat karena cintamu yang berakhir menyedihkan. Cintamu berbuah angkara murka yang menghancurkan langit dan bumi. Engkau telah dibutakan oleh cinta yang semu.”
Prabu Jayadevata tidak bisa menerima ucapan Jyoti, “Cuih, bagaimana mungkin engkau dapat merasakan apa yang aku rasakan; kepedihanku, kesengsaraanku, dan kesedihanku karena cinta telah menjarah seluruh kehidupanku!” Jyoti menenangkannya, “Cinta yang engkau cintai bukanlah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang sesungguhnya akan membuatmu berdamai dengan neraka sekalipun. Cinta kepada Sang Cinta adalah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang abadi. Cinta yang tidak akan pernah mati. Jika engkau telah mengenal hakikat cinta maka bunga-bunga pun akan bermekaran di seluruh penjuru neraka. Dan engkau akan memandang segala sesuatu karena cintamu kepada Sang Cinta, dari cinta itulah timbul kesadaran untuk berbuat baik di alam semesta ini. Dan kebahagian akan tercipta di delapan penjuru mata angin.”
Sang Prabu merasa sangat terhina. Matanya merah membara menandakan amarah yang teramat besar. Ia melompat beberapa meter kebelakang, cahaya hitam berpendar dari tubuh. Tanganya mengepal dan mengeluarkan semacam cahaya kekuning-kuningan yang bergejolak. Ia melesatkan pukulan, menghantam Jyoti hingga terlempar puluhan meter, “Jangan banyak bacot! Lawanlah aku anak ingusan!” Sang Prabu menghajar Jyoti secara membabi buta. Jyoti tidak melawan walaupun darah mulai mengalir. Ketika sang Prabu melesatkan pukulan pamungkasnya, Jyoti mengibaskan tangannya dan Sang Prabu Jayadevata yang perkasa itu terlempar hingga merubuhkan barisan balatentaranya.
Jyoti mendekatinya sambil mengusap darah yang bercucuran. Sang Prabu berusaha mengerakkan tubuhnya namun ia terjerembab dalam kelumpuhan, “Bunuhlah aku! Balaskan dendammu, ayo bunuhlah aku!” Jyoti menatapnya, “Tidak, aku tidak akan membunuhmu. Karena kejahatan tidak bisa dilawan dengan kekerasan karena kekerasaan adalah bagian dari kejahatan. Jika aku melawanmu dengan kekerasan maka kejahatan lain akan tercipta. Seperti gelombang balatentaramu yang tiada habisnya itu. Aku senaja tidak sampai membunuh mereka. Aku akan mengembalikan wujud asli mereka.”
Sang Prabu tertegun, “Mengapa engkau berbicara demikian?” Jyoti menjawabnya dengan keyakinan yang teramat dalam, “Karena cinta.” Seketika itu pula dunia berputar-putar, langit seakan-akan rubuh, tanah bergelombang dan menciptakan jurang-jurang yang mengeluarkan api dalam pandangan sang Prabu. Ia menangis tersedu-sedu sementara balatentara harimaunya kembali ke wujud asalnya, wujud manusia. Langit malam bercahaya rembulan. Tiada lagi kemuraman yang perlu dirisaukan. Semua karena cinta, semua karena cinta.
Bandung, 01 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar