LA MUSICA DE REVOLUCION, 11 YEARS OF MY AUDIOGALAXY
04 November 2010—Almarhum Kakek saya adalah seorang Messiah. Beliau telah menyelamatkan selera musik saya hingga hari akhir nanti. Sejak usia lima tahun telinga saya sudah akrab dengan lagu-lagu Frank Sinatra, Nate King Cole, Bee Gees, Beethoven, Mozart, Bach, dan—bahkan—Black Sabbath. Tentu saja saat itu saya belum mengerti benar apa dan siapa itu Frank Sinarta, Black Sabbath apa lagi Mozart. Theme song masa kecil itulah yang, mungkin, telah memengaruhi selera musik saya hingga saat ini.
Saya mulai mendengarkan musik Punk macam The Exploited, The Casualties, Ramones, dan Green Day saat—untuk pertama kalinya—saya duduk di bangku SLTP. Kemudian, masih di periode yang sama saya mulai mendengarkan musik hardcore macam Rykers, Madball, Biohazard, Downset, Strife, Warzone, Sick Of It All, Hard Resistance, One Life Crew, Boiling Point, RATM, Vision of Disorder, Morning Again, Purification, Negate, Puppen, Burgerkill, Balcony, Savor of Filth, dan Blind To See. Boleh dibilang musik hardcore adalah cinta pertama saya di belantara musik underground karena attitude pula musikalitasnya yang membuat jiwa saya bebas sebebas-bebasnya; bukankah musik itu adalah pembebasan?
Pada periode akhir SLTP saya mulai mengkonsumsi beragam varian musik metal mulai dari Black Sabbath, Slayer, Metallica, Megadeth, Sepultura, Pantera, Deformity, Deicide, Jasad, Disinfected, Forgotten, Dying Fetus, Obituary, Fear Factory, Dimmu Borgir, Cradle of Filth, Emperor, hingga Rammstein, Koil dan Silent Sun. Selanjutnya pada masa SMA rahim underground melahirkan berbagai genre musik yang jauh bervariasi. Pelabelan genre musik nampaknya sudah usang. Dari masa SMA hingga awal kuliah telinga saya sudah terbiasa mendengarkan Lamb of God yang, merupakan cinta kedua saya setelah era hardcore, saya pun mengamini God Forbid, In Flames, As I lay Dying, All That Remains, Poison The Well, Caliban, Black Dahlia Murder, Coheed and Cambria, Trivium, The Agony Scene, Thrice, dan Avanged Sevenfold. Boleh dibilang era ini yang membawa saya keluar dari pengkotakan musik underground.
Di senjakala pendidikan formal, saya mulai mendengarkan musik hiphop dan beragam post-musik underground lainya. Homicide yang sempat saya dengarkan ketika SLTP ternyata menjadi cinta ke-tiga saya. Homicide berpengaruh besar bagi kehidupan saya. Dari Homicide pula saya mengenal Public Enemy, NWA, Dälek, Immortal Technique, La Coka Nostra, Diabolic, Ill Bill, Vinne Paz, Necro, dan sederet musisi hiphop underground lainnya. Lalu Godspeed You! Black Emperor membuka gerbang bagi Ólafur Arnalds, Aeon Spoke, Isis, French Teen Idol, Russian Circles, If These Trees Could Talk, Toe, dan Sunn O))), sedangkan Beirut menjadi pelopor bagi Black Ox Orkestar, A Silver Mt. Zion, Dead Can Dance, Irfan dan cinta ke-empat saya Orphaned Land untuk saling mengisi di playlist iTunes saya setiap harinya.
Seperti halnya semesta, saya pun terus berekspansi, terus mencari musik bagi asupan jiwa saya. Music for my soul. Ada beberapa band yang memengaruhi kehidupan saya secara personal mulai dari era hardcore hingga saat ini.
RYKERS album Brother Against Brother is the first hardcore record yang saya beli di perempatan dekat Mesjid Agung. Rykers menjadi kiblat pertama saya dalam urusan musik hardcore.
MADBALL telah menjerumuskan saya ke dalam dunia hardcore yang sebenarnya, karena Madball pula saya ngeband dan mulai membaca berbagai fanzine yang berhubungan dengan kata hardcore. Album Demonstrating My Style, Legacy, dan Infiltrate The System mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Yeah, Madball is NYHC its self, bahkan di album teranyar, Empire, mereka memploklamirkan diri sebagai “You want hardcore, real deal hardcore… We are the real American hardcore!”
NEGATE membawa saya menelusuri nuansa gelap hardcore Eropa. Sebelumnya tidak pernah bisa saya bayangkan bagaimana musik hardcore dan black metal bisa terdengar selaras pada sebuah lagu, namun Negate membuktikannya pada album The Fifth Season yang bagi saya begitu luar biasa. namun sayang, di album Enemy (2003) musikalitas mereka menurun secara drastis. Bagi saya album ke-dua mereka ini serupa EP di tahun 1997.
PUPPEN, ini dia mbah-nya band hardcore se-antero negeri. Boleh dibilang merekalah yang meletakan batu pertama di scene underground Bandung, dan merilis album lewat etos DIY.
BURGERKILL album Dua Sisi boleh dibilang sebagai sebuah transisi dari hardcore old school ke new school. Sebuah awal yang baru di scene hardcore kota Bandung. Album ini menjadi sebuah pembuktian bagaimana band asal Bandung selalu mempunyai ke-khas-an tersendiri. Pada dua album selanjutnya, identitas hardcore perlahan tidak terdengar lagi pada lagu-lagu mereka, namun saya berharap attitudes mereka tetaplah hardcore.
BALCONY album Metafora Komposisi Imajinar adalah sebuah breakthrough di scene hardcore Bandung. Bahkan sebelum Burgerkill merilis album Berkarat yang pekat dengan nuansa metalcore, Balcony terlebih dahulu sudah menyajikan nuansa metalcore lewat album ini dan di album kedua mereka, Terkarbonasi. Sayang mereka sudah bubar.
SLAYER album South of Heaven (1988) dan God Hates Us All (2001) merupakan dua album yang luar biasa berisik, sarkastik, kasar sekaligus indah. Dua album ini melebihi komersialitas The Black Album-nya Metallica pada tahun 1991. Slayer pula yang telah menghadirkan altar penasbihan musik metal ke hadapan saya.
DEFORMITY “Deformity was a superior metal band from the burning underground of Belgium”. Ya satu kata: Superior! Deformity-lah band brutal dan agressive metal pertama yang saya dengarkan. Bahkan Black Dahlia Murder dengan harmonisasi gitar brutal dan aggressive-nya sekalipun akan terdengar seperti band pop bila dibandingkan dengan Deformity. Album Murder Within Sin adalah master piece mereka. Durasi antar track yang kurang dari empat menit, sudah cukup untuk menghadirkan hingar bingar siksaan neraka.
LAMB OF GOD band metal asal Richmond, Virginia ini adalah sebuah band dengan komposisi menarik antara rebelionisme musikalitas Pantera dan eksotisme padang pasir yang mengaresi membran telinga saya hingga ke level yang paling syahid. Lamb of God adalah juru selamat saya ketika musik metal berada di bendera yang sama—it’s suck! Sayang sekali saya tidak bisa melihat live performance mereka karena skripsi sialan. Album As the Palaces Burn, Ashes of the Wake, Sacrament, dan Wrath adalah karya-karya besar mereka. Namun pada album Wrath saya rasa mereka terlalu bermain aman. Semoga saja di album selanjutnya mereka kembali ugal-ugalan.
GODFORBID album Construction of Treason. Pada album ini saya menemukan unsur lain dalam musik metal yakni unsur timur tengah pada riff guitar yang membuat saya mabuk selama berhari-hari karena keindahanya yang menimbulkan nuansa divinitas. Construction of Treason album paling edan dari Godforbid. Album Earthblood pun tak kalah edan namun tingkat harmonisasinya lebih sedikit dibandingkan album Construction of Treason.
HOMICIDE, saya bosan dengan raungan distorsi hingga hiphop menjadi pilihan saya selanjutnya. Dan itu adalah pilihan yang tepat. Homicide telah merubah kehidupan saya 180 derajat. Homicide membawa saya berpetualang dari Russia ke Mekkah, langit ke bumi, sakral ke profan, Nietzsche ke FPI, mitos ke kenyataan, dan dari utopis ke realitas. Homicide pula yang mengenalkan saya pada Public Enemy, NWA, Dälek, Immortal Technique, La Coka Nostra, Diabolic, Ill Bill, Vinne Paz, Necro, dan sederet musisi hiphop underground lainnya. Saya berhutang budi kepada Homicide. Hatur nuhun Kang Ucok!
ÓLAFUR ARNALDS memberikan sebuah visualisasi tentang bagaimana galaxy meta-imajinernya dapat membawa kekosongan literal melintasi ketakterbatasan semesta. Neo-classical, no shit just a good damn music! Ólafur membuat jiwa saya berada di Taman Eden dari album pertama hingga album yang paling baru, ...And They Have Escaped The Weight Of Darkness.
RUSSIAN CIRCLE adalah band post-rock/metal yang tidak membosankan. Karenanya saya sangat mengilai band asal Chicago ini.
BLACK OX ORKESTAR, Thierry Amar seorang Yahudi yang anti-zionisme itu membuat keputusan yang benar ketika ia membentuk Black Ox Orkestar sebagai side project Godspeed You! Black Emperor yang secara genre bisa disebut sebagai European Jewish folk music. Dua album telah dirilis dan saya dengarkan, keduanya membawa saya melintasi padang pasir secara historis-dimensional. Secara musikalitas, lagu-lagu mereka sangat cocok untuk dijadikan OST saat kita membaca tentang sejarah para nabi khususnya nabi-nabi Israel. Entah kenapa, saya sangat menyukai sampai mampus Jewish/Arabian folk.
ORPHANED LAND, saya tahu band ini dari film documentary Global Metal. Sejak saat itu saya berburu via dunia maya tentang band ini, dan harus saya akui saya jatuh hati. Middle-Eastern folk metal music atau Oriental metal, singkatnya sebuah fusi antara musik Debu dan Burgerkill atau Dream Theater, Godforbid dan Black Ox Orkestar dipadukan kedalam satu lagu dengan nada yang proposional. Seluruh awak Orphaned Land adalah orang Yahudi, tapi kebanyakan dari fans mereka adalah orang Arab; it’s such a madness! Bayangkan saja bagaimana jadinya jika Bobotoh Persib mendukung Persija atau sebaliknya? Hal ini membuktikan musik sebagai salah satu bahasa yang universal. Bahasa yang dapat membawa kedamaian bagi umat manusia. Semoga.
Hanya ada dua macam musik: yang bagus dan yang jelek. Saya mendengarkan lagu dari berbagai genre musik yang berbeda. Yang bagus saya dengarkan dan yang jelek tentu saja saya enyahkan tanpa harus masuk ke Recycle Bin terlebih dahulu. Saya merasa sangat beruntung menghabiskan masa kecil saya dengan almarhum Kakek saya yang telah memberikan khazanah musik yang begitu luar biasa. Tak hanya musik luar negeri yang berkualitas juga musik tradional yang tetap mencerminkan dari mana asal saya.
Honorable Mentioned:
Black Sabbath – Master of Reality, Frank Sinatra – Romace, Green Day – Nimrod, Boiling Point – Conquered by ignorance, One Life Crew – Crime Ridden Society, Biohazard – Urban Discipline, Sepultura – Chaos AD, Soulfly – Primitive, All That Remains – The Fall Of Ideals, As I Lay Dying – Shadow Are Security, The Black Dahlia Murder – Miasma, In Flames – A Senses Of Purpose, Poison The Well – Tear From The Red, Avenged Sevenfold – City of Evil, Rammstein – Sehnsucht, The Sword – Age Of Winter, Trivium – The Crusade, Behemoth – The Apostasy, Immortal Technique – Revolutionary Vol. 2, Dälek – Absence, La Coka Nostra – A Brand You Can Trust, Diabolic – Liar & a Thief, DJ Muggs vs Ill Bill – Kill Devil Hills, L'arc~En~Ciel – Clicked Singlebest 13, Godspeed You! Black Emperor – Lift Your Skinny Fists Like Antennas To Heaven, Beirut – Gulag Orkestar, Sunn O))) – Flight of the Behemoth, Toe – The Book About My Idle Plot on a Vague Anxiety, Irfan – Seraphim, Staind – Break The Cycle, Coheed and Cambria – In Keeping Secrets Of Silent Earth 3, Koil – Megaloblast, System of a Down – Toxicity, The Ataris – So Long Astoria, Black Label Society –Hangover Music Volume VI, Thrice – The Illusion Of Safety,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar