Minggu, 31 Juli 2011

MAYAT HIDUP


MAYAT HIDUP
Sebetulnya Sati sangat membenci Rumah Sakit. Baginya, suasana Rumah Sakit selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Rumah Sakit adalah tempat dimana kegelisahan dan kesedihan menemukan maknanya. Tapi kali ini ia harus bertahan, karena Armin, sahabat baiknya tengah terbaring lemah tak berdaya akibat sebuah penyakit misterius. Sati berjalan dengan perasaan yang tidak keruan di antara dinding-dinding berwarna putih—Kenapa harus selalu warna putih? Tanyanya dalam hati. Ia mengambil napas panjang lalu duduk di depan ruangan yang lebih mirip cafĂ© daripada sebuah kantin Rumah Sakit.

Waktu berjalan sangat lambat. Sati teringat sebuah perdebatan sengit perihal muasal sang waktu dengan Armin. Ia tersenyum. Orang-orang lalu lalang di hadapanya. Ada yang berjalan cepat-cepat dengan raut muka yang gelisah, ada yang mendorong kursi roda dan bercerita dengan cerianya, ada pula yang menagis tersedu-sedu setelah seorang dokter berbicara kepadanya. Sati berusaha untuk bersikap acuh, namun ia tidak bisa. Semacam perasaan kalut bercampur rasa iba selalu saja menghampirinya saat ia berada di dalam sebuah Rumah Sakit.  

Sati melirik jam tangannya, ia pun tersadar telah termenung lebih dari satu jam lamanya. Ia melihat sekeliling, dan ternyata kosong, “Ini aneh, Kemana perginya semua orang?” Gumamnya. Lalu di ujung koridor ia melihat sesosok manusia berdiri agak membungkuk dengan bahasa tubuh yang aneh. Kepalanya mendongkak dan mulutnya mengeluarkan suara eluhan yang serak. Sosok itu mulai berjalan namun terlihat sangat kepayahan; terseok-seok, seperti orang yang sedang mabuk. Sati berlari mendekati sosok itu. Alangkah terkejutnya Sati ketika melihat  sosok itu dari dekat, “Armin!” 

Namun Armin terlihat begitu mengerikan. Wajahnya pucat sekali, kedua bola matanya berwarna hitam padam, hidungnya mengendus-ngedus serupa serigala yang memburu jejak mangsanya, dari mulutnya meluncur air liur yang kental dan berbau busuk, tubuhnya dipenuhi oleh luka gigitan yang mengangga. Sati dibuatnya ngeri, ia berusaha untuk mendekati sahabatnya itu, namun ia dikagetkan oleh suara orang yang berlari. Sati menoleh, seorang pria berteriak kepadanya, “Awas, Menunduk!” Tanpa pikir panjang Sati menunduk, lalu suara letusan pistol terdengar dan memekakan telinganya. Baju Sati bersimbah darah. Dilihatnya Armin tersungkur, kepalanya bolong tertembus timah panah. Ia tertegun untuk sesaat lalu berbalik dan meghampiri pria itu dengan penuh amarah, “Bajingan, apa yang kau lakukan?”

Pria itu ternyata seorang bule yang berperawakan tinggi tegap dan berwajah sendu. Terlihat jelas bahwa ia telah mengalami hal yang begitu mengerikan. Tak sempat menjawab pertanyaan Sati, sosok-sosok yang serupa dengan Armin berdatangan dengan suara yang begitu mengerikan, “Ayo, ikuti aku!” ia menarik tangan Sati, mereka berlari memasuki sebuah ruangan, membuka sebuah pintu dan menaiki tangga, “Kunci pintu itu!” Perintah bule itu kepada Sati. Sati menurut saja lalu ia berlari mengikutinya, “Ayo cepat! Atap Rumah Sakit ini akan menjadi tempat yang aman untuk sementara.” Ujar si pria bule yang berambut hitam dan bermata tajam itu.  

Atap rumah sakit itu nampak kurang terurus. Retakan-retakan kecil terlihat jelas akibat panasnya sinar matahari yang dibaptis oleh kelembaban udara. Mereka menutup pintu, menguncinya, dan menahannya dengan benda apapun yang bisa mereka pakai. Tanpa pikir panjang, Sati menerjang si pria bule itu, “Tunggu, dengarkan penjelasanku!” Sati tetap menghajarnya, “Kau telah membunuh sahabatku!” Si pria bule itu mencoba untuk melawan, dan dengan sekali pukulan, Sati tersungkur. Ia kesakitan. Si pria bule itu mendekatinya, “Dengarkanlah aku terlebih dahulu.” Sambil merebahkan Sati, “Namaku Mircea Cel Bartan, aku wisatawan dari Sighisoara, Rumania. Kau boleh memanggilku Mircea.” Sati mencoba untuk menyerangnya lagi namun secepat kilat Mircea menodongkan pistolnya, “Tenanglah, atau aku akan membunuhmu!”

Mircea menjelaskan dengan aksen Eropa Timur yang kental, dengan hurup R yang terdengar jelas, “Dengar, sahabatmu itu sudah mati sebelum aku menembaknya. Apakah kau pernah mendengar sesuatu tentang mayat hidup, zombi?” Sati menjawab sambil berusaha untuk berdiri, “Omong kosong! Pembunuh tetaplah pembunuh! Ya, tentu saja, zombie adalah mayat hidup. Seperti yang difilm-film itu, bukan?” Muka Mircea terlihat cerah seakan ia telah menemukan sesuatu, “Bagus, kita akan selamat.” Sati nampak kebingungan, “Selamat, apa maksudmu?” Mircea membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah laptop, “Lihatlah, beberapa minggu yang lalu telah terjadi wabah di benua Eropa yang disebabkan oleh sejenis mutasi virus sapi gila. Kemudian virus itu menyerang manusia. Lihatlah ini, nama virus itu adalah Creutzfeldt-Jakob yang menginfeksi manusia dan merubahnya menjadi mayat hidup, zombi.” Mendadak Sati terperangah, “Tidak mungkin. Zombi tidak mungkin ada.” Mircea memandangnya, “Kalau bukan zombi alias mayat hidup lalu apa namanya?” Sati terdiam, ia selalu mengkhayalkan dunia yang diserang oleh kawanan zombi, lalu ia akan berusaha sebiasa mungkin untuk bertahan. Dan kini, khalayannya itu benar-benar terjadi.

Mircea menutup laptopnya, lalu berjalan ketepian atap, dilihatnya kerumunan mayat hidup dengan suara-suara yang mengerikan. Kebanyakan dari mayat hidup itu telah membusuk dan kehilangan beberapa anggota tubuh. Ada juga yang masih segar, mungkin baru terinfeksi beberapa jam yang lalu. Bau busuk dan bau amis darah tercium begitu menyengat. Sati mengikutinya, alangkah terkejutnya dia. Zombi benar-benar ada. Zombi benar-benar nyata. Dan kini ia harus merencanakan sesuatu agar bisa selamat. Setidaknya tidak berubah menjadi mayat hidup. Seperti dalam khayalannya. 

Sati memerhatikan Mircea dengan lekat, ia penasaran, kenapa orang Rumania itu bisa ada di sini, “Apa yang membuatmu datang ke sini?” Mircea menatapnya tajam, “Sudah ku katakan, aku ini wisatawan. Aku hendak mengambil uang di ATM sebelah Rumah Sakit ini. Ketika itu aku mendengar teriakan, lalu tiba-tiba, kawanan mayat hidup itu mengejarku.” Sati tidak percaya, “Oh, benarkah? Lalu kenapa kau membawa pistol?” Mircea memalingkan muka, “Itu bukan urusanmu, seharusnya kau berterima kasih karena aku telah menyelamatkanmu.” Sati masih penasaran, namun ia berkata dengan sungguh-sungguh mengucapkan rasa terima kasihnya, sambil mengulurkan tangannya, “Maaf, aku hanya penasaran saja. Terima kasih banyak kau telah menolongku. Oya, Namaku Sati.” Mircea hanya mengangguk.  

Tiba-tiba pintu berbunyi seperti ada yang memukul-mukul. Mircea dan Sati secara bersamaan saling berpandangan, “Sial, mereka tahu kita ada di sini, cepat, kita harus melakukan sesuatu!” Seru Mircea kepada Sati, “Aku tahu, lihat! Di sebrang sana, ada sebuah mobil SUV, kita bisa memakainya untuk melarikan diri.” Mircea melihat ke arah mobil SUV itu, “Tapi bagaimana caranya? Sedangkan di bawah sana penuh sesak oleh kawanan zombi.” Sati berpikir sejenak, “Kita akan menerobos lautan mayat hidup itu.” Mircea terkejut, “Itu sama saja dengan bunuh diri!” Sati cepat-cepat menjelaskan, “Tidak, tidak, lihat saja, zombi tidak dapat bergerak cepat-cepat. Kita hanya perlu mewaspadai zombi yang baru terinfeksi karena mereka dapat berlari. Kau harus menjagaku sementara aku akan mendekati mobil SUV itu.” Mircea mengerutkan dahi, “Kenapa harus aku?” Sati menjawabnya dengan nada yang sedikit mengejek, “Karena kau mempunyai pistol.” Mircea tidak dapat berkelit, “Baiklah, lebih baik kita mencobanya daripada kita mati dimakan mayat hidup.”

Mereka berdua bersiap-siap, Sati mengambil sebuah balok kayu sebagai senjata sedangkan Mircea mengechek sisa pelurunya, “Rencana ini harus berhasil, peluruku tinggal 4 butir lagi.” Sati hanya mengangguk dengan wajah yang tegang. Ketika pintu itu berhasil terbuka, kawanan mayat hidup menyeruak masuk, berjalan terseok-seok, perlahan-lahan namun pasti. Bau busuk menyerebak. Tangan mereka terangkat seakan hendak mencekik Sati dan Mircea dibarengi dengan suara erangan, eluhan, dan pekikkan yang mengerikan. Mircea berlari dan Sati mengikuitnya dari belakang. Mereka membelah kerumunan mayat hidup, menghindari setiap serangan yang dapat merubah mereka menjadi salah satu dari mayat hidup itu.

Sesampainya di halaman rumah sakit, kawanan mayat hidup itu secara serentak melihat ke arah datangnya Sati dan Mircea. Mereka berjalan bagai pasukan perang dari neraka, mendekati sati dan Mircea, “Sati, cepat!” Teriak Mircea. Sati berlari dengan sekuat tenaga sambil memukul mayat hidup yang menghalanginya, “Kepalanya, ingat, pukul kepalanya!” Seru Mircea yang berlari di belakangnya. Mayat-mayat hidup itu terus berdatangan dari segala arah dengan suara yang lagi-lagi terdengar begitu mengerikan. Ketika Sati sampai di mobil SUV, ia terkejut, karena di dalamnya ada seorang gadis kecil berbusana gaun putih yang dipenuhi oleh bercak darah. Sati membuka pintu mobil SUV itu. Tanpa ada peringatan, gadis kecil bergaun putih itu menyerang Sati. Menerkamnya serupa harimau yang kelaparan. Sati melawan sekuat tenaga. Air liur yang berbau busuk menetes dimukanya, “Mircea, tolong aku!”

Mircea menoleh, dilihatnya Sati tengah bergumul dengan gadis kecil itu. “Aku sedang sibuk. Pukul kepalannya sekeras mungkin!” Balas Mircea yang memang sedang sibuk menghalau mayat-mayat hidup yang mencoba mendekati mereka, “Aku tidak sanggup. Dia hanya seorang gadis kecil!” Teriak Sati kepayahan, “Ah, kau ini. Dia itu bukan manusia lagi. Pukul kepalanya!” Perintah Mircea, “Aku tidak bisa, aku tidak tega!” Lalu terdengar suara letusan dan kepala gadis kecil itu pecah tertembus peluru. Darah lagi-lagi membanjiri tubuh Sati, “Dia bukan manusia lagi, kau harus tega membunuhnya atau kau sendiri yang akan terbunuh atau menjadi mayat hidup!” Mircea cepat-cepat menarik tangannya ke dalam mobil, “Ayo cepat, kita harus segera pergi!” Sati mengemudikan mobil SUV berwarna hitam itu. Mereka menabrak kerumunan mayat hidup yang menghalangi laju mereka hingga mayat-mayat hidup itu terpental ke udara. Mereka meninggalkan Rumah Sakit menuju kegelapan malam yang tak berrembulan. Sekali-kali terdengar suara-suara yang mengerikan dari kejauhan. Semakin mengecil, mengecil lalu hening. 

Sati tampak masih tegang, sementara Mircea memikirkan sesuatu, “Sati, kita harus menghentikan wabah ini.” Sati menoleh, “Kita? Apa yang bisa kita lalukan? Lagi pula penyebab wabah ini adalah virus. Bagaimana caranya mematikan sebuah virus yang semi-abstrak itu?” Mircea menggaruk-garuk kepalanya, “Ah, Sati, aku akan berkata yang sebenarnya.” Wajah Mircea mendadak serius, “Aku ini sebenarnya adalah seorang pemburu vampir dari Ordo Serigala Malam.” Mendadak Sati tertawa dengan kerasnya, “Hahahaha, kau ini ada-ada saja. Mentang-mentang kau berasal dari Rumania lalu kau mengaku sebagai pemburu vampir. Mana ada vampir di dunia ini?” Mircea dengan nada yang sama seriusnya menjawab, “Beberapa jam yang lalu kau mungkin berpikir bawha zombi itu hanyalah omong kosong belaka, tapi sekarang, kau lihat sendirikan?” Sati terdiam seakan mengiyakan ucapan Mircea. 

Sati membelokan mobil ke arah kota, “Lalu apa hubungannya vampir dengan wabah ini?” Tanya Sati. Mircea menjelaskan dengan seksama, “Jelas ada. Wabah di Eropa itu bukan semata-mata virus sapi gila yang hinggap begitu saja menginfeksi manusia. Adalah si terkutuk Vlad Drakula bapak dari segala vampir di dunia ini yang dengan bantuan para ilmuannya telah berhasil memodifikasi virus itu sehingga dapat menginfeksi manusia dengan mudahnya.” Sati terbelangak, “Vlad Drakula, si Penyula! Dia, dia benar-benar ada? ” Mircea mengangguk, “Ya, kau pikir Bram Stroker hanya membual? Stroker telah melakukan risetnya cukup baik. Walaupun selebihnya hanya imajinasinya saja. Kami telah mengejar Vlad Drakula ke berbagai Negara, dan terakhir kami mendapatkan informasi bahwa dia berada di sini, di Negaramu. Kami pun segera terbang ke sini.” Sati menyela, “Kami, maksudmu kau tidak sendirian?” Mircea membalas, “Ya, tapi mereka semua yang ikut denganku telah mati atau telah menjadi mayat hidup. Kini, aku harus menuntaskan misi ini sendirian, demi kawan-kawanku yang gugur di medan tempur.” Sati hanya memandang Mircea tanpa berkata-kata menandakan penyesalannya. 

Mircea membuka tas dan menujukan peralatan pemburu vampir; beberapa pasak yang tajam, peluru perak, air suci, dan salib-salib kecil, serta bawang putih yang terlihat seperti untaian tasbih. Sati melihat dengan seksama, “Lalu, apa rencanamu?” Mircea menjawabnya dengan nada yang putus asa, “Aku tidak tahu. Yang jelas kita harus mencari dan membunuh Drakula, ia mahluk yang sangat berbahaya. Kau jangan samakan dia dengan Edward Cullen si vampir romantis difilm Twilight itu, karena Vlad Drakula jauh dari romantis, dia manusia berhati iblis dalam pengertian yang sesungguhnya. Dan membunuhnya adalah satu-satunya cara untuk menghentikan mewabahnya virus itu.” Sati membalasnya, “Ya, setan telah merasukinya sedemikian rupa.” Mircea tertawa mendengar jawaban Sati, “Kau ini sungguh tolol percaya dengan setan.” Ia melanjutkan, “Hey Sati, apakah kau pernah bertemu setan?” Sati menjawabnya dengan ketus, “Tentu saja Belum.” Mircea masih tertawa, “Lalu kenapa kau belum pernah bertemu setan?” Sati menjawabnya sambil memerhatikan jalan, “Aku tidak tahu. Memangnya kenapa?” Mircea tertawa semakin keras, “Hahahahaha… Karena setan itu tidak ada, bodoh!”

Sati sedikit tersinggung, “Lalu kalau bukan setan, ulah siapakah yang membuat Vlad Drakula menjadi seorang manusia berhati iblis? Setan pasti telah memengaruhinya!” Mircea memandang Sati sedikit meledek, “Tentu saja ulahnya sendiri. Kau ini seperti para ulama yang hobi menyalahkan setan atas segala kejahatan yang terjadi di dunia ini. Setan itu ada di dalam diri manusia. Setan itu adalah manusia yang hatinya dipenuhi oleh kedengkian. Pernahkah kau melihat setan yang tengah mencuri sesuatu di swalayan? Atau membunuh seseorang?” Sati mengerutkan dahi, “Tentu saja tidak pernah, karena setan itu tidak terlihat.” Mircea kembali tertawa, “Nah, kau sendiri mengakuinya. Setan itu tidak ada, yang ada hanyalah manusia berhati setan.”

Sati tertegun, lalu bertanya, “Tapi, kau bilang si Vlad Darkula penyebab mewabahnya virus zombi itu. Dia itu vampir kan? Penghisap darah yang hidup abadi. Pasti dia telah bersekutu dengan setan untuk keabadiannya itu. Bagaimana kau ini?” Mircea tertawa kecil, “Tidak, dia tidak bersekutu dengan setan manapun. Dia memeroleh keabadiannya melalui sebuah buku kuno peninggalan bangsa Mesir purba. Kau jangan tertipu oleh mitos-mitos murahan tentang vampir. Dia memang meminum darah sebagai salah satu syarat dari puluhan syarat untuk keabadiannya itu. Dan keabadianya itu hanya bisa terjadi karena ia membalsem dirinya sendiri, dan para pengikutnyalah yang telah membangkitnya kembali.” Sati menelan ludahnya sendiri sementara Mircea memandang langit kelam tak berrembulan seakan menikmati kegelapan yang mematikan. 

Sati bertanya, memecah lamunan Mircea, “Kalau begitu, dia memummyfikasi dirinya sendiri? Kau bercanda.” Mircea mengangguk, “Ya. Dan aku tidak bercanda. Kau pernah mendengar sesuatu tentang Ordo Scarabaeus? Mereka adalah keluarga kerajaan Mesir purba yang memummyfikasi diri mereka sendiri sebelum ajal menjemput. Dan hasilnya mereka dapat dihidupkan kembali. Kalau tidak percaya, aku bisa membawamu ke perpustakaan Ordo Serigala Malam di Rumania. Kau akan terkejut sepertihalnya aku saat pertama kali membacanya.” Sati mengaruk-garuk kepalanya, “Jadi si Vlad Drakula mengamalkan isi dari buku kuno Ordo Scarabaeus itu? Dan oleh karenanya dia memeroleh kehidupan yang abadi?” Mircea tersenyum puas, “Betul. Dan kini ia berusaha untuk menguasai dunia dengan bantuan dari pasukan mayat hidupnya yang mengerikan itu.”

Saat mobil yang membawa Sati dan Mircea hendak memasuki gerbang kota, tiba-tiba sesosok manusia muncul di hadapan mereka. Di belakang sosok itu, bayangan-bayangan hitam berkelebatan, berjalan terseok-seok sambil mengeluarkan suara-suara yang mengerikan. Dalam kegelapan malam, sosok itu terlihat bertubuh tinggi dan tegap. Ada sesuatu dalam gerakannya yang berbeda dengan sosok-sokok yang berjalan terseok-seok di belakangnya. Sosok itu terlihat semakin jelas oleh lampu mobil ketika ia berjalan mendekat. Rambutnya yang panjang bergelombang jatuh kebahunya yang kekar. Wajahnya pucat, bergaris keras, dan nampak kejam. Pipinya tirus, kedua matanya yang berkilauan terlihat besar di bawah alisnya yang tebal, hidungnya melangkung dan panjang. Bibirnya tertutup dan membentuk senyuman yang mengerikan; berwarna merah darah dan melengkung di bawah kumis yang kaku dan gelap. Sosok itu berbusana layaknya seorang bangsawan Eropa abad ke-15 yang anggun dan berkilauan dengan kerah hitam panjang yang menutupi lehernya. Sosok itu menyeringai, membuat Sati maupun Mircea bergidik. Sati berusaha menghentikan mobilnya sekuat tenaga agar tidak menabrak sosok itu, sementara Mircea terkejut bukan kepalang sambil berkata dengan kerasnya, “Itu Drakula!” 

Bandung, 10 Maret 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar