BULAN SUCI DAN INSUREKSI IMPULSIF
“When the elite make a one world government police state, I know y'all relate and even I hope I'm wrong, but I know I'm not, coz’ I know what the fuck is going on.” —Diabolic, Truth PT II.
“And you can't fathom the truth, so you don't hear me. You think illuminati's just a fuckin conspiracy theory?” —Immortal Technique, Cause of Death.
"...selama ini saya tak pernah berjuang membela rakyat, yang saya lakukan adalah membela diri sendiri dan komunitas saya." —Wiji Thukul dalam sebuah wawancaranya.
01 September 2010—Tyler Durden bisa saja mewujud kehadapan saya dengan gaya yang maha-kerennya itu, tapi untung saja hal itu tidak pernah terjadi. Dan jangan sampai terjadi, jika hal itu terjadi bisa-bisa saya mendirikan sebuah persekutuan pukul-memukul bagi para insomnia (er), lalu babak belur dihajar para pemimpin Ormas yang bisanya hanya berkoar tentang bagaimana mengamankan peta kekuasaan dan menyamankan posisi meraka sebagai mitra para pejabat pemerintahan yang asshole itu. Saya ingat betapa kisah-kisah Danarto membawa saya melintasi berbagai ruang dimensi—sebuah elaborasi tradisi sufistik yang tersalah-artikan oleh para perapal kitab suci. Serupa Al-Hallaj dan Siti Jenar yang bertukar rima di puncak Arasy, terkadang revolusi harus terjadi dengan atau tanpa Al-Mahdi.
Komposisi meta-imaginary Ólafur Arnalds melebur bersama tarian para B-boy di senjakala yang sama ketika Nietzsche membunuh tuhan. Apakah kejatuhan Adam telah ditebus oleh seorang messiah yang konon menjadi martir ditiang salib kemudian bangkit pada hari ketiga? Sebuah jejak paganisme yang mengultuskan semesta sebagai sebuah wujud Illahiah. Organisme tunggal, saya selalu ingat itu. Semesta yang tak berujung adalah satu kesatuan yang mutual. Ia diciptakan; berawal dan berakhir sebagai suatu bentuk chaos. Sebuah ada namun bukan ada itu sendiri yang ada sebelum ketiadaan menjadi ada. Dan ketiadaan bukanlah ada namun ada sebelum terlahirnya ada dan tiada. Seperti kata Al-Ghazali: “Ia dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan yang sehampa-hampanya”. Creatio Ex Nihilo. Ia ada dan melampaui yang ada dan tiada sebelum ketiadaan benar-benar ada. Ah, Lagi-lagi kepulan asap rokok berotasi serupa Rumi dalam bingkai aklamasi anjing hutan belakang rumah saya.
Terima kasih banyak untuk Bangsat Familia: Sudah beberapa minggu ini saya tertidur untuk menyapa lahirnya matahari dan terbangun untuk melepas kematiannya. Untung saja saya tidak selalu sendiri, beberapa kawan baik saya secara sukarela menjerumuskan diri kedalam pola yang entah bagaimana tersusun secara baik serupa cetak biru penaklukan dunia a la para Zionis Imperialis sialan itu. Saya mulai menyukai bagaimana kelelawar dan bulan mewujud menjadi semacam visualisasi post-mortem ahistoris yang begitu eksotis. Ada semacam ketenangan yang membaptis pikiran saya untuk terus memproduksi beberapa solusi maut, yang, mungkin akan mampu menegasikan beberapa masalah yang selalu menari-nari setiap kali saya terbangun di sore hari. “Heh, makruh tertidur sepanjang hari di bulan Ramadhan! Gak akan dapet pahala…” kata pak ustad. Dan saya benar-benar tidak perduli dengan segala bentuk kalkulasi pahala yang ia tawarkan—saya bosan dengan konsep pahala dan dosa, silahkan ambil jatah pahala dan dosa saya jika pak ustad benar-benar meninginkannya. Bluaaahh!
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bagi para perampok yang bersembunyi di balik merek dan label harga untuk melakukan penjarahan besar-besaran atas nama sebuah kebaruan. Pahala pun melebihi Tuhan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, acara-acara televisi di bulan Ramadhan merupakan sebuah bentuk kontra apostolik yang menyuguhkan komedi-komedi slapstick dan bualan para ustad dan ustadjah yang mencoba untuk menjadi selebritis dengan mengobral Tuhan, kitab suci, dan para perisalah-Nya. Sebuah degradasi dari bulan yang seharusnya semarak dengan bianglala Illahiah; dimana Jibril untuk kali pertamanya bernubuat kepada Nabi Akhir Zaman: “Bacalah!”. Tapi yang ada hanya Kekosongan, ya kekosongan, itulah yang kita rayakan pada setiap bulan Ramadhan. Adzan magrib hanya menjadi terompet dari sebuah perayaan makan semata. Tiada kontempalsi serupa para sufi, dan mungkin berakhir ditempat yang sama ketika Musa turun gunung. Ketika Ajaran Nabi Muhammad bercabang seribu layaknya pohon Bodhi yang berguguran di tanah Hindustan.
Beberapa hari ini, para pemimpin negeri kita tercinta kembali berulah; bersikap kurang ajar, keterlaluan, dan seperti biasa: memalukan! Sudah saya katakan, tidur itu lebih baik daripada harus mengantri pada saat Pemilu dan mencontreng foto-foto mahluk asing pada selembar kertas yang konon segede Jalak Harupat itu. Busyet! Heh, bung, satu triliyun itu bisa dipergunakan untuk membangun sekolah gratis dan rumah untuk para perempuan tua yang kalian sebut sebagai janda-janda pahlawan. Pahlawan? Ah, saya lupa. Tahu apa kalian tentang pengorbanan para pahlawan yang kini menebus pakaian, rumah, mobil, gundik, dan segala kemewahan yang kalian dapatkan secara cuma-cuma itu! Apakah saya harus mengundang Nergal atau Immortal Technique untuk bertausyiah di gedung rakyat yang sama sekali tidak merakyat itu?
03 September 2010—Tidak ada pemenang dalam sebuah peperangan; ladang Kurusetra nyatanya hanya melahirkan nisan-nisan tanpa nama. Pun benar dan akan selalu menjadi semacam subjektivitas yang berat sebelah—tergantung tukang cerita mana yang kita sewa untuk mevisualisasikannya kembali. Peperangan akhir zaman adalah sebuah ladang kokain bagi para korporat sekelas Rothschild family. Peperangan hanya akan melahirkan petaka yang beranak pinak, bertiwikrama dalam wujud yang sebenar-benarnya adalah neraka jahanan itu sendiri. Ada sebuah agenda tersembunyi dimana kepentingan korporat adalah segitiga satu bermata. Mereka memecah belah sebuah bangsa dengan metode yang hampir serupa dengan metode penjajahan yang pernah bangsa kita alami selama 350 tahun lamanya (kurang-lebih). Kita harus mampu menjaga stabilitas nalar sehingga kita tidak terhanyut dalam arus insureksionis yang impulsif. Tidak heran jika beberapa ayat di dalam Kitab Suci selalu diakhiri oleh pertanyaan: “Apakah kalian tidak berpikir?”
Berperanglah serupa para intifada di tanah Jerusalem, berperanglah untuk keterjajahan, dan berperanglah untuk kebebasan itu sendiri. Namun Tuhan akan terlupakan jika muasal peperangan itu sendiri adalah sebuah kemenangan bagi para konspirator yang selama berabad-abad lamanya berusaha untuk merampungkan piramida satu dollar, dan menciptakan sebuah tatanan dunia baru yang akan mereka atur seenak perut mereka sendiri. Menara-menara panoptikan akan tegak berdiri di seluruh anak benua Pangea jika kita tidak menyadari siapa musuh kita sebenarnya. Namun, bagaimana mungkin memerangi jadah global masonry jika bangsa ini perlahan-lahan mewujud menjadi sebuah Negara korporasi? “Jangan pernah bertanya apa yang telah kita berikan untuk Negara ini, tapi bertanyalah apa yang telah diberikan oleh Negara ini untuk hidup kita?”. Jawabnya mungkin tidak ada. Sama sekali tidak ada. Menukil Homicide: “Organize your community, empower your surrounding!”. Setidaknya metode-metode perlawanan seperti itulah yang membawa nabi Muhammad merebut kembali kota Mekkah tanpa setetes darah mengalir. Dari “Chiapas, Jalur Gaza, Seattle, Praha, Chechnya, Genoa, Jerusalem, Dili, Tripoli” dan Buol; join the resistance and fuck the government authority!
Lalu hari raya tinggal menghitung hari. Namun dari tahun ke tahun index korban kekerasan aparatus Negara terus meningkat. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin bertingkah seakan meraka tidak perduli. Inilah realitas dari sebuah bangsa yang diperbudak korporasi. Lullaby utopis Morpheus adalah sebuah konsumerisme fatalistik yang mewujud pada setiap nadi di pusat-pusat perbelanjaan. Jika Homicide berusaha untuk memutus selang infus antara Negara dan institusi hingga mampus maka kita seharusnya memenggal kuasa korporat dan Negara hingga mampus pula. Bayangkan saja jika hubungan antara manusia didasari oleh kepentingan-kepentingan matrealistik? Itulah yang sebenar-benarnya mereka inginkan. Maknai Hari Raya sebagai sebuah penentangan terhadap otoritas-otoritas yang membelenggu esensi awal kejatuhan Adam dan Hawa di muka bumi ini. Bila memang sangat diperlukan, turun gunung serupa Zarathustra adalah opsi yang paling rasional.
Word: Lingga A. Partawijaya
Repertoire:
- Immortal Technique – 4th Branch
- Diabolic feat. Immortal technique – Frontlines
- La Coka Nostra feat. Q-Unique and Immortal Technique – Nuclear Medicinemen
- KRS-ONE and Buckshot feat. Immortal Technique – Running Away
- Necro – Creepy Crawl
- Company Flow – Patriotism (Morgue Vanguard Remix)
* Plus a bunch of deadly-serious albums from:
Orphaned Land: Mabbol and The Never Ending Way of Orwarrior, Deformity: Murder Within Sin, Ólafur Arnalds: ...And They Have Escaped The Weight Of Darkness.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar