“Pasti sulit bagi mereka yang terlanjur menganggap penguasa sebagai kebenaran, kan kebenaran sebagai penguasa”
—G. Massey, Egyptologist
“Pour the emerald wine into crystal glasses, we will touch the divine through kisses catharsis”
—Cradle Of Filth, Absinthe With Faust”
Astrologi Dan Kedatangan ‘Para Tuhan’
Secara umum, astrologi adalah ilmu yang mempelajari benda-benda angkasa yang biasa kita sebut sebagai bintang. Bintang dapat dikatakan sebagai semua benda yang berada di luar angkasa sana; planet-planet, matahari, bulan, asteroid dan lain sebagainya. Lalu apa hubungan antara astrologi dengan kedatangan “Para Tuhan”? Setelah saya menggali lebih dalam, ternyata Ilmu ini (astrologi) sama tuanya dengan peradaban sungai Tigris dan Euphrates. Dan karena ‘ketuanya’ itu, saya menemukan sebuah kolerasi yang menggejutkan.
Pada mulanya, orang-orang pada zaman dahulu menggunakan bintang sebagai petunjuk arah dalam kegelapan malam, dan melalui penelusuran posisi bintang, mereka dapat mengetahui dan mengantisipasi kejadian yang hanya terjadi dalam rentan waktu yang lama, seperti terjadinya gerhana dan bulan purnama. Itu baru dalam hal penujuk arah. Dalam hal religiusitas, mengutip Eliade “manusia sakral menasbihkan langit dan apa yang ada didalamnya sebagai sebuah manifestasi keagungan (tuhan)”. Ketakterjaungkauan dan ketakterbatasan langit di jadikan sebagai sebuah simbol kesakralan. Realitas ini menghasilkan sebuah bentuk pemujaan terhadap langit dan benda-benda langit lainnya, khususnya matahari. Pemujaan seperti ini kemudian mendapatkan perwujudannya melalui patung-patung yang dianggap merefesentasikan kekuatan tersebut. Mereka kemudian kita kenal sebagai orang-orang penyembah berhala atau kaum Pagan dalam istilah keilmuannya.
Setidaknya sejak 10ribu tahun sebelum masehi, sejarah peradaban berbagai bangsa dipenuhi dengan ukiran dan tulisan yang menggambarkan kekaguman, dan pemujaan terhadap matahari. Dari hasil pengamatan Eliade, saya menarik sebuah kesimpulan: matahari dipuja karena alasan yang sangat sederhana, mengingat matahari terbit setiap pagi, memberi penglihatan, kehangatan dan rasa aman yang menyelamatkan manusia dari kegelapan sang malam yang selalu diidentikan dengan sebuah kegelapan—kejahatan.
Masyarakat kuno mengerti sekali bahwa tanpa matahari sumber makanan tidak akan tumbuh, dan kehidupan di atas muka bumi ini tidak akan bertahan lama. Realitas ini kemudian menjadikan matahari sebagai objek langit yang paling popular sepanjang masa.
Selanjutnya mereka mengelompokan berbagai benda-benda langit tersebut menjadi apa yang hari ini kita kenal sebagai rasi bintang. Salib Zodiac adalah konsep astrologi tertua dalam sejarah umat manusia. Salib Zodiac merefleksikan matahari sebagai poros yang melintasi 12 rasi bintang lainya dalam waktu satu tahun. Ia (Salib Zodiac) juga merefleksikan 12 bulan dalam satu tahun, 4 musim serta titik balik pergerakan matahari. Istilah Zodiac, berhubungan dengan rasi bintang yang dibentuk atau dipersonifikasikan sebagai sebuah figure. Melalui garis khayal atau garis imajiner yang saling disambungkan. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat zaman dahulu tidak sekedar mengikuti pergerakan benda-benda langit, namun mereka memberikan gambaran hidup mengenai hubungan mereka dengan benda-benda langit. Teori Eliade mulai menemukan maknanya sendiri.
Matahari, sesuai dengan kapasitasnya sebagai pemberi cahaya diwujudkan sebagai wakil dari pencipta yang tidak tampak, wakil Tuhan bahkan Tuhan itu sendiri. THE SUN OF GOD/GOD SUN, cahaya dan juru selamat umat manusia. Dari telaah ini, saya membuka buku World History karya Mazour dan kawan-kawannya.
Di Mesir kuno, sekitar 3000 tahun sebelum masehi adalah Horus sebagai SUN OF GOD/GOD SUN dimana kehidupannya merupakan alegoris mengenai pergerakan benda langit yang disebut sebagai matahari. Dari tulisan mesir kuno yang diterjemahkan oleh mazour: Horus THE SUN OF GOD atau THE GOD SUN ini mempunyai musuh yang bernama Seth—personifikasi dari kegelapan atau malam. Secara kiasan, setiap pagi Horus akan memenangkan pertempuran melawan Seth, sebaliknya, bila malam tiba Seth akan menendang Horus kembali ke dunia kegelapan. Sangat penting untuk diketahui bahwa “cahaya melawan kegelapan” atau “kebaikan melawan kejahatan” merupakan konsep dualitas terbesar yang ada hingga sekarang.
Dari fakta yang ada di berbagai sumber sejarah, Horus dilahirkan pada tanggal 25 September dari seorang perawan bernama Isis. Kelahirannya ditandai dengan munculnya sebuah bintang di sebelah timur, yang kemudian digunakan oleh 3 orang Raja menemukan dan memberkati juru selamat yang baru lahir itu. Pada umur 12tahun, Horus menjadi seorang guru yang hebat. Dan pada umur 30 tahun ia dibaptis oleh seseorang bernama Anup, dan setelahnya Horus mulai menyebarkan ajarannya. Dalam perjalanan menyebarkan ajarannya, Horus mempunyai 12 orang murid, Horus melakukan banyak mukjijat seperti menyembuhkan orang sakit dan berjalan di atas air. Karena itu Horus banyak diberi julukan, seperti: THE SUN OF GOD dan THE GOD SUN. Kematiannya adalah sebuah pengkhiantan dari seorang yang bernama Taifun. Ia disalib lalu dikubur selama 3 hari dan bangkit kembali dari kematiannya pada hari ke-3.
Di sini saya menemukan sebuah benang merah yang mengagumkan. Kisah Horus ini kemudian banyak diadopsi oleh bangsa-bangsa lainya. Seperti:
- Attis dari Pirigia, lahir dari seorang perawan bernama Nana pada tanggal 25 Desember, mati disalib dan bangkit tiga hari kemudian.
- Sri Khisna/Kresna dari India, lahir dari perawan bernama Devaki, kelahirannya ditandai dengan munculnya bintang disebelah timur, ia melakukan banyak mujkizat dan bangkit dari kematiannya.
- Dionysus dari Yunani, lahir dari perawan pada tanggal 25 Desember, ia menjadi seorang guru dan melakukan banyak mukjizat, seperti mengubah air menjadi anggur. Ia dikenal sebagai “Raja dari segala raja”, “Alfa dan Omega” dan masih banyak lagi. Ia kemudian bangkit setelah kematiannya.
- Mithra dari Persia atau Iran, lahir dari seorang perawan pada tanggal 25 Desember, ia mempunyai 12 murid, setelah 3 hari kematian ia kemudian bangkit kembali. Yang menarik dari Mithra adalah gelarnya SUN OF GOD, SON OF GOD dan yang lebih menarik lagi adalah hari pemujaannya yaitu hari MINGGU ATAU SUNDAY: SUN-DAY=HARI MATAHARI.
Dari hasil di atas, saya lalu mempertanyakan mengapa harus lahir dari seorang perawan dan pada tanggal 25 Desember? Mengapa harus mati selama tiga hari untuk kemudian bangkit pada hari ketiga? Mengapa ada 12 orang murid? Nah, untuk merampungkan teori warung kopi ini marilah kita tengok terlebih dahulu juru selamat atau SUN OF GOD atau SON OF GOD yang paling terakhir.
Jesus Kristus, Isa Al-Masih atau Nabi Isa AS, lahir dari seorang perawan bernama Maria atau Siti Maryam pada tanggal 25 Desember di Bethlehem, atau sekarang lebih dikenal dengan tanah sengketa antara bangsa Palestina dan Yahudi. Kelahirannya ditandai dengan kemunculan sebuah bintang disebelah timur. Yang kemudian dijadiakn petunjuk dari 3 orang Raja untuk memberkati juru selamat yang baru itu. Ia (Jesus) telah menjadi guru sejak umur 12 tahun, kemudian dibaptis oleh Johanes pembatis atau Nabi Yahya AS pada umur 30 tahun. Sejak itu ia menyebarkan ajarannya dengan dibantu oleh ke-12 muridnya. Dalam perjalanan menyebarkan ajarannya ia melakukan banyak sekali mukjizat seperti: menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta, merubah air menjadi anggur, berjalan di atas air dan sebagainya. Ia dikenal dengan sebutan “RAJA DARI SEGALA RAJA”, “SON OF GOD”, “THE GOD SON”, “ALFA DAN OMEGA”, dan lainya. Ia kemudian dikhianati oleh Judas Iskariot dan Jesus pun disalibkan atas tuduhan yang tidak berasalan, kemudian Jesus mati lantas dikubur selama 3 hari untuk bangkit kembali pada hari ketiga. Naik ke surga bertahta bersama Bapa.
Nah, disinilah saya mulai menganalisis dengan menggunakan teori yang alakadarnya. Buku astrologi, astronomi dan ilmu falak pun saya buka kembali. Pertama-tama, saat kelahiran Jesus sepenuhnya adalah bagian dari ilmu astrologi.
“Kelahirannya ditandai dengan kemunculan sebuah bintang disebelah timur”
Bintang yang muncul di sebelah timur adalah bintang Sirius, bintang paling terang saat malam hari pada tanggal 24 Desember, berada sejejar degan ketiga bintang pada gugusan sabuk Orion. Sejak lama ketiga bintang yang sejajar dengan Bintang Sirius dikenal dengan nama: 3 Raja—bagi kalian yang sudah menonton film Transformer yang ke-2 pasti sudah mengetahuinya. Kesemua bintang pada gugusan ini menunjuk pada terbitnya matahari tanggal 25 Desember—bagi yang berpikir saya hanya membual silahkan buktikan pada malam 24 Desember nanti (kalau langit sedang cerah itu juga). Inilah yang menjadi alasan ke-3 Raja mengikuti bintang di sebelah timur untuk menemukan tempat di mana terbit/lahirnya matahari.
Sampai di sini saya kehabisan bahan, saya pun terpaksa mengunjungi seorang paman yang bekerja di BMG untuk mencari tahu fenomena apa yang menarik pada tanggal 25 Desember sembari membawa buku-buku tentang astrologi, astronomi, perbintangan dan ilmu falak yang saya dapat hari sebelumnya secara murah-meriah di Jalan Dewi Sartika. Dan, setelah berbincang kesana-kemari, hasilnya adalah: 25 Desember adalah saat titik balik matahari musim dingin. Dari titik balik musim panas hingga titik balik musim dingin, hari menjadi semakin pendek dan terasa dingin untuk wilayah-wilayah utara, dan jika dilihat dari belahan bumi sebelah utara, matahari akan nampak bergerak menuju selatan dan tampak semakin mengecil. Semakin memendeknya hari dianggap sebagai proses kematian oleh masyarakat pada masa lalu, hal ini terjadi sekitar tanggal I – 15 Desember. Dan pada tanggal 22 Desember, kematian matahari dianggap terjadi sepenuhnya sebab setelah bergerak kearah selatan selama 6 bulan, matahari telah sampai pada titik terendah di cakrawala langit. Nah, kata Om saya itu, disinilah terjadi hal yang menarik: pada masa ini, matahari akan berhenti bergerak ke arah selatan selama tiga hari; 22, 23, 24 Desember, dan selama masa ini, matahari berada pada posisi di sekitar gugusan bintang CRUX atau bahasa indonesianya: SALIB SELATAN. Setelah itu, pada tanggal 25 Desember, matahari bergerak 1 derajat ke arah utara dan membawa hari lebih panjang yang lebih hangat. Musim semi. Oleh sebab itu, para ahli Astronomi sering mengatakan “Matahari mengalami kematian selama 3 hari pada salib selatan untuk kemudian bangkit kembali.”
Mungkin—dari hasil anailis warung kopi ini—itulah sebabnya mengapa Jesus dan banyak Tuhan Matahari lainnya berbagi kisah penyaliban dan kematian selama tiga hari untuk kemudian dibangkitkan kembali. Hal di atas merupakan sebuah periode transisi matahari sebelum ia berbalik menuju belahan bumi bagian utara yang membawa musim semi sekaligus bermakna keselamatan. Namun, masyarakat kuno tidak merayakan kebangkitan matahari itu hingga titik balik matahari musim semi, atau saat PASKAH/EASTER DAY: SPRING EQUINOX ATAU EASTER. Sebab saat itu (Paskah) dapat dikatakan bahwa matahari telah berhasil mengalahkan kekuatan kegelapan (baca: jahat) sebagaimana siang hari yang berlangsung lebih pandang dari pada malam hari.
Tapi yang paling jelas diantara semua simbol astrologi yang ada disekitar kehidupan Jesus adalah ke-12 orang muridnya, yang secara sederhana mewakili 12 rasi bintang. Sebagi contoh, coba lihat lukisan atau gambar “perjamuan Terakhir” karya Leonardo Da Vinci yang telah mendapat legitimasi dari Vatikan sebagai lukisan yang paling akurat menggambarkan momentum itu; Jesus diasosiasikan sebagai matahari yang berada di tengah-tengah muridnya yang 12 orang, bukankah itu serupa dengan konsep SALIB ZODIAK? Bahkan, di dalam inijl (perjanjian Lama) sendiri angka 12 disebutkan berulang kali: 12 SUKU ISRAEL, 12 SAUDARA YUSUF, 12 HAKIM ISRAEL, 12 PATRIARCHS YANG AGUNG, 12 RAJA ISRAEL, 12 PRINSIP HIDUP ISRAEL.
Di dalam Injil sendiri tidak ada satu ayat pun yang secara tegas menyatakan bahwa jesus lahir tepat pada tanggal 25 Desember. Namun dalam Lukas 2:8-11:
“di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat mereka. Lalu malaikat berkata kepada mereka: “Jagan takut, sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir juru selamat bagimu yaitu Kristus.”
Ada kalimat yang menyatakan: “di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam.” Kalau ini benar maka kelahiran Jesus bisa di pastikan saat musim panas; di mana pada waktu itu para gembala menjaga kawanan ternaknya pada malam hari; menjaga disini diartikan sebagai menggembalakan.
Seperti yang telah saya tulis di atas, astrologi adalah buah tangan dari kaum Pagan yang memuja kekuatan alam sebagai manifestasi Ilahi yang kemudian mereka wujudkan dalam sebuah objek—biasanya berupa patung-patung. Jadi mengapa ajaran Jesus yang esensinya mengajarkan ke-esa-an Tuhan dan menolak praktek-praktek pemberhalaan dapat terjangkit mitos-mitos dari kaum Pagan? Jawabannya sederhana. Kepentingan kekuasaan.
Seperti yang tertulis dalam sejarah dan pada kitab Injil sendiri; pada masa kelahiran Jesus, tanah Yudea dikuasai oleh bangsa Romawi, dan bangsa ini penganut pagan tulen. Mereka memuja matahari sebagai manifestasi tuhan. Sol Invictus adalah nama dari Tuhan matahari bangsa Romawi. Masuknya pengaruh Paganisme kedalam ajaran Jesus ditandai dengan kemenangan pihak Trinitas yang diwakili oleh Paulus dari Tarsus (yang mengakui bahwa Jesus adalah anak Tuhan sekaligus Tuhan sendiri) atas pihak Unitarian yang di wakili oleh Arian (yang hanya mengakui Jesus sebagai nabi yang diutus oleh Tuhan). Kemenangan ini merupakan sebuah konspirasi pertama antara pihak Trinitas (lembaga keagamaan) dan kaisar Romawi (pemerintahan) yang sedang berkuasa saat itu, Konstantin. Banyak kalangan akademisi kesejarahan yang menyatakan bahwa kemenangan kaum Trinitas itu berbau politis, artinya Raja Konstantin yang pada saat itu merupakan kaum Pagan tulen penyembah matahari tidak ingin kehilangan kekuasaanya, pula tidak mau mengakui ajaran Jesus tentang ke-esa-an Tuhan. Maka kaum Trinitas adalah jawaban yang paling tepat. Kesamaan dalam memandang yang Ilahi membuat mereka melaju tanpa halangan yang berati. Sejak itulah kredo-kredo Paganisme menjadi landasan dasar ajaran Jesus yang sebelumnya Jesus tolak mentah-mentah.
Bukti dari peleburan Paganisme dan ajaran Jesus masih dapat terlihat secara jelas. Pertama sekali, mereka melakukan perubahan peribadatan dalam ajaran Jesus yang sebelumnya pada hari Sabbat (hari Sabtu) menjadi hari minggu, yang dalam bahasa Yunani disebut SUNDAY: SUN-DAY=HARI MATAHARI mengadopsi ajaran Mithra. Maka hari minggu adalah hari untuk dewa matahari yang kini telah menjadi hari dimana umat Nasrani beribadat kepada Tuhannya. Dan, tentu saja jika kita berkunjung ke dalam gereja-gereja Katholik maka kita akan menemukan jejak simbol matahari di mana-mana, dan bukti yang paling nyata ada di Vatikan City sana. Kita akan melihat berbagai simbol paganisme—terutama simbol matahari—dalam balutan ajaran Jesus yang tidak pernah mengajarkannya.
Justin Martyr (100-165 AD), salah satu sejarawan Kristen awal serta pembela agama Kristen, menulis: “Ketika kita mengatakan bahwa Jesus Kristus dikandung tanpa melalui hubungan seksual, disalibkan, mati kemudian bangkit kembali dan naik ke Surga, kita mengemukakan hal yang sedikitpun tidak berbeda dari apa yang kalian percayai mengenai kisah dari putera Jupiter.” Dalam tulisan lain Martyr mengatakan: “Dia terlahir dari seorang perawan, anggaplah itu sebagai hal yang biasa, sebagai mana kamu memandang Perseus.” Jelas, bahwa Justin dan tokoh-tokoh Kristen awal mengetahui betapa mirip agama Kristen dengan keyakinan kaum Pagan.
Mengenai paham Trinitas sendiri, Santo Augustine (salah satu Santo dari ratusan Santo yang ada dalam lingkungan Agama Nasrani) dalam bukunya The Confessior of st. Augustine, menulis: ”Kredo bapa Gereja kita, Paulus ini mungkin berdasarkan pada ajaran Plato (seorang filsuf Yunani kenamaan) yang menganggap bahwa Tuhan terdiri dari tiga bentu, yakni: penyebab awal, firman, dan roh alam semesta. Dan Plato mendapatkan konsep ini konon dari orang-orang lembah Hindustan.”
Konklusi dari ”Astrologi Dan Kedatangan ‘Para Tuhan’(Konsfirasi pertama antara agama dan kekuasaan)” adalah sebuah proses kebudayaan yang berlangsung secara lambat namun pasti dalam konstelasi purba budaya perpolitikkan umat manusia. Kaum Pagan memang memuja kekuatan alam sebagai manifestasi Tuhan, namun lantas mereka mewujudkan manifestasi itu kedalam suatu wujud, dan perwujudan ini adalah suatu penghinaan tersendiri terhadap keagungan Tuhan dan para penyampai risalahnya. Dalam kasus agama Kristen, kita melihat bagaimana persejawatan lembaga keagamaan dan kekuasaan pemerintah dapat menghasilkan budaya yang tetap ada hingga kini, terlepas dari banyaknya darah yang ditumpahkan dari ajaran Jesus yang penuh cinta kasih itu. Mereka telah berhasil membangun sebuah landasan keyakinan bagai para penganutnya.
Tidak ada maksud melecehkan ajaran agama tertentu, saya hanya berharap dapat berbagai secercah kebenaran dan bukan pembenaran. Tulisan ini telah saya buat 2 bulan sebelumnya, karena kesulitan untuk mendapatkan bahan-bahan yang faktual ,maka disela-sela kesibukan skripsi sialan itu saya dapat menyelesaikan tulisan pertama tentang keagamaan. Sebetulnya tulisan ini terbagai menjadi 3 judul utama. Dan 2 judul lagi akan saya keluarkan setelah merevisinya.
Repertoire:
- Black Sabbath – Lords Of This World
- Buddhistson – Wisely And Slow
- Toe – Tremolo + Delay
- Led Zeppelin – Black Dog
- Shelter – Message From The Bhagavat
- Ballerina – Faith
- Dying Fetus – Praise The Lord (Opium Of The Masses)
And whole full album from: KSE, SOTY, LOG and Homicide.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar