MATANYA
menembus apa? menembus hatiku. apanya? matanya
mata siapa? matanya
apakah kau yakin? ya, aku yakin
kenapa? karena matanya
mata siapa?
matanya
ceritakanlah padaku tentang mata itu?
matanya hitam kecokelatan
matanya selalu berbinar
penuh dengan kehangatan
mata siapa? matanya
aduh, mata siapa?
matamu
mataku?
ya, matamu
SECANGKIR REMBULAN
apa yang kau inginkan?
aku ingin rembulan
kau ini, memangnya aku ibumu
lho, kok?
itu ada lagunya, “ambilkan bulan, bu.”
ih, aku serius, cepat, aku menginginkan rembulan
emmmhhh, baiklah
hey, kita mau kemana?
katanya kau menginginkan rembulan
iya, tapi kenapa kau bawa aku ke kedai kopi?
sudah, lihat saja
menyebalkan!
aku pesankan kau kopi ya?
nggak mau, aku hanya ingin rembulan
terserah
ihhhhhhhhh!
kau memang terlihat cantik kalau sedang marah
huh, gombal
ini americano coffee, favoritmu
nggak mau!
aku hanya ingin rembulan, rembulan, rembulan
iya, lihat dahulu kopi itu
lho, kok bisa ada rembulan di dalam secangkir kopi?
LUKA
keheningan doa
membalut
lukaku
lukamu
lukanya
luka karena apa?
karena kita manusia
karena manusia tidak pernah tuntas
memelajari cinta
sehingga tercipta luka
luka yang lebar
menganga
lukaku
lukamu
lukanya
PUISI CINTA
buatkan aku puisi tentang cinta, katamu
ah, aku bukan penyair
tapi kau bisa menulis
iya, tapi aku bukan penyair
ayolah, buatkan aku puisi tentang cinta
iya-iya
cinta itu, sayang
bagai senja yang indah
sudah?
iya sudah
payah!
CIUM AKU
aku mau kau menciumku, dibibir
nggak mau ah
kenapa? apakah karena aku tidak cantik
apakah kau tidak mencintaiku?
bukan-bukan, bukan karena itu
aku mencintaimu, sungguh
kau perempuan tercantik di dunia ini
lantas kenapa kau menolak permintaanku?
karena aku belum gosok gigi, sayang
MUASAL CINTA
siapa yang paling kau cintai?
Tuhan
lalu aku?
aku juga mencintamu
kenapa kau lebih mencintai Tuhan?
tentu saja,
karena dari Tuhanlah cinta bermuasal
karena kepada Tuhanlah cinta bermuara
ANJING
tolong, carikan seekor anjing untuk saya pelihara
anjing jenis apa?
apa saja, yang penting anjing
saya ada nih, jenisnya anjing goblok
mau?
boleh-boleh, jenis baru ya?
iya
BERKELAKAR
(untuk Rezha Dylan Zulkifli aka Echot)
kawan, jangan pernah berhenti berkelakar, jangan!
hadirkanlah tawa terbahak,
rubuhkanlah duka nestapa
hidup terlalu percuma
jika hanya bermasam muka saja
hidup terlalu sebentar
untuk sekedar bermuram durja
kawan, jangan pernah berhenti
itu hobimu
hobimu
KAILASHA
kailasha, bajingaaaaaaaan kau!
apa, apa salahku?
kau telah memorakporandakan hatiku, menghancurkannya berkeping-keping
serupa debu; bertebaran tanpa arah yang jelas, hatiku sakittt sekali, kau memang bajingan!
manusia tidak punya hati, manusia sialan, keparat, banjingaaaaaaaaaaaaan!
hey, apakah salah jika aku mencari kebahagian untuk diriku sendiri?
salah?
yang benar saja
berikanlah kebahagian yang aku cari
sudah? aku tidak merasakannya
suatu hari nanti kau akan berterimakasih padaku
bluaaaaaaaaah, kau ini percaya diri sekali
memang
MENULIS
aku ingin menulis sesuatu tentangmu
tapi aku malu
aku bukan penulis ulung
pula bukan penyair handal
aku hanya bisa menulis dengan hatiku
ya hatiku
bagaimana mungkin hati bisa menulis?
kau telah membacannya
MALAM
malam yang dingin, gerimis pula
merona merah pipinya
bibirnya juga
matanya, ah berbinar selalu
keindahan itu, senyumannya
yang melekat selalu
yang selalu terbayang
setiap waktu
dibenakku
aku
mengawang
HATI
ini hatiku
mana hatimu?
MEMBURU
matamu mengatakan segalanya
lidahku kelu dalam kebisingan
detak jantung yang bergema
dengarlah, aku mohon
aku memburu sisa-sisa harimu
setiap senja tiba
karena memandangmu
adalah merengkuh surga
CINTA ITU
cinta itu, sayang
tak selalu terbalas
jadi?
cintailah dia dengan apa adanya
dengan ketulusan
yang tak berujung
seperti halnya cintaku
pada kekasihku,
Tuhan
JANGAN PERNAH
(untuk Ridwan Amorpath)
kawan, jangan pernah
tunduk
untuk patuh
karena siapa pun
“yang mengklaim dirinya pemimpin bumi
adalah pendusta!”*
*Dinukil dari lirik Homicide, Siti Jenar Cypher Drive.
KESABARAN
(untuk M. Alvin Rahadian)
kawan, darimana kau membelinya?
membeli apa?
kesabaranmu yang setingkat nabi
oh, itu, dari ketulusan
ketulusan itu orang mana?
orang simpang dago!
ADA
aku tiada tapi ada
ada adalah tiada yang ada
yang ada adalah tiada
tiada itu ada
semesta adalah ada yang tiada
tiada adalah yang mengada
ada adalah yang meniada
ada itu satu
aku!
word by Lingga A. Partawijaya, all written in 02-03 April 2011
Repertoire: A beautiful album from GOD IS AN ASTRONAUT, IF THESE TREES COULD TALK, RUSSIAN CIRCLE, THIS WILL DESTROY YOU, and TOE.
Minggu, 01 Mei 2011
SURAT UNTUK ANNE
Lingga Agung Partawijaya, Bandung, 21 maret 2011.
Repertoire:
1. Euphoria – Quiet Rain
2. Morcheeba – Fear And Love
3. My Bloody Valentine – I Only Said
4. Fiona Apple – A Mistake
5. Aeon Spoke – No Answers
6. The Ataris – Unopened Letter To The World
7. Norah Jones – I've Got To See You Again
11 September 2013, Anne yang baik, surat ini aku tulis bukan tanpa sebab. Tiga tahun terakhir aku mencari-cari jejakmu, padahal kita masih satu kota. Ya, satu kota, mungkin. Tapi aku selalu percaya kamu masih berada di kota ini. Kota yang konon bernuansa sama seperti kota Rennes Le Chateau di Perancis bagian selatan sana. Entah karena pencarianku tidak terlalu serius atau karena kamu memang sulit untuk dicari. Berbagai jejaring sosial telah aku gunakan, untuk mencarimu, dan hasilnya nihil. Banyak sekali nama Anne. Sekitar 2000 nama. Yang paling pertama muncul tentu saja Anne Frank, si gadis Yahudi dengan buku diarynya yang teramat kesohor itu. Aku lupa nama belakangmu. Sungguh. Aku hanya mengingat nama depanmu saja. Anne. Tapi, ya, ya, ya, harus aku akui, mungkin aku tidak terlalu bersungguh-sungguh mencarimu. Bisa saja aku menanyakan keberadaanmu pada kawan-kawan kita semasa kuliah dulu. Tapi entahlah, aku tidak berpikir sampai ke arah sana. Atau karena, ah entahlah. Pokoknya aku sudah berusaha mencarimu.
Apa kabarmu? Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Walaupun saat itu, saat kita bertemu di sebuah konser musik, kita hanya berbasa-basi menanyakan kabar saja. Dan dari situlah aku mulai mencarimu lagi. Akhirnya, aku berhasil menemukanmu di salah satu laman Alumnus Universitas kita yang tidak tercinta. Dari situ pula aku menemukan alamat e-mailmu ini. Dan akhirnya aku dapat mengingat nama belakangmu dan ya nama lengkapmu yang panjang itu, Wredhuvati, ya, Annelia Niskala Wredhuvati. Wow, what such a beautiful name. Pantas saja, aku tidak pernah menemukanmu. Anne yang baik, sebelumnya aku ingin meminta maaf karena kelancanganku ini. Maksudku, secara tiba-tiba, setelah tiga tahun lamanya tidak bertemu, aku mendadak menulis surat yang isinya, mungkin, akan menggemparkan seluruh dunia, duniamu, maksudku. Mungkin juga tidak. Mungkin kamu akan bersikap biasa-biasa saja, atau bahkan tidak memerdulikan surat ini sama sekali.
Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi selama kuliah, aku sering memerhatikanmu dengan lekat. Sering mencuri-curi pandang. Dan ketika kamu membalas pandanganku yang menawan ini, aku menunduk. Aku malu. Aku tahu, kita tidak pernah dekat. Kita hanya bertegur sapa seperlunya. Mungkin kamu akan menanggap aku ini orang stress yang sedang iseng. Tapi ketahuilah. Aku tidak sedang iseng, aku serius. Bukan serius yang band itu, tapi serius dalam pengertian yang sesungguhnya. Nggak main-main. Anggap saja aku ini seorang penggemar rahasia yang tidak pernah sanggup untuk sekedar berbicara selama lima atau sepuluh menit saja. Kamu pasti heran, kenapa? Ya karena aku terlalu malu. Aku memang tak pandai dalam masalah pendahuluan, terlalu banyak ketakutan. Takut tidak dianggap mungkin salah satunya. Itu semua aku rasakan karena sikap kamu yang nampak dingin. Dan karenanya aku jadi sungkan tiada terkira untuk sekedar mengobrol saja.
Anne yang baik, matamu, ya, kedua matamu itulah yang telah menarik seluruh perhatianku. Mata yang indah, mata yang penuh dengan kecemerlangan. Binar-binar yang melukiskan kecerdasan yang luar biasa. Alismu yang melengkung tajam itu pun menambah daya magis matamu yang oriental itu. Kenapa daya magis? Mungkin karena aku telah tersihir selama tiga setengah tahun dan dibuat tidak berdaya karenanya. Ok, bagian ini terasa agak berlebihan tapi itulah adanya. Mungkin kata-kata sudah tidak sanggup lagi untuk melukiskan betapa aku sangat terpesona olehmu, oleh mata indahmu itu. Namun apa daya, mungkin saat itu aku terlalu pengecut untuk sekedar memberanikan diri berbincang-bincang denganmu, apa lagi untuk yang lainnya. Aduh, mana sanggup. Begitulah adanya, dan dikemudian hari aku sangat menyesal sehingga aku berusaha untuk mencarimu. Dan entah kebetulan atau apa, kita akhirnya bertemu di konser musik itu. Dipertemukan? Ah, entahlah, tapi aku senang sekali ketika bertemu denganmu lagi.
Mungkin untuk saat ini hanya ini yang bisa aku katakan, (Aduh susunan kata-kataku sudah tidak keruan, maklum aku agak-agak grogi) Apakah kamu akan membalas surat ini atau tidak itu semua terserah padamu. Aku tidak berhak untuk memaksa. Pun aku sangat mengharapkannya. Aku harap kamu tidak berprasangkan yang bukan-bukan, aku harap kamu tidak sampai terkejut sekali sehingga kamu langsung mencariku. Tapi itu ide yang bagus, karena aku mudah untuk dicari. Ah, sudahlah, aku sudah terlalu banyak melantur. Ok, Anne yang baik, aku akhiri surat ini dengan sebuah smiley: :)
Temanmu, Kailasha Puntadeva.
13 September 2013, Anne yang baik, aku ingin berterimakasih karena setelah aku mengirim surat itu kamu langsung membalasnya beberapa jam kemudian. Dan terimakasih pula kamu telah menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. Sebetulnya aku sangat grogi bukan kepalang saat kamu mengajakku bertemu. Aku ini orang yang paling percaya diri di seluruh dunia dan akhirat, tapi entah kenapa rasa percaya diriku yang teramat besar itu mendadak lenyap bagai ditelan bumi. Namun dengan kekuatan bulan, aku membulatkan tekad. Aku memberanikan diri. Dan ya, hari yang gerimis itu menjadi semacam momentum yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku melihatmu duduk dengan penuh keanggunan, senyumanmu yang khas itu menyambutku dengan penuh kehangatan. Aku semakin, semakin apa ya? Semakin terpesona. Untung saja pipiku tidak langsung memerah seperti warna tomat. Matamu, ya, mata itu, mata yang sangat aku kenal, menatapku seakan menembus jantungku dan memorakporandakannya. Ini baru berlebihan. Tapi begitulah adanya. Begitulah yang aku rasakan saat untuk pertama kalinya aku bertemu kembali denganmu, Annelia Niskala Wredhuvati.
Dan untuk pertama kalinya pula setelah tiga tahun lamanya aku mendengarkan kembali suaramu yang menurutku renyah itu. Aku kaget, ternyata kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Kamu begitu hangat, “Dulu aku memang dingin, ya bisa disebut pendiamlah.” Katamu, “Lalu apa yang membuatmu berubah?” Kataku, “People change, people do change, Kailasha” Katamu sambil tersenyum dan menatapku dengan mata indahmu itu. Kita mengobrol kesana-kemari, dari masa lalu hingga masa kini. Kamu memang berbeda, Anne. Tutur katamu yang lembut itu sangat mencerminkan kecerdasanmu sebagai seorang perempuan. Saat kamu meminum Lemon ice yang dingin itu, aku menatapmu dengan lekat. Aneh, rasanya kamu masih seperti dulu. Maksudku tidak ada perubahan yang signifikan, kecuali rambutmu yang dahulu di bob itu kini telah terurai panjang. Mungkin orang-orang yang tidak mengenalmu akan berpikir bahwa kamu itu masih anak SMA, atau ya, baru masuk kuliahlah. “Ayo, sekarang kita kemana?” Ajakmu, yang secara langsung memecah lamunanku, “Emmm, kemana ya? Jalan-jalan aja deh, gimana?” Kataku sambil menghabiskan kopi yang hitam itu, “Ok, mari kita jalan-jalan.” Katamu sambil mengikat rambut.
Kita berjalan-jalan sehabis hujan, kamu tahu, berjalan-jalan sehabis hujan adalah salah satu momen yang paling aku sukai. Ternyata kamu benar. Kamu memang telah banyak berubah. Aku selalu dibuat tertawa-tawa oleh semua gerak-gerik dan ucapanmu yang menurutku sangat kocak. Kamu masih ingin kipas angin yang old school itu? Ya, kamu berdiri di depannya lalu memeragakan seorang perempuan India yang sedang bernyanyi dan menari-nari. Hembusan angin membuat rambutmu yang halus itu bergoyang-goyang dengan segala gerak keindahan. Aku hanya terdiam, terdiam bukan karena aku malu dengan tingkahmu itu tapi karena aku semakin… semakin itulah, aku pun hanya bisa tertawa sampai-sampai pegal rahangku ini.
Anne yang baik, sekali lagi terimakasih telah menyempatkan waktumu yang padat itu untuk sekedar meluangkan waktu bersamaku yang kurang penting ini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi sahabat yang baik. Kamu bisa menjadi sahabat yang bisa aku pacari, eh, bukan-bukan, sahabat yang seperti sepasang kekasih, aduh bukan, sahabat yang bagaikan kepongponglah, sahabat sejati. Sahabat yang bisa saling mengerti :p. Maaf, ya, aku sudah mulai ngelantur lagi nih. Aku harap kamu tidak berpikir yang bukan-bukan, karena aku memang tidak bukan-bukan. Hanya bukan itu maksudku. Aduh apa ya? Ya gitulah… maksudku gini, emmm gitulah. Sekali lagi terimakasih banyak, terimakasih.
Temanmu, Kailasha Puntadeva.
16 September 2013, Anne yang baik, maaf telah telah membuatmu sedikit tidak enak karena paragraph terakhir disuratku yang lalu. Aku tahu, mungkin aku terlalu cepat—secara tidak langsung—mengutarakan isi hatiku. Disebuah e-mail pula. Lelaki macam apa aku ini? Aduh, inilah kejelekanku yang coba aku hilangkan. Aku kurang penyabar. Tapi apa daya, tiga tahun, bukan tiga tahun tapi enam tahun lebih, aku memendam rasa ini. Anne yang baik. Jujur saja, aku menyukaimu, sangat teramat menyukaimu. Aku ingin sekali berbicara langsung, tapi aku terlalu takut, takut menggangu waktumu yang sedang sibuk-sibuknya. Dan aku takut setelah aku berbicara, kamu akan langsung kabur. Percayalah, aku tidak mengada-ada. Sekali lagi maafkan aku, karena aku tidak bermaksud mengganggu pikiranmu, apalagi mengganggu kehidupanmu. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang sebenarnya aku rasakan sedari dulu, sewaktu kita masih sama-sama kuliah.
Anne yang baik, aku tak meminta jawaban apapun, sungguh, aku hanya ingin mengutarakannya saja. Biar segala rasa yang telah aku pendam ini terbebas. Ya, memang terlalu cepat, sangat cepat. Baru bertemu kembali, dan sesudahnya aku menulis surat yang isinya begitu, maksudku yang ada disurat terakhir itu. Bagaimanapun juga, aku orang baru dalam kehidupanmu walaupun kita sudah kenal lama sekali. Walaupun aku telah memendam rasa itu lama sekali. Hanya saja kamu nggak tahu karena ya, itu dia, damn, aku terlalu pengecut. Andai saja ada mesin waktu yang bisa membawaku kembali, aku tidak akan berpikir panjang lagi. Anne yang baik, bukan salahmu jika kamu tidak bisa berkomentar apapun, apalagi menjawab apa yang telah aku utarakan. Jika kamu merasa tidak enak dengan semua ini, anggap saja aku tidak pernah berbicara padamu seperti itu. Anggap saja aku tidak pernah mengutarakan apapun. Aku takut kamu akan menjauhiku karena isi suratku itu. Sangat takut. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengutarakannya saja. Anne yang baik, aku mohon, jika surat-suratku ini mengganggu pikiranmu atau kehidupanmu, maafkanlah aku, semoga kita masih bisa berteman, dan aku harap kita masih bisa bertemu.
Temanmu, Kailasha Puntadeva.
Repertoire:
1. Euphoria – Quiet Rain
2. Morcheeba – Fear And Love
3. My Bloody Valentine – I Only Said
4. Fiona Apple – A Mistake
5. Aeon Spoke – No Answers
6. The Ataris – Unopened Letter To The World
7. Norah Jones – I've Got To See You Again
BULAN SUCI DAN INSUREKSI IMPULSIF
BULAN SUCI DAN INSUREKSI IMPULSIF
“When the elite make a one world government police state, I know y'all relate and even I hope I'm wrong, but I know I'm not, coz’ I know what the fuck is going on.” —Diabolic, Truth PT II.
“And you can't fathom the truth, so you don't hear me. You think illuminati's just a fuckin conspiracy theory?” —Immortal Technique, Cause of Death.
"...selama ini saya tak pernah berjuang membela rakyat, yang saya lakukan adalah membela diri sendiri dan komunitas saya." —Wiji Thukul dalam sebuah wawancaranya.
01 September 2010—Tyler Durden bisa saja mewujud kehadapan saya dengan gaya yang maha-kerennya itu, tapi untung saja hal itu tidak pernah terjadi. Dan jangan sampai terjadi, jika hal itu terjadi bisa-bisa saya mendirikan sebuah persekutuan pukul-memukul bagi para insomnia (er), lalu babak belur dihajar para pemimpin Ormas yang bisanya hanya berkoar tentang bagaimana mengamankan peta kekuasaan dan menyamankan posisi meraka sebagai mitra para pejabat pemerintahan yang asshole itu. Saya ingat betapa kisah-kisah Danarto membawa saya melintasi berbagai ruang dimensi—sebuah elaborasi tradisi sufistik yang tersalah-artikan oleh para perapal kitab suci. Serupa Al-Hallaj dan Siti Jenar yang bertukar rima di puncak Arasy, terkadang revolusi harus terjadi dengan atau tanpa Al-Mahdi.
Komposisi meta-imaginary Ólafur Arnalds melebur bersama tarian para B-boy di senjakala yang sama ketika Nietzsche membunuh tuhan. Apakah kejatuhan Adam telah ditebus oleh seorang messiah yang konon menjadi martir ditiang salib kemudian bangkit pada hari ketiga? Sebuah jejak paganisme yang mengultuskan semesta sebagai sebuah wujud Illahiah. Organisme tunggal, saya selalu ingat itu. Semesta yang tak berujung adalah satu kesatuan yang mutual. Ia diciptakan; berawal dan berakhir sebagai suatu bentuk chaos. Sebuah ada namun bukan ada itu sendiri yang ada sebelum ketiadaan menjadi ada. Dan ketiadaan bukanlah ada namun ada sebelum terlahirnya ada dan tiada. Seperti kata Al-Ghazali: “Ia dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan yang sehampa-hampanya”. Creatio Ex Nihilo. Ia ada dan melampaui yang ada dan tiada sebelum ketiadaan benar-benar ada. Ah, Lagi-lagi kepulan asap rokok berotasi serupa Rumi dalam bingkai aklamasi anjing hutan belakang rumah saya.
Terima kasih banyak untuk Bangsat Familia: Sudah beberapa minggu ini saya tertidur untuk menyapa lahirnya matahari dan terbangun untuk melepas kematiannya. Untung saja saya tidak selalu sendiri, beberapa kawan baik saya secara sukarela menjerumuskan diri kedalam pola yang entah bagaimana tersusun secara baik serupa cetak biru penaklukan dunia a la para Zionis Imperialis sialan itu. Saya mulai menyukai bagaimana kelelawar dan bulan mewujud menjadi semacam visualisasi post-mortem ahistoris yang begitu eksotis. Ada semacam ketenangan yang membaptis pikiran saya untuk terus memproduksi beberapa solusi maut, yang, mungkin akan mampu menegasikan beberapa masalah yang selalu menari-nari setiap kali saya terbangun di sore hari. “Heh, makruh tertidur sepanjang hari di bulan Ramadhan! Gak akan dapet pahala…” kata pak ustad. Dan saya benar-benar tidak perduli dengan segala bentuk kalkulasi pahala yang ia tawarkan—saya bosan dengan konsep pahala dan dosa, silahkan ambil jatah pahala dan dosa saya jika pak ustad benar-benar meninginkannya. Bluaaahh!
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bagi para perampok yang bersembunyi di balik merek dan label harga untuk melakukan penjarahan besar-besaran atas nama sebuah kebaruan. Pahala pun melebihi Tuhan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, acara-acara televisi di bulan Ramadhan merupakan sebuah bentuk kontra apostolik yang menyuguhkan komedi-komedi slapstick dan bualan para ustad dan ustadjah yang mencoba untuk menjadi selebritis dengan mengobral Tuhan, kitab suci, dan para perisalah-Nya. Sebuah degradasi dari bulan yang seharusnya semarak dengan bianglala Illahiah; dimana Jibril untuk kali pertamanya bernubuat kepada Nabi Akhir Zaman: “Bacalah!”. Tapi yang ada hanya Kekosongan, ya kekosongan, itulah yang kita rayakan pada setiap bulan Ramadhan. Adzan magrib hanya menjadi terompet dari sebuah perayaan makan semata. Tiada kontempalsi serupa para sufi, dan mungkin berakhir ditempat yang sama ketika Musa turun gunung. Ketika Ajaran Nabi Muhammad bercabang seribu layaknya pohon Bodhi yang berguguran di tanah Hindustan.
Beberapa hari ini, para pemimpin negeri kita tercinta kembali berulah; bersikap kurang ajar, keterlaluan, dan seperti biasa: memalukan! Sudah saya katakan, tidur itu lebih baik daripada harus mengantri pada saat Pemilu dan mencontreng foto-foto mahluk asing pada selembar kertas yang konon segede Jalak Harupat itu. Busyet! Heh, bung, satu triliyun itu bisa dipergunakan untuk membangun sekolah gratis dan rumah untuk para perempuan tua yang kalian sebut sebagai janda-janda pahlawan. Pahlawan? Ah, saya lupa. Tahu apa kalian tentang pengorbanan para pahlawan yang kini menebus pakaian, rumah, mobil, gundik, dan segala kemewahan yang kalian dapatkan secara cuma-cuma itu! Apakah saya harus mengundang Nergal atau Immortal Technique untuk bertausyiah di gedung rakyat yang sama sekali tidak merakyat itu?
03 September 2010—Tidak ada pemenang dalam sebuah peperangan; ladang Kurusetra nyatanya hanya melahirkan nisan-nisan tanpa nama. Pun benar dan akan selalu menjadi semacam subjektivitas yang berat sebelah—tergantung tukang cerita mana yang kita sewa untuk mevisualisasikannya kembali. Peperangan akhir zaman adalah sebuah ladang kokain bagi para korporat sekelas Rothschild family. Peperangan hanya akan melahirkan petaka yang beranak pinak, bertiwikrama dalam wujud yang sebenar-benarnya adalah neraka jahanan itu sendiri. Ada sebuah agenda tersembunyi dimana kepentingan korporat adalah segitiga satu bermata. Mereka memecah belah sebuah bangsa dengan metode yang hampir serupa dengan metode penjajahan yang pernah bangsa kita alami selama 350 tahun lamanya (kurang-lebih). Kita harus mampu menjaga stabilitas nalar sehingga kita tidak terhanyut dalam arus insureksionis yang impulsif. Tidak heran jika beberapa ayat di dalam Kitab Suci selalu diakhiri oleh pertanyaan: “Apakah kalian tidak berpikir?”
Berperanglah serupa para intifada di tanah Jerusalem, berperanglah untuk keterjajahan, dan berperanglah untuk kebebasan itu sendiri. Namun Tuhan akan terlupakan jika muasal peperangan itu sendiri adalah sebuah kemenangan bagi para konspirator yang selama berabad-abad lamanya berusaha untuk merampungkan piramida satu dollar, dan menciptakan sebuah tatanan dunia baru yang akan mereka atur seenak perut mereka sendiri. Menara-menara panoptikan akan tegak berdiri di seluruh anak benua Pangea jika kita tidak menyadari siapa musuh kita sebenarnya. Namun, bagaimana mungkin memerangi jadah global masonry jika bangsa ini perlahan-lahan mewujud menjadi sebuah Negara korporasi? “Jangan pernah bertanya apa yang telah kita berikan untuk Negara ini, tapi bertanyalah apa yang telah diberikan oleh Negara ini untuk hidup kita?”. Jawabnya mungkin tidak ada. Sama sekali tidak ada. Menukil Homicide: “Organize your community, empower your surrounding!”. Setidaknya metode-metode perlawanan seperti itulah yang membawa nabi Muhammad merebut kembali kota Mekkah tanpa setetes darah mengalir. Dari “Chiapas, Jalur Gaza, Seattle, Praha, Chechnya, Genoa, Jerusalem, Dili, Tripoli” dan Buol; join the resistance and fuck the government authority!
Lalu hari raya tinggal menghitung hari. Namun dari tahun ke tahun index korban kekerasan aparatus Negara terus meningkat. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin bertingkah seakan meraka tidak perduli. Inilah realitas dari sebuah bangsa yang diperbudak korporasi. Lullaby utopis Morpheus adalah sebuah konsumerisme fatalistik yang mewujud pada setiap nadi di pusat-pusat perbelanjaan. Jika Homicide berusaha untuk memutus selang infus antara Negara dan institusi hingga mampus maka kita seharusnya memenggal kuasa korporat dan Negara hingga mampus pula. Bayangkan saja jika hubungan antara manusia didasari oleh kepentingan-kepentingan matrealistik? Itulah yang sebenar-benarnya mereka inginkan. Maknai Hari Raya sebagai sebuah penentangan terhadap otoritas-otoritas yang membelenggu esensi awal kejatuhan Adam dan Hawa di muka bumi ini. Bila memang sangat diperlukan, turun gunung serupa Zarathustra adalah opsi yang paling rasional.
Word: Lingga A. Partawijaya
Repertoire:
- Immortal Technique – 4th Branch
- Diabolic feat. Immortal technique – Frontlines
- La Coka Nostra feat. Q-Unique and Immortal Technique – Nuclear Medicinemen
- KRS-ONE and Buckshot feat. Immortal Technique – Running Away
- Necro – Creepy Crawl
- Company Flow – Patriotism (Morgue Vanguard Remix)
* Plus a bunch of deadly-serious albums from:
Orphaned Land: Mabbol and The Never Ending Way of Orwarrior, Deformity: Murder Within Sin, Ólafur Arnalds: ...And They Have Escaped The Weight Of Darkness.
Langganan:
Komentar (Atom)

