Kamis, 20 Oktober 2011

TUHAN AGAMA


12 october 2011, Sejak kecil saya percaya bahwa Tuhan itu ada. Di kemudian hari saya percaya bahwa Tuhan adalah realitas tertinggi yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan—bahkan menciptakan ketiadaan itu sendiri (Creatio ex nihilo). Saya memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan. Pun dengan kadar keimanan yang, dalam perspektif kejumudan para ulama literalis, secara kuantitas syariat saya terbenam jauh di dasar klasemen. Namun saya percaya Tuhan tidak sekejam apa yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, pula tidak sekaku apa yang para ulama fundamentalis-literalis itu tuturkan.  Meminjam pertanyaan Omar Khayam, “Jika Tuhan membalas keburukan dengan keburukan pula, lalu apa bedanya Tuhan dengan saya?”

Bagi saya, Tuhan sebagai realitas tertinggi tidak bisa didefinisikan sebagai sebuah fakta objektif atau melalui abstraksi intelektual yang hanya mengandalkan seperangkat proposisi textual yang yang dimaknai secara imajinatif. Untuk benar-benar memahami Tuhan diperlukan tingkat ‘kesadaran’ yang tinggi dan empirisme transendental melalui dimensi kontemplatif yang bersifat rasional. Tidak mengherankan jika gambaran perihal surga dan neraka dapat lebih dimengerti oleh sebagian besar manusia ketimbang gambaran tentang Tuhan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena keduanya, baik surga maupun neraka adalah realitas yang secara imajinatif benar-benar dapat dipahami. Dengan kata lain, manusia pada umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memaknai realitas tertinggi melalui pendekatan historis, simbolik, imajinatif, rasionalistik dan illuminatif. 

Empirisme transendental selalu menghadirkan nuansa yang tak lazim. Nuansa yang datang dari sunyi ke bunyi lalu berakhir dengan konstruksi yang lebih rapih yang kita kenal sebagai agama. Agama sepertihalnya Tuhan bukanlah seperangkat proposisi tekstual yang dapat didefinisikan sebagai sebuah fakta objektif. Agama adalah ajaran pembebasan yang bersifat illuminatif, fleksibel, dan nisbi. Agama tidak bisa terlepas dari situasi asal usulnya yang kompleks. Hal inilah yang dilupakan sebagian besar manusia, sehingga dogma dan doktrin dari sebuah agama menjadi begitu banal dalam kejumudan yang pragmatis. 

Karena sifatnya yang pragmatik, agama, dalam sejarahnya yang panjang, selalu disalahgunakan, bahkan hal itulah yang sering dilakukan sebagian besar manusia. Sebelum senjakala saat Nietzche membunuh tuhan di wilayah barat, agama telah menjadi mitra yang sangat menguntungkan pihak penguasa yang ingin memanifulasi kehidupan manusia lainnya. Saya teringat Hobbes, “Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.” Namun, manusia lainnya ini pada umumnya bersikap anti-reaksionis bila dihadapankan kepada institusi keagamaan yang telah mendapatkan legalitas kaum penguasa. Hal tersebut adalah hasil dari ketakterjangkuan makna Tuhan dari suatu ajaran agama, seperti apa yang telah saya sebutkan di atas. Atau dalam kebanyakan kasus sengaja dibuat ‘tidakterjangkau’ dengan melabelkan kata haram ketika seseorang berusaha untuk menyingkap tabir Ilahi yang sesungguhnya demi menjaga peta-peta kekuasaan. 

Saya dibesarkan dalam nuansa religiusitas yang semarak. Almarhum kakek saya adalah seorang muslim tradisionalis yang bervisi seperti Hakim Bey, sedangkan nenek saya seorang puritan yang menegakan syariat pendahulunya namun cukup toleran bila dihadapkan dengan realitas kekinian. Sedangkan Almarhum kakek saya di pihak bapak adalah seorang pencari Tuhan. Beliau pernah memeluk berbagai macam agama. Saya sempat dibuat kaget ketika menemukan sebuah jurnal kecil milik almarhum yang berisi liturgi ordo Rosicrucian; sebuah ordo yang konon berafiliasi dengan ordo Kesatria Templar. Tapi pada akhir pencariannya, beliau menemukan Sufisme sebagai jalan ‘pulang’ menemui penciptanya. Dan kedua orang tua saya cenderung berpandangan moderat dalam ranah keagamaan; artinya biasa-biasa saja. 

Karena pengaruh nuansa religiusitas yang semarak itulah, bagi saya agama—Islam dalam hal ini—adalah ‘kata-kata’ Tuhan yang bersifat universal tanpa adanya sekat yang membatasi ruang gerak cahayanya. Saya ingin membebaskan Islam dari berbagai mitos yang secara tidak langsung menegasi maknanya; pun usaha-usaha saya selalu berakhir dengan label murtad atau atheis. Mitos-mitos dalam Islam sendiri adalah hasil dari pola-pola relasi yang bersifat normatif. Artinya, Islam sebagai sebuah ajaran agama tidak sepenuhnya terlepas dari ide awal (baca: Kebudayaan) sebuah masyarakat yang membentuk dan yang menerimanya. Di Indonesia sendiri, Islam tidak bisa terlepas dari kepercayaan awal masyarakatnya yang dahulu kala beragama Hindu-Buddha dan sebelumnya cenderung memiliki kepercayaan monotheistik primodial. Hal ini dapat dimaklumi secara alkulturasi historis, karena untuk merubah dasar sistem kepercayaan sebuah masyarakat adalah sesuatu hal tidak mudah.  Saya sependapat dengan Ali Asghar, bahwa dalam mengkaji Islam secara historis diperlukan pemahaman yang memadai mengenai realitas lingkungan yang konkrit di mana agama Islam itu di lahirkan, pula lingkungan lainnya yang menjadi tempat perkembangan selanjutnya. Ashgar meyakini bahwa untuk mengkaji Islam secara utuh diperlukan pendekatan secara matrealisme-historis. Pun—tetap—tidak sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas dari sejarahnya. 

Sungguh ironis melihat fenomena yang terjadi di akhir zaman ini. Islam tak ubah seperti komoditas dagang yang dilempar ke hadapan altar pasar bebas dan mereduksi makna spiritualnya ke level yang paling fatal. Ini adalah hasil dari kejumudan para puritan yang ingin memoderenisasi Islam tanpa mengkaji ulang maknanya secara menyeluruh. Akibatnya begitu mengerikan, Islam menjadi sangat eklusif, menjadi sangat individualistik, dan menegasi makna sosialismenya. Dalam setiap ceramah di layar televisi, para penceramah yang jumud itu hanya berkoar tentang kesalehan individu, sebuah euphuism dalam mengobral pahala. Pun demikian, seperti kata Homicide, “khalayak tak pernah salah memuja Thagut penampakan.”, karena begitu banyak faktor yang membentuknya seperti itu. Adalah kita yang setidaknya mau belajar dan memahai makna Islam yang sebenarnya harus mengadakan perlawanan untuk memutus selang infus banalitas tersebut. Penalaran melalui pengetahuan yang baik dalam arti memadai, akan mengantarkan kita kepada pandangan yang lebih utuh dalam memaknai ajaran agama Islam. Tapi jangan pula menjadikan penalaran rasional sebagai pusat kebenaran, karena hal tersebut akan melahirkan berhala baru— kejumudan yang serupa, yang tak kalah mengerikannya dari penafsiran para ulama literalis terhadap Tuhan dan ‘agamaNya’. Adalah bagaimana kita menginternalisasinya melalui ‘hati’ kita, melalui kejernihan pikiran yang transendental, dan melalui pemahaman filosofis yang nisbi dalam keniscahyaan ‘kata-kata’ Tuhan tersebut. 

Saya sadari, catatan singkat ini tak cukup untuk merangkup kompleksitas relasional antara Tuhan, agama, dan manusia. Namun sungguh pun demikian, saya berharap, siapapun yang membaca catatan saya mendapatkan sebuah keniscahyaan dan memaknai tulisan saya ini sebagai sebuah kemungkinan di antara ruang ke-tidakmungkin-an. Ke-semementara-an makna dalam ketidak-sementara-an. Sehingga tercipta sebuah pandangan baru yang mungkin saja dapat mengantarkan kita kembali pada kemurnian makna Tuhan, agama, dan kita sendiri. Umat manusia. 

Word: Lingga Agung Partawijaya
Repertoire:
1.       Niyaz – Allahi Allah
2.       Tori Amos & Maynard James Keenan – Muhammad My Friend
3.       Russian Circle – When The Mountain Comes To Muhammad
4.       Efterklang – Illuminant
5.       God Is An Astronaut – Infinite Horizons
6.       A Silver Mt. Zion – Sisters! Brothers! Small Boats Of Fire Are Falling From The Sky!
7.       Peter Gabriel Feat Nusrat Fateh Ali Khan – Signal To Noise
    

1 komentar:

  1. tulisanmu tentang islam dipostinganmu jadi keliatan serem, salutt!!

    BalasHapus