Selasa, 21 Februari 2012

Catatan Yang Tidak Tuntas.


29 December 2011, Memang sulit untuk menjaga nalar dalam arus yang impulsif. Segalanya pasti berubah kecuali perubahan itu sendiri. Seperti kata Heraclitus: “Perubahan itu konstan; 'Panta rei, ouden menei' (semuanya mengalir, tidak ada yang diam).” Orang-orang yang kita jumpai pun dapat mengubah kita, terkadang perubahan itu begitu hebat, sehingga kita tidak sama lagi sesudahnya. Pun tidak selalu berdampak baik. Namun seperti halnya penolakan Iblis yang menyebabkan keterusirannya, keniscahyaan terkadang datang dari sesuatu hal yang penuh dengan nuansa kejadahan. Dan ya, seperti para filsuf Yunani yang mencoba memahami semesta dengan angka-angka yang elusif dan irasional, saya pun mencoba menalar segala sesuatu dengan kesadaran yang apa adanya tanpa subjektivitas yang kentara. Dan hal itu memang tidak semudah yang saya kira. Subjektivitas selalu melekat dan mengekang imajinasi dalam altar realitas yang menyebalkan. 

Saya bukan seorang atheis yang membunuh Tuhan dengan cara memutilasi kebenaranNya. Bukan pula seorang agnostik yang linglung dan serba bingung dalam pencarian realitas tertinggi melalui pemberhalaan terhadap keagungan akal yang berlebihan. Saya seorang theis, pun selalu memertanyakan motif kejumudan dalam beragama. Cap murtad melabeli kecintaan saya pada Tuhan karena penolakan saya terhadap pernyataan-pernyataan para ulama puritan yang sok tahu itu. Dan saya tidak peduli, benar-benar tidak peduli. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi kehidupan spiritual saya. Hanya Tuhan Yang Maha Adil.

Banyak hal yang terjadi di tahun 2011, baik dan buruk, canda tawa, dan airmata saling melengkapi seperti halnya ayat-ayat suci yang bertautan mengenapi makna illahiah dan membenarkan eksistensiNya. Memang benar hidup tidak semudah bacot Mario Teguh. Hidup ini, ujar salah satu kawan baik saya seperti hompimpah alaihumgambreh (what the hell?). Tentu saja pernyatanya itu konyol namun sangat benar. Ada saatnya kita berada di atas dengan dada yang membusung menandakan kemenangan yang hebat. Namun ada kalanya kita berada di bawah, membungkuk, meratap, dan menangis dengan khidmat sembari mengepalkan tangan berdoa memohon kelapangan atas kekalahan terbesar kita.  Berapa kali kita menang? Berapa kali kita kalah? Bukan jumlah yang harus kita telaah melainkan kesadaran diri sebagai seorang mahluk yang berakal yang harus kita jadikan sebagai tameng dalam menghadapi serangan fajar carut marutnya kehidupan di dunia ini.

Bagi saya pribadi kehidupan layaknya lukisan Memento Mori; selalu ada tengkorak yang menyeringai di samping kita. Saya suka lukisan itu dengan berbagai wujudnya. Lukisan yang mengingatkan seseorang akan kesia-siaan ambisi manusia. Bahwa pada akhirnya hanya kematian yang akan menjadi juaranya. “Kematian begitu dekat dengan kita, bukan karena keharusan biologis tapi karena rasa iri. Kehidupan begitu indah sehingga maut jatuh cinta padanya; cinta yang buta dan pencemburu sehingga menyambar apapun yang dapat diambilnya.” Sebuah narasi dalam Kisah Pi yang menakjubkan itu bertutur demikian, dan “Maut itu indah tetapi berbahaya; tanpanya, kehidupan tidak akan bernilai.” Tulis Naguib Mahfouz dalam Mirrors.  Namun maut atau kematian hanya lompatan kehidupan tanpa raga dalam perjalanan panjang untuk kembali pulang. Seperti apa yang Al-Hallaj pernah utarakan: “Bunuhlah aku, O sahabat setiaku. Karena membunuhku berarti menghidupkanku. Hidupku ada dalam matiku, dan matiku ada dalam hidupku.” Karena kematian, menurut Al-Hallaj adalah konteks dalam makna, simbol, dan preferensi kehadiran Yang Maha Esa yang meleburkan diri ke dalam ruang-ruang dialogis manusia yang terbatas. Sehingga dalam nuansa ini, kematian menjadi sesuatu hal yang sangat berarti dan sangat diharapkan karena dapat mendekatkan diri dengan labirin non-eksistensi yang ajali, Tuhan.

03 January 2012, Ternyata benar, saya harus menyambung tulisan ini selepas perayaan tahun baru yang penuh dengan kegemerlapan yang carut marut. Dimana euphoria terbingkai serasi dengan hedonisme yang lekat dengan nuansa sisa-sisa paganisme. Pun demikian, tahun baru adalah semacam ejakulasi—sesaat—yang menawarkan pertunjukan mesum; genitnya tarian kembang api yang menari-nari di atas langit yang perawan; beragam warna muncul dalam beragam bentuk dan beragam suara yang berbarengan saat waktu menunjukan pukul 00:00. Lalu sesaat hening, kemudian mulai melintas kenangan euphoria yang sama tahun sebelumnya. Saya menghabiskan perayaan tahun baru kali ini bersama beberapa orang kawan baik sambil menenggak beer dan memamabiak aneka ria cemilan. Berbincang tidak tentu arah, mulai dari ketakziman para sufi dan kejumudan para ulama puritan, bacot sompral para pemimpin ormas yang bisanya hanya menyulut peperangan, hingga dialog imajiner bersama para filsuf kenamaan, dan tentu saja berandai-andai mendapatkan kesempatan untuk dapat duel dengan super hero lokal macam AA Boxer. Semuanya terangkum dalam tawa yang mengalir tiada henti serupa air bah di zaman nabi Nuh. Hingga mentari terlalu cepat menyapa kami, dan kami pun bergegas pulang, menggaspol kendaraan kami; membelah pagi hari kota Bandung yang semarak dengan sampah pasca perayaan tahun baru untuk secepatnya merebahkan tubuh dan menutup mata.    

“Terbuat dari apakah kenangan?” Tulis Seno Gumira Aji Darma dalam salah satu cerpennya. Dari pertemuan dan perpisahan, dari canda tawa dan air mata tulis saya kemudian. Kenangan, bagaimana pun bentuknya adalah sesuatu hal yang menunjukan bahwa kita manusia yang memiliki sense sebagai mahluk hidup utama yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Baik. Harus saya akui, beberapa hari ini saya dalam keadaan tidak baik sangat tidak baik. Keadaan yang menyebalkan bukan kepalang. Namun apa daya, saya harus menjalaninya, menerimanya dengan keluh kesah yang entah kenapa terucap begitu saja, mungkin karena saya hanya manusia yang terlalu biasa-biasa saja sehingga wajar saja jika saya mengeluhkan keadaan saya. Sebetulnya saya enggan untuk berkeluh kesah, haram hukumnya. Namun sialnya saya dipaksa untuk mengeluh hingga pada akhirnya saya menyadari dan berusaha menjalaninya se-enjoy mungkin, dan hari ini saya merasa mulai membaik. Dan semoga saja terus membaik.  Amen.

Saya teringat sebuah kisah tentang Sri Krishna sewaktu dia kecil. Konon, setiap malam tiba, Krishna mengundang para gadis di desanya untuk menari besamanya di dalam hutan. Mereka mengelilingi api unggun yang berkobar-kobar dan melahirkan siluet magis yang menari dengan lincahnya mengikuti irama serulingnya. Malam semakin larut, para gadis terus menari, menari, dan menari dengan jungjungan mereka yang melipat gandakan dirinya. Sehingga—konon—setiap satu gadis menari bersama satu orang Sri Krishna. Namun, ketika seorang gadis mulai menjadi posesif, menganggap Sri Krishna hanya untuk dirinya sendiri, sang avatar Wisnu itu pun menghilang dan hanya meninggalkan bara api sebagai jejaknya. Sebuah analogi sarat makna kehidupan, di mana keserakahan manusia hanya sia-sia adanya. Cinta terhadap materi akan musnah namun cinta terhadap Tuhan, seperti apa yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad adalah keabadian itu sendiri; keabadian yang penuh dengan kedamaian dan keindahaan yang sesungguhnya. Pada abad 551 BC, Confucius berkata hal yang sama: “Heaven means to be one with God.” Ya, surga berarti bersatu kembali denganNya. Bukankah Al-Quran menegaskan bahwa segala sesuatu akan kembali kepadaNya? "Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk)." Al-Mu'min 40:3

04 January 2012, Malam yang sama dengan malam sebelumnya. Malam yang sedikit banyak memberikan pelepasan yang sementara untuk terbangun di siang hari dan, kemudian, mulai bekerja hingga larut malam kembali. Namun terpujilah Tuhan yang telah menciptakan malam. Malam hari adalah keniscahyaan yang saya gunakan untuk sekedar menulis beberapa kalimat, menghisap beberapa batang rokok, dan meminun segelas kopi hitam yang nikmat tiada terkira. Sebetulnya, malam tidak pernah benar-benar sunyi, apa lagi hening. Selalu ada suara yang menemani, entah itu suara detak jarum jam atau pun suara jantung kita sendiri yang berdenyut dan menandakan bahwa kita masih hidup dan berada dalam dunia materi yang profan. Kesunyian sebetulnya adalah penegasian akan suara-suara yang sepenuhnya kita control dan kita inginkan, seperti saat kita sedang berdoa dengan khidmat. Kita sebetulnya sedang  menegasi suara hingga ke level yang paling rendah sehingga terciptalah keheningan. Keheningan terkadang menenangkan namun terkadang terasa begitu menyesakan.  

Tak banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang pekerjaan saya, kecuali headset yang saya gunakan dalam bekerja rasanya seperti tali gantungan yang bila tidak berhati-hati dalam memakainya akan mencekik leher saya sendiri hingga terputus. Terputus? Ok, ini agak berlebihan, namun begitulah adanya. Tapi ya sudahlah, saya cukup senang bekerja di sana, bertemu dengan orang-orang hebat macam Ilmi yang dengan sifat Sunda-nya yang someah namun cadas bila dikonfrontrasikan dengan segala bentuk penindasan terhadap hak-hak kami sebagai buruh. Lalu dengan Bang Golan si orang super konyol yang berdarah Batak tulen namun mengaku sebagai orang Bandung dan mendukung Persib Bandung dengan jiwa dan raganya, setulus hati sedalam lautan, dan sebesar Stadion Jalak Harupat itu sendiri. J

Saya beruntung memiliki kawan-kawan yang baik hati tiada terkira, pun dengan bacot mereka yang amit-amit gaspolnya melebihi moto GP 500CC—Saya yakin mereka sarapan dengan knalpot motor GP. Kami, saya dan mereka memang tidak punya apa-apa selain dari bacot sesumbar dan lagak bak owner pemilik bank nasional, namun itu semua adalah cara kami untuk menertawakan kehidupan yang tidak pernah baik-baik saja. Menjalani segala kesukaran dengan leluconan sehingga terasa ringan seperti kapas yang bertebaran di luar angkasa sana. Dan terbukti, cara tersebut lebih ampuh dari pada mendengarkan kuliah-kuliah ekslusif Mario Teguh dan khotbah para ulama selebritis yang bisanya hanya menjajakan pahala dan menawarkan surga jejadian berbau amis. Jujur saja, saya menaruh respect kepada kawan-kawan saya yang berlidah pahit itu. Kejujuran mereka dan kesetia kawanan mereka mengajarkan banyak hal yang tidak saya peroleh sebelumnya.