Kamis, 20 Oktober 2011

TUHAN AGAMA


12 october 2011, Sejak kecil saya percaya bahwa Tuhan itu ada. Di kemudian hari saya percaya bahwa Tuhan adalah realitas tertinggi yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan—bahkan menciptakan ketiadaan itu sendiri (Creatio ex nihilo). Saya memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan. Pun dengan kadar keimanan yang, dalam perspektif kejumudan para ulama literalis, secara kuantitas syariat saya terbenam jauh di dasar klasemen. Namun saya percaya Tuhan tidak sekejam apa yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, pula tidak sekaku apa yang para ulama fundamentalis-literalis itu tuturkan.  Meminjam pertanyaan Omar Khayam, “Jika Tuhan membalas keburukan dengan keburukan pula, lalu apa bedanya Tuhan dengan saya?”

Bagi saya, Tuhan sebagai realitas tertinggi tidak bisa didefinisikan sebagai sebuah fakta objektif atau melalui abstraksi intelektual yang hanya mengandalkan seperangkat proposisi textual yang yang dimaknai secara imajinatif. Untuk benar-benar memahami Tuhan diperlukan tingkat ‘kesadaran’ yang tinggi dan empirisme transendental melalui dimensi kontemplatif yang bersifat rasional. Tidak mengherankan jika gambaran perihal surga dan neraka dapat lebih dimengerti oleh sebagian besar manusia ketimbang gambaran tentang Tuhan itu sendiri. Hal tersebut terjadi karena keduanya, baik surga maupun neraka adalah realitas yang secara imajinatif benar-benar dapat dipahami. Dengan kata lain, manusia pada umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memaknai realitas tertinggi melalui pendekatan historis, simbolik, imajinatif, rasionalistik dan illuminatif. 

Empirisme transendental selalu menghadirkan nuansa yang tak lazim. Nuansa yang datang dari sunyi ke bunyi lalu berakhir dengan konstruksi yang lebih rapih yang kita kenal sebagai agama. Agama sepertihalnya Tuhan bukanlah seperangkat proposisi tekstual yang dapat didefinisikan sebagai sebuah fakta objektif. Agama adalah ajaran pembebasan yang bersifat illuminatif, fleksibel, dan nisbi. Agama tidak bisa terlepas dari situasi asal usulnya yang kompleks. Hal inilah yang dilupakan sebagian besar manusia, sehingga dogma dan doktrin dari sebuah agama menjadi begitu banal dalam kejumudan yang pragmatis. 

Karena sifatnya yang pragmatik, agama, dalam sejarahnya yang panjang, selalu disalahgunakan, bahkan hal itulah yang sering dilakukan sebagian besar manusia. Sebelum senjakala saat Nietzche membunuh tuhan di wilayah barat, agama telah menjadi mitra yang sangat menguntungkan pihak penguasa yang ingin memanifulasi kehidupan manusia lainnya. Saya teringat Hobbes, “Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.” Namun, manusia lainnya ini pada umumnya bersikap anti-reaksionis bila dihadapankan kepada institusi keagamaan yang telah mendapatkan legalitas kaum penguasa. Hal tersebut adalah hasil dari ketakterjangkuan makna Tuhan dari suatu ajaran agama, seperti apa yang telah saya sebutkan di atas. Atau dalam kebanyakan kasus sengaja dibuat ‘tidakterjangkau’ dengan melabelkan kata haram ketika seseorang berusaha untuk menyingkap tabir Ilahi yang sesungguhnya demi menjaga peta-peta kekuasaan. 

Saya dibesarkan dalam nuansa religiusitas yang semarak. Almarhum kakek saya adalah seorang muslim tradisionalis yang bervisi seperti Hakim Bey, sedangkan nenek saya seorang puritan yang menegakan syariat pendahulunya namun cukup toleran bila dihadapkan dengan realitas kekinian. Sedangkan Almarhum kakek saya di pihak bapak adalah seorang pencari Tuhan. Beliau pernah memeluk berbagai macam agama. Saya sempat dibuat kaget ketika menemukan sebuah jurnal kecil milik almarhum yang berisi liturgi ordo Rosicrucian; sebuah ordo yang konon berafiliasi dengan ordo Kesatria Templar. Tapi pada akhir pencariannya, beliau menemukan Sufisme sebagai jalan ‘pulang’ menemui penciptanya. Dan kedua orang tua saya cenderung berpandangan moderat dalam ranah keagamaan; artinya biasa-biasa saja. 

Karena pengaruh nuansa religiusitas yang semarak itulah, bagi saya agama—Islam dalam hal ini—adalah ‘kata-kata’ Tuhan yang bersifat universal tanpa adanya sekat yang membatasi ruang gerak cahayanya. Saya ingin membebaskan Islam dari berbagai mitos yang secara tidak langsung menegasi maknanya; pun usaha-usaha saya selalu berakhir dengan label murtad atau atheis. Mitos-mitos dalam Islam sendiri adalah hasil dari pola-pola relasi yang bersifat normatif. Artinya, Islam sebagai sebuah ajaran agama tidak sepenuhnya terlepas dari ide awal (baca: Kebudayaan) sebuah masyarakat yang membentuk dan yang menerimanya. Di Indonesia sendiri, Islam tidak bisa terlepas dari kepercayaan awal masyarakatnya yang dahulu kala beragama Hindu-Buddha dan sebelumnya cenderung memiliki kepercayaan monotheistik primodial. Hal ini dapat dimaklumi secara alkulturasi historis, karena untuk merubah dasar sistem kepercayaan sebuah masyarakat adalah sesuatu hal tidak mudah.  Saya sependapat dengan Ali Asghar, bahwa dalam mengkaji Islam secara historis diperlukan pemahaman yang memadai mengenai realitas lingkungan yang konkrit di mana agama Islam itu di lahirkan, pula lingkungan lainnya yang menjadi tempat perkembangan selanjutnya. Ashgar meyakini bahwa untuk mengkaji Islam secara utuh diperlukan pendekatan secara matrealisme-historis. Pun—tetap—tidak sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas dari sejarahnya. 

Sungguh ironis melihat fenomena yang terjadi di akhir zaman ini. Islam tak ubah seperti komoditas dagang yang dilempar ke hadapan altar pasar bebas dan mereduksi makna spiritualnya ke level yang paling fatal. Ini adalah hasil dari kejumudan para puritan yang ingin memoderenisasi Islam tanpa mengkaji ulang maknanya secara menyeluruh. Akibatnya begitu mengerikan, Islam menjadi sangat eklusif, menjadi sangat individualistik, dan menegasi makna sosialismenya. Dalam setiap ceramah di layar televisi, para penceramah yang jumud itu hanya berkoar tentang kesalehan individu, sebuah euphuism dalam mengobral pahala. Pun demikian, seperti kata Homicide, “khalayak tak pernah salah memuja Thagut penampakan.”, karena begitu banyak faktor yang membentuknya seperti itu. Adalah kita yang setidaknya mau belajar dan memahai makna Islam yang sebenarnya harus mengadakan perlawanan untuk memutus selang infus banalitas tersebut. Penalaran melalui pengetahuan yang baik dalam arti memadai, akan mengantarkan kita kepada pandangan yang lebih utuh dalam memaknai ajaran agama Islam. Tapi jangan pula menjadikan penalaran rasional sebagai pusat kebenaran, karena hal tersebut akan melahirkan berhala baru— kejumudan yang serupa, yang tak kalah mengerikannya dari penafsiran para ulama literalis terhadap Tuhan dan ‘agamaNya’. Adalah bagaimana kita menginternalisasinya melalui ‘hati’ kita, melalui kejernihan pikiran yang transendental, dan melalui pemahaman filosofis yang nisbi dalam keniscahyaan ‘kata-kata’ Tuhan tersebut. 

Saya sadari, catatan singkat ini tak cukup untuk merangkup kompleksitas relasional antara Tuhan, agama, dan manusia. Namun sungguh pun demikian, saya berharap, siapapun yang membaca catatan saya mendapatkan sebuah keniscahyaan dan memaknai tulisan saya ini sebagai sebuah kemungkinan di antara ruang ke-tidakmungkin-an. Ke-semementara-an makna dalam ketidak-sementara-an. Sehingga tercipta sebuah pandangan baru yang mungkin saja dapat mengantarkan kita kembali pada kemurnian makna Tuhan, agama, dan kita sendiri. Umat manusia. 

Word: Lingga Agung Partawijaya
Repertoire:
1.       Niyaz – Allahi Allah
2.       Tori Amos & Maynard James Keenan – Muhammad My Friend
3.       Russian Circle – When The Mountain Comes To Muhammad
4.       Efterklang – Illuminant
5.       God Is An Astronaut – Infinite Horizons
6.       A Silver Mt. Zion – Sisters! Brothers! Small Boats Of Fire Are Falling From The Sky!
7.       Peter Gabriel Feat Nusrat Fateh Ali Khan – Signal To Noise
    

TENTANG TARI


06 Mei 2011, Beberapa hari yang lalu, saya benar-benar dibuat terperangah oleh sebuah tarian. Tari klasik masyarakat Sunda yang—sebetulnya—saya kenal sejak kecil namun baru kali itu saya menemukan keniscahyaannya yang penuh dengan daya pikat estetis yang bernuansa ‘magis’; segala gerak keindahan sang penari telah menjerumuskan saya ke dalam penegasian ruang dan waktu yang kentara. Bila seorang penyair eksistensialis tetap mendapatkan relevansinya dalam kenisbian kata-kata, maka seorang penari mendapatkan relevansinya dalam kemangunggalan gerak tubuh yang menegasi ruang dan waktu di sekelilingnya.  

Lalu apakah itu tari? Mengutip Haukin, tari adalah: “Ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak….” Dengan kata lain, tari adalah ekspresi imajiner manusia yang subyektif lalu diberi bentuk sebagai realitas yang obyektif. Dalam tradisi religius, sebuah tarian dipandang sebagai jalan untuk memanunggalkan diri dengan dunia yang sakral; sebuah usaha untuk keluar dari dunia materi yang profan. Hal tersebut terlukis jelas dalam pernyataan Martha Graham yang memaknai tari dengan satu kalimat pendek: “Dancing is just discovery….” Artinya, tari sebagai ekspresi jiwa adalah penemuan kembali tubuh yang bersamaan dengan itu menemukan kembali makna kebebasannya.

Lalu timbul pertanyaan yang fundamental: Apakah penari itu hanya sebagai instrument dari tubuh yang bergerak? Atau sebaliknya? Karena dalam proposisi Descartes, tubuh menjadi terpisah dari pusat kognitif. Sedangkan tari adalah proses penemuan yang bersifat mutualisme; tubuh menemukan dan ditemukan. Hal ini menjelaskan bahwa tubuh bukan sekedar instrument bukan pula sebaliknya. Mungkin dalam proposisi-proposisi lainnya, sebuah tarian wajib mengikuti pola-pola dasar yang telah didesign sebelumnya. Namun dalam gerak yang primodial, tubuh menemukan dan ditemukan oleh dirinya sendiri. Seperti halnya pernyataan Goenawan Mohamad: “Kita akan bersua dengan pengalaman yang lain: tubuh bukanlah sebuah meja kosong yang putih bersih.”

Sebagai hasil abstraksi kebudayaan, sebuah tarian mempunyai bentuk. Dengan kata lain, tarian adalah tubuh yang mengeksistensialisasikan bentuknya. Sepertihalnya penggambaran Rumi terhadap penciptaan itu sendiri sebagai sebuah: “Tarian ekstatis mahluk-mahluk masa depan yang merindukan eksistensialisasi dalam keadaan tak maujud, lalu setelah mendengar firman Ilahi mereka keluar menuju dunia eksistensi….” Artinya, pada saat gerak dimulai, bentuk itu sendiri belum ada. Dalam proses inilah penemuan kembali tubuh terjadi sehingga kebebasan dalam makna eksistensi gerak tubuh pun mempunyai bentuknya tersendiri. Pada akhirnya, bila sebuah tarian dimaknai secara individual maka ada ke-terlepas-an pada ruang dan waktu di lingkungan dimana sebuah tarian itu terlahir. 

Terlepas dari ke-kompleksitasan-an pemaknannya di atas. Tari sebagai sebuah seni olah tubuh, sebetulnya tidak harus selalu dimaknai secara  fundamen, artinya proposisi-proposisi rasionalistik dan trandensental akan makna tari tidak diperlukan lagi dalam masyarakat yang telah mapan dalam segi ‘kebudayaan’, yang terpenting adalah bisa diterima. Pun menegasi makna primodialnya, tetap pada akhirnya seni tari akan bersifat pragmatis dalam dunia globalisasi yang menyebalkan. Justru dalam kejumudan globalisasi inilah para seniman tari harus bersikap lebih kritis agar relevansi seni tari itu sendiri tidak terjebak pada banalitas tema yang sama menyebalkannya. Menghidupkan seni tari sehidup mungkin adalah jawaban yang tepat untuk keluar dari invasi penyeragaman kulturalisme. Bukankah Emma Goldman menyatakan: “If I can’t dance to it, it’s not my revolution.”   

Bagi saya, seni tari adalah sebuah proses simbolik antara manusia dengan semesta di mana ia hidup; dimana ia menemukan kembali tubuhnya; di mana ada sebuah keterjalinan yang tak terpisahkan antara manusia dengan dunia sekitarnya—yang pada akhirnya membentuk dunia kita secara historis dan dibentuk oleh sejarah itu sendiri. Sepertihalnya tari Jaipongan yang merefleksikan kearifan masyarakat Sunda dalam kompleksitas dialektis historisnya. Seni tari terus menemukan bentuk-bentuk baru yang mengisyarakatkan kenisbiannya terhadap perkembangan zaman yang terus mengalami kebaruan. 

Seni tari, dalam pemaknaan Rumi yang transendental dapat membawa manusia keluar dari alam yang profan kembali ke alam yang sakral. Kedalam bentuk azalinya. Seni tari, dalam hal ini para senimannya harus menemukan revelansinya yang revolusioner, bila kita berbicara perihal relevansi. Sehingga terhindar dari penyeragaman globalisasi yang melunturkan makna filosofis dari sebuah masyarakat. Untuk itulah para seniman tari harus menghidupakan seni tari sehidup mungkin. Salah satunya dengan memahami makna primodialnya yang berbentuk chaos, sehingga Nietzsche berkata benar ketika ia menyatakan: “One must still have chaos in oneself to be able to give birth to a dancing star.”

Word: Lingga Agung Partawijaya.

Repertoire:
  1. Dead Can Dance – Rakim
  2. Irfan – Simurgh
  3. Mevlana Assemble Tukish – Sufi Music Sema
  4. Mono – Silent Flight Sleeping Dawn
  5. Godspeed You! Black Emperor – Providence
  6. Buddhistson – Wisely And Slow



Minggu, 31 Juli 2011

MANUSIA GEROBAK


MANUSIA GEROBAK

Akulah Si Manusia Gerobak. Setiap hari aku mendorong gerobakku dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku sering terbangun di tempat yang tidak aku kenal. Aku mulai merasa heran. Apakah gerobakku mempunyai suatu kekuatan super canggih yang bisa membawaku dari satu tempat ke tempat lainya? Ah, tidak mungkin, aku sendiri yang membuat gerobak itu dari benda-benda yang aku temukan di reruntuhan kota tua Damaskus.

Akulah Si Manusia Gerobak. Suatu hari aku melewati sebuah kota yang telah luluh lantah, porak poranda tak rupa bentuk. Saat itu seorang lelaki tua dengan tongkat di tangannya berseru, “Aku adalah Musa!” Penduduk kota itu pun mulai mengerumuninya, di antara kerumunan itu seorang anak kecil berwajah sendu berambut ikal berkata, “Belahlah lautan, dan bebaskan kami dari kemalangan ini wahai Musa.” Lantas lelaki tua dengan tongkat di tangannya itu pun berkata, “Untuk saat ini aku hanya bisa membelah keraguan hati kalian.” Ia melanjutkan, “Membelah lautan bukanlah perkara yang mudah wahai anak Adam!” Mereka pun tertawa seakan merayakan kemalangan yang tak akan pernah beranjak dari urat nadi mereka. Dan aku pun melanjutkan perjalananku ke arah senja yang semakin sekarat.

Aku terus mendorong gerobakku tanpa henti hingga. Siang dan malam berrotasi dalam kepedihan dunia yang silih berganti. Hingga pada suatu senja yang tidak pernah abadi, tibalah aku di sebuah kota suci yang sangat aku kenal, Jerusalem. O, lihatlah Mesjid Al-Aqsha, Mesjid Kubah Emas, Gereja Makam Kristus, dan Tembok Ratapan yang masih berdiri tegak di antara reruntuhan kota dan berangkal harapan para penduduknya. Peperangan Akhir Zaman seakan diharamkan untuk menjamah tempat-tempat suci itu.  

Akulah Si Manusia Gerobak. Aku sempat melihat seseorang yang tidak asing, seorang anak kecil berwajah sendu berambut ikal. Aku menghiraukannya dan terus mendorong gerobakku di antara kerumunan manusia di kota suci Jerusalem. Kebanyakan dari mereka berpakaian tertutup serupa para rahib abad pertengahan. Mereka berjalan cepat-cepat dengan kepala tertunduk dan nyaris tidak ada seorangpun yang menghiraukan keberadaanku. Aku berusaha untuk bertanya namun dengan cepat-cepat pula mereka berusaha untuk menghindariku. kota suci Jerusalem seakan tak berpenghuni karena kesunyian para penghuninya.

Senja telah menghilang ditelan guratan takdir yang abadi. Karena kelelahan maka aku pun memutuskan untuk beristirahat. Dan pada saat itulah seorang pemuda menaiki sebuah panggung kecil di tengah-tengah kota, lalu pemuda itu berseru, “Aku adalah Jesus! Aku akan membebaskan kalian dari kemalangan dunia ini.” Semua orang berpaling ke arahnya. Seorang perempuan tua berkata, “Wahai Jesus, bangkitlah anakku dari kematian yang kejam akibat Peperangan Akhir Zaman.” Pemuda itu tersenyum lalu berkata, “Aku bukanlah Jesus yang dapat membangkitkan orang mati. Jiwa kalian, ya jiwa dalam diri kalianlah yang dapat aku bangkitkan kembali wahai anak-anak Adam!”

Salah seorang dari mereka berkata, “Cuih, Pendusta! Kau sama saja dengan si tua bangka yang mengaku dirinya sebagai Musa.” Kesunyian mendadak lenyap. Semua orang mulai berbicara, semua orang mulai menghujat, semua orang mulai menghakimi, “Tangkap dia!” dan, “Potong lidah busuknya!” lalu, “Bakar dia hidup-hidup di tiang salib!” karena, “Dia tidak pantas untuk hidup!” Serupa paduan suara dari neraka mereka semua berkata, “Bunuh, bunuh, bunuh, bunuh, bunuh, bunuh, bunuh!”   

Pemuda itu mencoba untuk menenangkan mereka, “Wahai anak-anak Adam, tenanglah… Ketahuilahlah, aku datang untuk menyelamatkan kalian, dengarkanlah aku terlebih dahulu…” Pemuda itu terus berbicara sementara mereka menghiraukannya. Suara pemuda itu semakin tenggelam dalam keriuhan yang penuh sesak oleh amarah. Perlahan namun pasti mereka mendekati pemuda yang mengaku dirinya sebagai Jesus itu serupa kawanan serigala yang mendekati mangsanya.

Aku merasa ngeri, mendadak mereka menjadi seperti binatang buas yang kelaparan. Aku melihat si pemuda itu mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun ia sudah terkepung dari segala arah. Aku hanya bisa melihat kepalanya. Lalu seketika itu, secepat kilat ia menghilang. Astaga! Semoga Tuhan menyelamatkannya. Aku bergegas mendorong gerobakku dan melanjutkan perjalan. Kota suci kini penuh dengan dengki, demi Dia Yang Abadi aku bersaksi bahwa hatiku lempuh melihat semua yang telah terjadi. 

Sambil mendorong gerobakku, aku bertanya-tanya dalam hati, “O, Tuhan Yang Maha Menjawab, apa yang telah terjadi dengan penduduk kota suci Jerusalem? Dan anak kecil itu? Apakah mataku telah tersihir? Ia begitu mirip dengan anak kecil yang aku lihat beberapa hari yang lalu. Mengapa aku harus mengalami semua ini?” Tiba-tiba seorang pemuda menghentikan laju gerobakku,  “Berhenti! Tolonglah aku, biarkan aku masuk ke dalam gerobakmu.” Aku mengiyakan walaupun aku sangat kebingungan, “Bukankah kau pemuda yang mengaku Jesus itu? Bagaimana mungkin kau bisa lolos?” Pemuda itu memasuki gerobakku lalu berkata, “Nanti akan aku jelaskan semuanya, sekarang kita harus segera pergi. Cepat!”  

Takala melihat pemuda itu memasuki gerobakku, mereka berlarian ke arahku seakan memburu domba terakhir di dunia ini. Tanpa pikir panjang, aku mendorong gerobakku dengan tenaga yang tersisa, membelah kerumunan manusia yang mencoba menghalangiku serupa Musa membelah Laut Merah. Tiba-tiba gerobakku meluncur dengan kecepatan yang luar biasa di luar kuasaku, gerobakku melampaui kecepatan cahaya, membawaku meloncati tembok-tembok langit dan bumi yang berlapis. Aku melayang di ruang tanpa batas. Setitik cahaya putih muncul lalu cahaya itu membesar, dan dari cahaya  itulah aku melihat sebuah rekonstruksi kehidupan manusia dari kejatuhan Adam hingga peperangan akhir zaman. Cahaya itu mulai meredup dan pandanganku semakin tidak jelas, membayang, temaram, gelap dan akhirnya hitam, hitam yang begitu pekat.    

Akulah Si Manusia Gerobak. Aku kira aku sudah mati tetapi aku salah besar. Aku terbangun di samping gerobakku di bawah sebuah jembatan layang. Aku mencoba bangkit namun tubuhku terasa begitu lelah. Aku mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi namun kepalaku terasa begitu sakit. Perlahan aku mendengar suara kepakan sayap mendekatiku, semakin dekat, dekat, dan... Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Astaga, anak kecil berwajah sendu berambut ikal tiba-tiba muncul begitu saja.

Ia menghampiriku dan merebahkan tubuhku, “Tuan, terimakasih banyak telah menolongku.”
“Menolongmu? Siapakah engkau? Dan di mana pemuda yang mengaku dirinya Jesus itu?” Kataku dengan nada yang agak memaksa.
“Ah, tuan, tenangkanlah dirimu dahulu. Setidaknya hingga sakit kepala itu hilang karena engkau tidak akan sanggup untuk menerima kenyataan yang akan aku sampaikan.” Ia menyeringai, dan aku dibuat ngeri olehnya.
“Darimana Kau tahu bahwa kepalaku sakit? Ayo katakan saja! Karena seburuk apapun kenyataannya lebih baik daripada sebuah mimpi yang indah. Karena mimpi tetaplah mimpi meskipun mimpi itu mahaindah.” Aku mulai bangkit dan mendekati anak kecil berwajah sendu berambut ikal itu.  Lalu ia pun berkata, “Sakit kepala seperti itu sering terjadi bagi siapa saja yang baru pertama kali melakukan perjalanan lintas dimensi. Dan Ketahuilah, sebenarnya aku adalah pemuda yang mengaku sebagai Jesus. Namaku adalah Azazel, aku adalah Iblis.” Aku tertawa begitu keras.

Anak kecil berwajah sendu berambut itu menatapku dan berkata, “Kenapa engkau harus tertawa wahai Manusia Gerobak?” Aku menjawab dengan nada yang mengejek, “Perjalanan lintas dimensi? Iblis? Kalau kau Iblis maka aku adalah Jibril. Jangan bercanda dan katakan siapakah engkau sebenarnya? Oh, aku tahu engkau adalah Aleister Crowley yang mempunyai kendaraan lintas dimensi, bukan?” Aku tertawa lebih keras.

Tiba-tiba kegelapan menyelimuti kolong jembatan, anak kecil yang berwajah sendu berambut ikal itu berubah wujud, kulitnya bercahaya dan mulai terkoyak, lalu sepasang sayap muncul dari punggungnya. Sayapnya terbuka dan terus mengembang hingga nyaris merobohkan jembatan layang. Aku meloncat ketakutan. Jantungku berdetak kencang seakan Izrail memburu sisa-sisa kehidupanku. Aku terjerembab dalam kengerian rupa sang Iblis yang sebenar-benarnya.

Wujudnya lebih mengerikan dari bayanganku selama ini tentang sosok Iblis. Tubuhnya diselimuti kobaran api yang memercikan bara. Cahaya keemasan terpancar dari kedua bola matanya. Alisnya yang tebal memertegas pancaran cahaya keemasan itu. Batang hidungnya tinggi, sedangkan cuping hidungnya melengkung. Bagian atas telinganya teramat runcing, dan begitu selaras dengan tanduknya yang menyerupai bulan sabit. Rambutnya yang panjang terlihat seperti seekor naga yang tengah mengamuk dalam kobaran api. Mulutnya bergigi tajam dan menjorok keluar dari garis bibirnya yang keras, dagunya lebar dan kokoh, pipinya tirus namun kencang. Wajahnya adalah perpaduan yang sempurna antara kebajikan langit dan kedengkian bumi, antara ketampanan surgawi dan kekejaman neraka yang abadi.  

“Sekarang, percayakah engkau wahai Manusia Gerobak?” Suaranya terdengar begitu menggelegar.

“Ya, ya, sekarang aku percaya, tapi apa yang engkau inginkan wahai Iblis? Apakah semua yang telah aku lalui hanyalah mimpi belaka?” Aku bertanya dengan sangat kepayahan. Dengan nyali yang benar-benar penghabisan. Begitu banyak keanehan yang telah aku alami. Namun bertemu dengan Iblis dalam wujud yang sebenar-benarnya tidak masuk dalam hitunganku. Sial.   

“Engkau tidak bermimpi. Akulah yang membawamu ke tempat ini. Kau masih ingat lelaki tua yang mengaku dirinya Musa? Setelah kau pergi, mereka membunuhnya. Aku, anak kecil yang berwajah sendu berambut ikal menyaksikan sendiri pembuhuhan kejam itu. Dan akulah pemuda yang mengaku sebagai Jesus. Saat mereka mengepungku, aku senaja menghilang dan menghentikanmu, aku ingin mereka mengejarmu sehingga aku bisa membawamu meloncati tembok-tembok langit dan bumi yang berlapis sehingga aku dapat memerlihatkan kepadamu rekonstruksi kehidupan umat manusia dari kejatuhan Adam hingga Peperangan Akhir Zaman.”

Perlahan-lahan perasaan takut itu mulai menghilang karena setelah memerhatikan wujud Iblis dengan lekat, ternyata ada sebuah keindahan dalam wujud Iblis yang tidak bisa diungkapkan oleh bahasa manusia. Aku bertanya lagi, “Tapi apa yang kau inginkan sehingga engkau melakukan semua itu terhadapku wahai Iblis?” Api yang menyelimuti tubuh sang Iblis perlahan mulai mengecil.

Aku melihat Iblis tertunduk dan menjawab dengan suara yang menyedihkan, “Manusia telah kembali kepada titik terendah kehidupannya. Kau ingat kejatuhan Adam? Ketahuilah wahai Manusia Gerobak, kejatuhan Adam adalah kebangkitan umat manusia. Adam melakukan pertobatannya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan Adam menata kembali hidupnya setelah kesalahan besar yang telah ia lakukan sebagai tebusannya. Maka Adam adalah guru pertama yang mengajarkan kalian (manusia) untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Apakah kalian, umat manusia, anak cucu Adam telah melupakan kisahnya?” Iblis memandang langit seakan ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Adam.

Iblis melanjutkan kembali, “Tapi sekarang, kalian mahluk pilihan Tuhan sungguh menyedihkan! Tidak akan datang kembali seorang penyelamat dari langit karena nubuat Ilahiah telah sepenuhnya tergenapi. Manusia hidup dalam penantian yang sia-sia, manusia hidup dalam ketololan yang berkepanjangan. Apa gunanya keutamaan akal dan hati manusia jika hanya digunakan untuk meratapi nasib? Engkau harus menyadarkan mereka wahai Manusia Gerobak. Putuslah selang infus ketololan dari urat nadi manusia pasca peperangan Akhir Zaman. Jadikanlah mereka manusia yang sesungguhnya, yang berjalan ke arah kiblat dan mengamini kembali ajaran-ajaran yang telah Tuhan sampaikan melalui para perisalah-Nya.”   

Aku terkejut mendengar Iblis berbicara seperti itu, “Hey, Iblis, apakah kau mabuk? Atau salah meminum obat? Bukankah engkau telah menolak bersujud  di hadapan Adam, dan oleh karenanya engkau dikutuk? Lalu mengapa engkau berbicara seolah-olah kau ini fans berat Adam? Aku sungguh tak mengerti. Dan Apakah kau lupa dengan kejadian di kota jerusalem? Aku sudah pasti mati sebelum aku dapat berbicara.”

Aku melanjutkan, “Dan pula aku ini hanya seorang manusia. Pun aku mampu mengabarkan kembali risalah-risalah Ilahiah tanpa terbunuh, apakah kau pikir mereka akan memercayaiku? Aku bukanlah seorang nabi yang memencarkan cahaya Ilahiah. Dan apa pula pedulimu? Bukankah ini yang engkau inginkan? Bukankan engkau telah bersumpah untuk mengganggu anak cucu Adam hingga semesta kembali berpadu? Nampaknya cita-citamu telah terwujud, lalu kenapa engkau berbicara seperti itu wahai Iblis?”

Iblis tertawa lalu mendekatiku, “Minuman apapun tidak bisa memabukanku karena akulah yang membuat minuman itu memabukan! Ya, benar, aku memang menolak bersujud kepada Adam, karena aku hanya bersujud kepada Tuhan, dan bukanlah sebuah perkara yang besar jika karenanya aku dikutuk. Karena keterkutukanku adalah pedang bermata dua seperti halnya kejatuhan Adam.”

Ibils melanjutkan, “Engkau benar, engkau hanyalah seorang manusia. Tapi kau lupa, para nabi adalah manusia sama sepertimu. Ingatlah ketika Jibril berkata: “Iqra!” dan dia yang namanya dipuji oleh para malaikat tidak sekedar membacanya. Ia menjalin setiap kata dan meleburkannya ke dalam sebuah bidang yang pusatnya ada di mana-mana, namun kelilingnya tidak ada di mana-mana. Dan dari pemahaman itulah lahir sebuah pemaknaan yang bersifat tajalli. Sehingga ia dapat memandang dengan jelas sebab-musabab awal dan akhir segala sesuatu di dunia ini, bahkan tiang-tiang semesta bergetar karenanya. Maknailah kalam-kalam Illahi seutuhnya olehmu, maka hijab-hijab semesta akan memancarkan cahaya Illahi dari dalam dirimu. Itulah rahasianya. Itulah yang membedakan manusia biasa dan para nabi.”

Iblis memandangku dan berkata dengan penuh keyakinan, “Gunakanlah akal dan hatimu, namun ingat, akal tanpa hati akan berujung kesombongan yang menghancurkan dirimu sendiri. Sedangkan hati tanpa akal akan akan berujung kepada kematian yang menyakitkan. Carilah cara agar mereka mau mendengarkanmu dan berusahalah agar tidak terbunuh. Aku bisa saja membantumu tapi engkau adalah manusia, dan manusia adalah mahluk paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan-Nya. Maka pergilah, bangunkanlah umat manusia dari mimpi-mimpi panjang yang sia-sia adanya. Sampaikanlah kembali kalam-kalam Illahi dengan penuh keyakinan agar umat manusia terlahir kembali menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.”

Tubuh Iblis perlahan terangkat, kedua sayapnya mengembang hingga jembatan layang itu terputus. Aku mendorong gerobakku, menghindari puing-puing jembatan yang berjatuhan. Iblis melayang-layang di atas kepalaku. Aku berteriak padanya, “Iblis, tunggu, apa maksud dari semua ini?” Iblis menyeringai dari atas langit, dan berkata, “Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku secepat ini. Dan aku tidak sudi jika tempatku di neraka dipenuhi oleh manusia-manusia tolol macam penduduk kota Jerusalem.” Dalam satu kepakan sayap ia melesat dalam kilatan cahaya yang mahacepat, meninggalkan jejak berupa bara api di langit kota yang temaram.
Bandung, 13 Oktober 2010


MAYAT HIDUP


MAYAT HIDUP
Sebetulnya Sati sangat membenci Rumah Sakit. Baginya, suasana Rumah Sakit selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Rumah Sakit adalah tempat dimana kegelisahan dan kesedihan menemukan maknanya. Tapi kali ini ia harus bertahan, karena Armin, sahabat baiknya tengah terbaring lemah tak berdaya akibat sebuah penyakit misterius. Sati berjalan dengan perasaan yang tidak keruan di antara dinding-dinding berwarna putih—Kenapa harus selalu warna putih? Tanyanya dalam hati. Ia mengambil napas panjang lalu duduk di depan ruangan yang lebih mirip cafĂ© daripada sebuah kantin Rumah Sakit.

Waktu berjalan sangat lambat. Sati teringat sebuah perdebatan sengit perihal muasal sang waktu dengan Armin. Ia tersenyum. Orang-orang lalu lalang di hadapanya. Ada yang berjalan cepat-cepat dengan raut muka yang gelisah, ada yang mendorong kursi roda dan bercerita dengan cerianya, ada pula yang menagis tersedu-sedu setelah seorang dokter berbicara kepadanya. Sati berusaha untuk bersikap acuh, namun ia tidak bisa. Semacam perasaan kalut bercampur rasa iba selalu saja menghampirinya saat ia berada di dalam sebuah Rumah Sakit.  

Sati melirik jam tangannya, ia pun tersadar telah termenung lebih dari satu jam lamanya. Ia melihat sekeliling, dan ternyata kosong, “Ini aneh, Kemana perginya semua orang?” Gumamnya. Lalu di ujung koridor ia melihat sesosok manusia berdiri agak membungkuk dengan bahasa tubuh yang aneh. Kepalanya mendongkak dan mulutnya mengeluarkan suara eluhan yang serak. Sosok itu mulai berjalan namun terlihat sangat kepayahan; terseok-seok, seperti orang yang sedang mabuk. Sati berlari mendekati sosok itu. Alangkah terkejutnya Sati ketika melihat  sosok itu dari dekat, “Armin!” 

Namun Armin terlihat begitu mengerikan. Wajahnya pucat sekali, kedua bola matanya berwarna hitam padam, hidungnya mengendus-ngedus serupa serigala yang memburu jejak mangsanya, dari mulutnya meluncur air liur yang kental dan berbau busuk, tubuhnya dipenuhi oleh luka gigitan yang mengangga. Sati dibuatnya ngeri, ia berusaha untuk mendekati sahabatnya itu, namun ia dikagetkan oleh suara orang yang berlari. Sati menoleh, seorang pria berteriak kepadanya, “Awas, Menunduk!” Tanpa pikir panjang Sati menunduk, lalu suara letusan pistol terdengar dan memekakan telinganya. Baju Sati bersimbah darah. Dilihatnya Armin tersungkur, kepalanya bolong tertembus timah panah. Ia tertegun untuk sesaat lalu berbalik dan meghampiri pria itu dengan penuh amarah, “Bajingan, apa yang kau lakukan?”

Pria itu ternyata seorang bule yang berperawakan tinggi tegap dan berwajah sendu. Terlihat jelas bahwa ia telah mengalami hal yang begitu mengerikan. Tak sempat menjawab pertanyaan Sati, sosok-sosok yang serupa dengan Armin berdatangan dengan suara yang begitu mengerikan, “Ayo, ikuti aku!” ia menarik tangan Sati, mereka berlari memasuki sebuah ruangan, membuka sebuah pintu dan menaiki tangga, “Kunci pintu itu!” Perintah bule itu kepada Sati. Sati menurut saja lalu ia berlari mengikutinya, “Ayo cepat! Atap Rumah Sakit ini akan menjadi tempat yang aman untuk sementara.” Ujar si pria bule yang berambut hitam dan bermata tajam itu.  

Atap rumah sakit itu nampak kurang terurus. Retakan-retakan kecil terlihat jelas akibat panasnya sinar matahari yang dibaptis oleh kelembaban udara. Mereka menutup pintu, menguncinya, dan menahannya dengan benda apapun yang bisa mereka pakai. Tanpa pikir panjang, Sati menerjang si pria bule itu, “Tunggu, dengarkan penjelasanku!” Sati tetap menghajarnya, “Kau telah membunuh sahabatku!” Si pria bule itu mencoba untuk melawan, dan dengan sekali pukulan, Sati tersungkur. Ia kesakitan. Si pria bule itu mendekatinya, “Dengarkanlah aku terlebih dahulu.” Sambil merebahkan Sati, “Namaku Mircea Cel Bartan, aku wisatawan dari Sighisoara, Rumania. Kau boleh memanggilku Mircea.” Sati mencoba untuk menyerangnya lagi namun secepat kilat Mircea menodongkan pistolnya, “Tenanglah, atau aku akan membunuhmu!”

Mircea menjelaskan dengan aksen Eropa Timur yang kental, dengan hurup R yang terdengar jelas, “Dengar, sahabatmu itu sudah mati sebelum aku menembaknya. Apakah kau pernah mendengar sesuatu tentang mayat hidup, zombi?” Sati menjawab sambil berusaha untuk berdiri, “Omong kosong! Pembunuh tetaplah pembunuh! Ya, tentu saja, zombie adalah mayat hidup. Seperti yang difilm-film itu, bukan?” Muka Mircea terlihat cerah seakan ia telah menemukan sesuatu, “Bagus, kita akan selamat.” Sati nampak kebingungan, “Selamat, apa maksudmu?” Mircea membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah laptop, “Lihatlah, beberapa minggu yang lalu telah terjadi wabah di benua Eropa yang disebabkan oleh sejenis mutasi virus sapi gila. Kemudian virus itu menyerang manusia. Lihatlah ini, nama virus itu adalah Creutzfeldt-Jakob yang menginfeksi manusia dan merubahnya menjadi mayat hidup, zombi.” Mendadak Sati terperangah, “Tidak mungkin. Zombi tidak mungkin ada.” Mircea memandangnya, “Kalau bukan zombi alias mayat hidup lalu apa namanya?” Sati terdiam, ia selalu mengkhayalkan dunia yang diserang oleh kawanan zombi, lalu ia akan berusaha sebiasa mungkin untuk bertahan. Dan kini, khalayannya itu benar-benar terjadi.

Mircea menutup laptopnya, lalu berjalan ketepian atap, dilihatnya kerumunan mayat hidup dengan suara-suara yang mengerikan. Kebanyakan dari mayat hidup itu telah membusuk dan kehilangan beberapa anggota tubuh. Ada juga yang masih segar, mungkin baru terinfeksi beberapa jam yang lalu. Bau busuk dan bau amis darah tercium begitu menyengat. Sati mengikutinya, alangkah terkejutnya dia. Zombi benar-benar ada. Zombi benar-benar nyata. Dan kini ia harus merencanakan sesuatu agar bisa selamat. Setidaknya tidak berubah menjadi mayat hidup. Seperti dalam khayalannya. 

Sati memerhatikan Mircea dengan lekat, ia penasaran, kenapa orang Rumania itu bisa ada di sini, “Apa yang membuatmu datang ke sini?” Mircea menatapnya tajam, “Sudah ku katakan, aku ini wisatawan. Aku hendak mengambil uang di ATM sebelah Rumah Sakit ini. Ketika itu aku mendengar teriakan, lalu tiba-tiba, kawanan mayat hidup itu mengejarku.” Sati tidak percaya, “Oh, benarkah? Lalu kenapa kau membawa pistol?” Mircea memalingkan muka, “Itu bukan urusanmu, seharusnya kau berterima kasih karena aku telah menyelamatkanmu.” Sati masih penasaran, namun ia berkata dengan sungguh-sungguh mengucapkan rasa terima kasihnya, sambil mengulurkan tangannya, “Maaf, aku hanya penasaran saja. Terima kasih banyak kau telah menolongku. Oya, Namaku Sati.” Mircea hanya mengangguk.  

Tiba-tiba pintu berbunyi seperti ada yang memukul-mukul. Mircea dan Sati secara bersamaan saling berpandangan, “Sial, mereka tahu kita ada di sini, cepat, kita harus melakukan sesuatu!” Seru Mircea kepada Sati, “Aku tahu, lihat! Di sebrang sana, ada sebuah mobil SUV, kita bisa memakainya untuk melarikan diri.” Mircea melihat ke arah mobil SUV itu, “Tapi bagaimana caranya? Sedangkan di bawah sana penuh sesak oleh kawanan zombi.” Sati berpikir sejenak, “Kita akan menerobos lautan mayat hidup itu.” Mircea terkejut, “Itu sama saja dengan bunuh diri!” Sati cepat-cepat menjelaskan, “Tidak, tidak, lihat saja, zombi tidak dapat bergerak cepat-cepat. Kita hanya perlu mewaspadai zombi yang baru terinfeksi karena mereka dapat berlari. Kau harus menjagaku sementara aku akan mendekati mobil SUV itu.” Mircea mengerutkan dahi, “Kenapa harus aku?” Sati menjawabnya dengan nada yang sedikit mengejek, “Karena kau mempunyai pistol.” Mircea tidak dapat berkelit, “Baiklah, lebih baik kita mencobanya daripada kita mati dimakan mayat hidup.”

Mereka berdua bersiap-siap, Sati mengambil sebuah balok kayu sebagai senjata sedangkan Mircea mengechek sisa pelurunya, “Rencana ini harus berhasil, peluruku tinggal 4 butir lagi.” Sati hanya mengangguk dengan wajah yang tegang. Ketika pintu itu berhasil terbuka, kawanan mayat hidup menyeruak masuk, berjalan terseok-seok, perlahan-lahan namun pasti. Bau busuk menyerebak. Tangan mereka terangkat seakan hendak mencekik Sati dan Mircea dibarengi dengan suara erangan, eluhan, dan pekikkan yang mengerikan. Mircea berlari dan Sati mengikuitnya dari belakang. Mereka membelah kerumunan mayat hidup, menghindari setiap serangan yang dapat merubah mereka menjadi salah satu dari mayat hidup itu.

Sesampainya di halaman rumah sakit, kawanan mayat hidup itu secara serentak melihat ke arah datangnya Sati dan Mircea. Mereka berjalan bagai pasukan perang dari neraka, mendekati sati dan Mircea, “Sati, cepat!” Teriak Mircea. Sati berlari dengan sekuat tenaga sambil memukul mayat hidup yang menghalanginya, “Kepalanya, ingat, pukul kepalanya!” Seru Mircea yang berlari di belakangnya. Mayat-mayat hidup itu terus berdatangan dari segala arah dengan suara yang lagi-lagi terdengar begitu mengerikan. Ketika Sati sampai di mobil SUV, ia terkejut, karena di dalamnya ada seorang gadis kecil berbusana gaun putih yang dipenuhi oleh bercak darah. Sati membuka pintu mobil SUV itu. Tanpa ada peringatan, gadis kecil bergaun putih itu menyerang Sati. Menerkamnya serupa harimau yang kelaparan. Sati melawan sekuat tenaga. Air liur yang berbau busuk menetes dimukanya, “Mircea, tolong aku!”

Mircea menoleh, dilihatnya Sati tengah bergumul dengan gadis kecil itu. “Aku sedang sibuk. Pukul kepalannya sekeras mungkin!” Balas Mircea yang memang sedang sibuk menghalau mayat-mayat hidup yang mencoba mendekati mereka, “Aku tidak sanggup. Dia hanya seorang gadis kecil!” Teriak Sati kepayahan, “Ah, kau ini. Dia itu bukan manusia lagi. Pukul kepalanya!” Perintah Mircea, “Aku tidak bisa, aku tidak tega!” Lalu terdengar suara letusan dan kepala gadis kecil itu pecah tertembus peluru. Darah lagi-lagi membanjiri tubuh Sati, “Dia bukan manusia lagi, kau harus tega membunuhnya atau kau sendiri yang akan terbunuh atau menjadi mayat hidup!” Mircea cepat-cepat menarik tangannya ke dalam mobil, “Ayo cepat, kita harus segera pergi!” Sati mengemudikan mobil SUV berwarna hitam itu. Mereka menabrak kerumunan mayat hidup yang menghalangi laju mereka hingga mayat-mayat hidup itu terpental ke udara. Mereka meninggalkan Rumah Sakit menuju kegelapan malam yang tak berrembulan. Sekali-kali terdengar suara-suara yang mengerikan dari kejauhan. Semakin mengecil, mengecil lalu hening. 

Sati tampak masih tegang, sementara Mircea memikirkan sesuatu, “Sati, kita harus menghentikan wabah ini.” Sati menoleh, “Kita? Apa yang bisa kita lalukan? Lagi pula penyebab wabah ini adalah virus. Bagaimana caranya mematikan sebuah virus yang semi-abstrak itu?” Mircea menggaruk-garuk kepalanya, “Ah, Sati, aku akan berkata yang sebenarnya.” Wajah Mircea mendadak serius, “Aku ini sebenarnya adalah seorang pemburu vampir dari Ordo Serigala Malam.” Mendadak Sati tertawa dengan kerasnya, “Hahahaha, kau ini ada-ada saja. Mentang-mentang kau berasal dari Rumania lalu kau mengaku sebagai pemburu vampir. Mana ada vampir di dunia ini?” Mircea dengan nada yang sama seriusnya menjawab, “Beberapa jam yang lalu kau mungkin berpikir bawha zombi itu hanyalah omong kosong belaka, tapi sekarang, kau lihat sendirikan?” Sati terdiam seakan mengiyakan ucapan Mircea. 

Sati membelokan mobil ke arah kota, “Lalu apa hubungannya vampir dengan wabah ini?” Tanya Sati. Mircea menjelaskan dengan seksama, “Jelas ada. Wabah di Eropa itu bukan semata-mata virus sapi gila yang hinggap begitu saja menginfeksi manusia. Adalah si terkutuk Vlad Drakula bapak dari segala vampir di dunia ini yang dengan bantuan para ilmuannya telah berhasil memodifikasi virus itu sehingga dapat menginfeksi manusia dengan mudahnya.” Sati terbelangak, “Vlad Drakula, si Penyula! Dia, dia benar-benar ada? ” Mircea mengangguk, “Ya, kau pikir Bram Stroker hanya membual? Stroker telah melakukan risetnya cukup baik. Walaupun selebihnya hanya imajinasinya saja. Kami telah mengejar Vlad Drakula ke berbagai Negara, dan terakhir kami mendapatkan informasi bahwa dia berada di sini, di Negaramu. Kami pun segera terbang ke sini.” Sati menyela, “Kami, maksudmu kau tidak sendirian?” Mircea membalas, “Ya, tapi mereka semua yang ikut denganku telah mati atau telah menjadi mayat hidup. Kini, aku harus menuntaskan misi ini sendirian, demi kawan-kawanku yang gugur di medan tempur.” Sati hanya memandang Mircea tanpa berkata-kata menandakan penyesalannya. 

Mircea membuka tas dan menujukan peralatan pemburu vampir; beberapa pasak yang tajam, peluru perak, air suci, dan salib-salib kecil, serta bawang putih yang terlihat seperti untaian tasbih. Sati melihat dengan seksama, “Lalu, apa rencanamu?” Mircea menjawabnya dengan nada yang putus asa, “Aku tidak tahu. Yang jelas kita harus mencari dan membunuh Drakula, ia mahluk yang sangat berbahaya. Kau jangan samakan dia dengan Edward Cullen si vampir romantis difilm Twilight itu, karena Vlad Drakula jauh dari romantis, dia manusia berhati iblis dalam pengertian yang sesungguhnya. Dan membunuhnya adalah satu-satunya cara untuk menghentikan mewabahnya virus itu.” Sati membalasnya, “Ya, setan telah merasukinya sedemikian rupa.” Mircea tertawa mendengar jawaban Sati, “Kau ini sungguh tolol percaya dengan setan.” Ia melanjutkan, “Hey Sati, apakah kau pernah bertemu setan?” Sati menjawabnya dengan ketus, “Tentu saja Belum.” Mircea masih tertawa, “Lalu kenapa kau belum pernah bertemu setan?” Sati menjawabnya sambil memerhatikan jalan, “Aku tidak tahu. Memangnya kenapa?” Mircea tertawa semakin keras, “Hahahahaha… Karena setan itu tidak ada, bodoh!”

Sati sedikit tersinggung, “Lalu kalau bukan setan, ulah siapakah yang membuat Vlad Drakula menjadi seorang manusia berhati iblis? Setan pasti telah memengaruhinya!” Mircea memandang Sati sedikit meledek, “Tentu saja ulahnya sendiri. Kau ini seperti para ulama yang hobi menyalahkan setan atas segala kejahatan yang terjadi di dunia ini. Setan itu ada di dalam diri manusia. Setan itu adalah manusia yang hatinya dipenuhi oleh kedengkian. Pernahkah kau melihat setan yang tengah mencuri sesuatu di swalayan? Atau membunuh seseorang?” Sati mengerutkan dahi, “Tentu saja tidak pernah, karena setan itu tidak terlihat.” Mircea kembali tertawa, “Nah, kau sendiri mengakuinya. Setan itu tidak ada, yang ada hanyalah manusia berhati setan.”

Sati tertegun, lalu bertanya, “Tapi, kau bilang si Vlad Darkula penyebab mewabahnya virus zombi itu. Dia itu vampir kan? Penghisap darah yang hidup abadi. Pasti dia telah bersekutu dengan setan untuk keabadiannya itu. Bagaimana kau ini?” Mircea tertawa kecil, “Tidak, dia tidak bersekutu dengan setan manapun. Dia memeroleh keabadiannya melalui sebuah buku kuno peninggalan bangsa Mesir purba. Kau jangan tertipu oleh mitos-mitos murahan tentang vampir. Dia memang meminum darah sebagai salah satu syarat dari puluhan syarat untuk keabadiannya itu. Dan keabadianya itu hanya bisa terjadi karena ia membalsem dirinya sendiri, dan para pengikutnyalah yang telah membangkitnya kembali.” Sati menelan ludahnya sendiri sementara Mircea memandang langit kelam tak berrembulan seakan menikmati kegelapan yang mematikan. 

Sati bertanya, memecah lamunan Mircea, “Kalau begitu, dia memummyfikasi dirinya sendiri? Kau bercanda.” Mircea mengangguk, “Ya. Dan aku tidak bercanda. Kau pernah mendengar sesuatu tentang Ordo Scarabaeus? Mereka adalah keluarga kerajaan Mesir purba yang memummyfikasi diri mereka sendiri sebelum ajal menjemput. Dan hasilnya mereka dapat dihidupkan kembali. Kalau tidak percaya, aku bisa membawamu ke perpustakaan Ordo Serigala Malam di Rumania. Kau akan terkejut sepertihalnya aku saat pertama kali membacanya.” Sati mengaruk-garuk kepalanya, “Jadi si Vlad Drakula mengamalkan isi dari buku kuno Ordo Scarabaeus itu? Dan oleh karenanya dia memeroleh kehidupan yang abadi?” Mircea tersenyum puas, “Betul. Dan kini ia berusaha untuk menguasai dunia dengan bantuan dari pasukan mayat hidupnya yang mengerikan itu.”

Saat mobil yang membawa Sati dan Mircea hendak memasuki gerbang kota, tiba-tiba sesosok manusia muncul di hadapan mereka. Di belakang sosok itu, bayangan-bayangan hitam berkelebatan, berjalan terseok-seok sambil mengeluarkan suara-suara yang mengerikan. Dalam kegelapan malam, sosok itu terlihat bertubuh tinggi dan tegap. Ada sesuatu dalam gerakannya yang berbeda dengan sosok-sokok yang berjalan terseok-seok di belakangnya. Sosok itu terlihat semakin jelas oleh lampu mobil ketika ia berjalan mendekat. Rambutnya yang panjang bergelombang jatuh kebahunya yang kekar. Wajahnya pucat, bergaris keras, dan nampak kejam. Pipinya tirus, kedua matanya yang berkilauan terlihat besar di bawah alisnya yang tebal, hidungnya melangkung dan panjang. Bibirnya tertutup dan membentuk senyuman yang mengerikan; berwarna merah darah dan melengkung di bawah kumis yang kaku dan gelap. Sosok itu berbusana layaknya seorang bangsawan Eropa abad ke-15 yang anggun dan berkilauan dengan kerah hitam panjang yang menutupi lehernya. Sosok itu menyeringai, membuat Sati maupun Mircea bergidik. Sati berusaha menghentikan mobilnya sekuat tenaga agar tidak menabrak sosok itu, sementara Mircea terkejut bukan kepalang sambil berkata dengan kerasnya, “Itu Drakula!” 

Bandung, 10 Maret 2011.