11 September 2013, Anne yang baik, surat ini aku tulis bukan tanpa sebab. Tiga tahun terakhir aku mencari-cari jejakmu, padahal kita masih satu kota. Ya, satu kota, mungkin. Tapi aku selalu percaya kamu masih berada di kota ini. Kota yang konon bernuansa sama seperti kota Rennes Le Chateau di Perancis bagian selatan sana. Entah karena pencarianku tidak terlalu serius atau karena kamu memang sulit untuk dicari. Berbagai jejaring sosial telah aku gunakan, untuk mencarimu, dan hasilnya nihil. Banyak sekali nama Anne. Sekitar 2000 nama. Yang paling pertama muncul tentu saja Anne Frank, si gadis Yahudi dengan buku diarynya yang teramat kesohor itu. Aku lupa nama belakangmu. Sungguh. Aku hanya mengingat nama depanmu saja. Anne. Tapi, ya, ya, ya, harus aku akui, mungkin aku tidak terlalu bersungguh-sungguh mencarimu. Bisa saja aku menanyakan keberadaanmu pada kawan-kawan kita semasa kuliah dulu. Tapi entahlah, aku tidak berpikir sampai ke arah sana. Atau karena, ah entahlah. Pokoknya aku sudah berusaha mencarimu.
Apa kabarmu? Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Walaupun saat itu, saat kita bertemu di sebuah konser musik, kita hanya berbasa-basi menanyakan kabar saja. Dan dari situlah aku mulai mencarimu lagi. Akhirnya, aku berhasil menemukanmu di salah satu laman Alumnus Universitas kita yang tidak tercinta. Dari situ pula aku menemukan alamat e-mailmu ini. Dan akhirnya aku dapat mengingat nama belakangmu dan ya nama lengkapmu yang panjang itu, Wredhuvati, ya, Annelia Niskala Wredhuvati. Wow, what such a beautiful name. Pantas saja, aku tidak pernah menemukanmu. Anne yang baik, sebelumnya aku ingin meminta maaf karena kelancanganku ini. Maksudku, secara tiba-tiba, setelah tiga tahun lamanya tidak bertemu, aku mendadak menulis surat yang isinya, mungkin, akan menggemparkan seluruh dunia, duniamu, maksudku. Mungkin juga tidak. Mungkin kamu akan bersikap biasa-biasa saja, atau bahkan tidak memerdulikan surat ini sama sekali.
Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi selama kuliah, aku sering memerhatikanmu dengan lekat. Sering mencuri-curi pandang. Dan ketika kamu membalas pandanganku yang menawan ini, aku menunduk. Aku malu. Aku tahu, kita tidak pernah dekat. Kita hanya bertegur sapa seperlunya. Mungkin kamu akan menanggap aku ini orang stress yang sedang iseng. Tapi ketahuilah. Aku tidak sedang iseng, aku serius. Bukan serius yang band itu, tapi serius dalam pengertian yang sesungguhnya. Nggak main-main. Anggap saja aku ini seorang penggemar rahasia yang tidak pernah sanggup untuk sekedar berbicara selama lima atau sepuluh menit saja. Kamu pasti heran, kenapa? Ya karena aku terlalu malu. Aku memang tak pandai dalam masalah pendahuluan, terlalu banyak ketakutan. Takut tidak dianggap mungkin salah satunya. Itu semua aku rasakan karena sikap kamu yang nampak dingin. Dan karenanya aku jadi sungkan tiada terkira untuk sekedar mengobrol saja.
Anne yang baik, matamu, ya, kedua matamu itulah yang telah menarik seluruh perhatianku. Mata yang indah, mata yang penuh dengan kecemerlangan. Binar-binar yang melukiskan kecerdasan yang luar biasa. Alismu yang melengkung tajam itu pun menambah daya magis matamu yang oriental itu. Kenapa daya magis? Mungkin karena aku telah tersihir selama tiga setengah tahun dan dibuat tidak berdaya karenanya. Ok, bagian ini terasa agak berlebihan tapi itulah adanya. Mungkin kata-kata sudah tidak sanggup lagi untuk melukiskan betapa aku sangat terpesona olehmu, oleh mata indahmu itu. Namun apa daya, mungkin saat itu aku terlalu pengecut untuk sekedar memberanikan diri berbincang-bincang denganmu, apa lagi untuk yang lainnya. Aduh, mana sanggup. Begitulah adanya, dan dikemudian hari aku sangat menyesal sehingga aku berusaha untuk mencarimu. Dan entah kebetulan atau apa, kita akhirnya bertemu di konser musik itu. Dipertemukan? Ah, entahlah, tapi aku senang sekali ketika bertemu denganmu lagi.
Mungkin untuk saat ini hanya ini yang bisa aku katakan, (Aduh susunan kata-kataku sudah tidak keruan, maklum aku agak-agak grogi) Apakah kamu akan membalas surat ini atau tidak itu semua terserah padamu. Aku tidak berhak untuk memaksa. Pun aku sangat mengharapkannya. Aku harap kamu tidak berprasangkan yang bukan-bukan, aku harap kamu tidak sampai terkejut sekali sehingga kamu langsung mencariku. Tapi itu ide yang bagus, karena aku mudah untuk dicari. Ah, sudahlah, aku sudah terlalu banyak melantur. Ok, Anne yang baik, aku akhiri surat ini dengan sebuah smiley: :)
Temanmu, Kailasha Puntadeva.
13 September 2013, Anne yang baik, aku ingin berterimakasih karena setelah aku mengirim surat itu kamu langsung membalasnya beberapa jam kemudian. Dan terimakasih pula kamu telah menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. Sebetulnya aku sangat grogi bukan kepalang saat kamu mengajakku bertemu. Aku ini orang yang paling percaya diri di seluruh dunia dan akhirat, tapi entah kenapa rasa percaya diriku yang teramat besar itu mendadak lenyap bagai ditelan bumi. Namun dengan kekuatan bulan, aku membulatkan tekad. Aku memberanikan diri. Dan ya, hari yang gerimis itu menjadi semacam momentum yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku melihatmu duduk dengan penuh keanggunan, senyumanmu yang khas itu menyambutku dengan penuh kehangatan. Aku semakin, semakin apa ya? Semakin terpesona. Untung saja pipiku tidak langsung memerah seperti warna tomat. Matamu, ya, mata itu, mata yang sangat aku kenal, menatapku seakan menembus jantungku dan memorakporandakannya. Ini baru berlebihan. Tapi begitulah adanya. Begitulah yang aku rasakan saat untuk pertama kalinya aku bertemu kembali denganmu, Annelia Niskala Wredhuvati.
Dan untuk pertama kalinya pula setelah tiga tahun lamanya aku mendengarkan kembali suaramu yang menurutku renyah itu. Aku kaget, ternyata kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Kamu begitu hangat, “Dulu aku memang dingin, ya bisa disebut pendiamlah.” Katamu, “Lalu apa yang membuatmu berubah?” Kataku, “People change, people do change, Kailasha” Katamu sambil tersenyum dan menatapku dengan mata indahmu itu. Kita mengobrol kesana-kemari, dari masa lalu hingga masa kini. Kamu memang berbeda, Anne. Tutur katamu yang lembut itu sangat mencerminkan kecerdasanmu sebagai seorang perempuan. Saat kamu meminum Lemon ice yang dingin itu, aku menatapmu dengan lekat. Aneh, rasanya kamu masih seperti dulu. Maksudku tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali rambutmu yang dahulu di bob itu kini telah terurai panjang. Mungkin orang-orang yang tidak mengenalmu akan berpikir bahwa kamu itu masih anak SMA, atau ya, baru masuk kuliahlah. “Ayo, sekarang kita kemana?” Ajakmu, yang secara langsung memecah lamunanku, “Emmm, kemana ya? Jalan-jalan aja deh, gimana?” Kataku sambil menghabiskan kopi yang hitam itu, “Ok, mari kita jalan-jalan.” Katamu sambil mengikat rambut.
Kita berjalan-jalan sehabis hujan, kamu tahu, berjalan-jalan sehabis hujan adalah salah satu momen yang paling aku sukai. Ternyata kamu benar. Kamu memang telah banyak berubah. Aku selalu dibuat tertawa-tawa oleh semua gerak-gerik dan ucapanmu yang menurutku sangat kocak. Kamu masih ingin kipas angin yang old school itu? Ya, kamu berdiri di depannya lalu memeragakan seorang perempuan India yang sedang bernyanyi dan menari-nari. Hembusan angin membuat rambutmu yang halus itu bergoyang-goyang dengan segala gerak keindahan. Aku hanya terdiam, terdiam bukan karena aku malu dengan tingkahmu itu tapi karena aku semakin… semakin itulah, aku pun hanya bisa tertawa sampai-sampai pegal rahangku ini.
Anne yang baik, sekali lagi terimakasih telah menyempatkan waktumu yang padat itu untuk sekedar meluangkan waktu bersamaku yang kurang penting ini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi sahabat yang baik. Kamu bisa menjadi sahabat yang bisa aku pacari, eh, bukan-bukan, sahabat yang seperti sepasang kekasih, aduh bukan, sahabat yang bagaikan kepongponglah, sahabat sejati. Sahabat yang bisa saling mengerti :p. Maaf, ya, aku sudah mulai ngelantur lagi nih. Aku harap kamu tidak berpikir yang bukan-bukan, karena aku memang tidak bukan-bukan. Hanya bukan itu maksudku. Aduh apa ya? Ya gitulah… maksudku gini, emmm gitulah. Sekali lagi terimakasih banyak, terimakasih.
Temanmu, Kailasha Puntadeva.
16 September 2013, Anne yang baik, maaf telah telah membuatmu sedikit tidak enak karena paragraph terakhir disuratku yang lalu. Aku tahu, mungkin aku terlalu cepat—secara tidak langsung—mengutarakan isi hatiku. Disebuah e-mail pula. Lelaki macam apa aku ini? Aduh, inilah kejelekanku yang coba aku hilangkan. Aku kurang penyabar. Tapi apa daya, tiga tahun, bukan tiga tahun tapi enam tahun lebih, aku memendam rasa ini. Anne yang baik. Jujur saja, aku menyukaimu, sangat teramat menyukaimu. Aku ingin sekali berbicara langsung, tapi aku terlalu takut, takut menggangu waktumu yang sedang sibuk-sibuknya. Dan aku takut setelah aku berbicara, kamu akan langsung kabur. Percayalah, aku tidak mengada-ada. Sekali lagi maafkan aku, karena aku tidak bermaksud mengganggu pikiranmu, apalagi mengganggu kehidupanmu. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang sebenarnya aku rasakan sedari dulu, sewaktu kita masih sama-sama kuliah.
Anne yang baik, aku tak meminta jawaban apapun, sungguh, aku hanya ingin mengutarakannya saja. Biar segala rasa yang telah aku pendam ini terbebas. Ya, memang terlalu cepat, sangat cepat. Baru bertemu kembali, dan sesudahnya aku menulis surat yang isinya begitu, maksudku yang ada disurat terakhir itu. Bagaimanapun juga, aku orang baru dalam kehidupanmu walaupun kita sudah kenal lama sekali. Walaupun aku telah memendam rasa itu lama sekali. Hanya saja kamu nggak tahu karena ya, itu dia, damn, aku terlalu pengecut. Andai saja ada mesin waktu yang bisa membawaku kembali, aku tidak akan berpikir panjang lagi. Anne yang baik, bukan salahmu jika kamu tidak bisa berkomentar apapun, apalagi menjawab apa yang telah aku utarakan. Jika kamu merasa tidak enak dengan semua ini, anggap saja aku tidak pernah berbicara padamu seperti itu. Anggap saja aku tidak pernah mengutarakan apapun. Aku takut kamu akan menjauhiku karena isi suratku itu. Sangat takut. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengutarakannya saja. Anne yang baik, aku mohon, jika surat-suratku ini mengganggu pikiranmu atau kehidupanmu, maafkanlah aku, semoga kita masih bisa berteman, dan aku harap kita masih bisa bertemu.
Temanmu, Kailasha Puntadeva.
Repertoire:
1. Euphoria – Quiet Rain
2. Morcheeba – Fear And Love
3. My Bloody Valentine – I Only Said
4. Fiona Apple – A Mistake
5. Aeon Spoke – No Answers
6. The Ataris – Unopened Letter To The World
7. Norah Jones – I've Got To See You Again

Tidak ada komentar:
Posting Komentar